
Madeline dan Pierre duduk di kursi yang telah di sediakan, terlihat wajah Dokter yang ada di ruangan Tuan Spencer terlihat tegang.
"Ada apa ini, Direktur Spencer?" tanya Madeline. Dari sekian banyak Dokter di ruangan, hanya Madeline saja yang berani bertanya.
Hal ini yang membuat Tuan Spencer sangat menyukai Dokter terbaik sekaligus menantunya itu.
"Kalian tentu tahu, jika aku sudah memanggil kalian semua kesini pastinya akan ada hal penting yang akan aku bicarakan disini," ucap Tuan Spencer menatap satu persatu Dokter hebat yang bekerja di rumah sakit miliknya.
Pierre yang pada dasarnya bukanlah orang yang suka bertele-tele langsung menyela,"Langsung pada intinya saja, Direktur Spencer. Jika ini berkaitan dengan nyawa pasien, tak perlu lagi berbasa-basi," desak Pierre yang memahami arah pembicaraan Tuan Spencer.
Tuan spencer menatap ke arah putranya,"Kau benar Dokter Pierre," sahutnya.
"Kita kedatangan pasien rujukan dari rumah sakit lain, pasien tersebut harus segera menjalani operasi pengangkatan lobus yang di serang tumor," jelas Tuan spencer sambil menjelaskan lebih rinci letak tumor pasien tersebut berada.
Operasi pengangkatan Lobus atau biasa di sebut Lobectomy, prosedur operasi yang banyak di lakukan untuk penderita kanker paru-paru non sel kecil.
Madeline yang belum pernah terjun tentu saja bertanya, meski ia sering kali berkutat di meja operasi. Namun menangani operasi untuk penderita kanker paru-paru adalah hal yang pertama baginya.
"Siapa yang akan memimpin operasi ini?" tanya Madeline.
Tuan Spencer menatap ke arah Madeline,"Apa kau ingin mencoba terjun, sekaligus menjadi pengalaman pertama untukmu?" tawar Tuan Spencer.
Madeline tentu menolak dengan segera,"Untuk urusan nyawa aku takkan mau untuk coba-coba Tuan Spencer, mungkin kau bisa mengandalkan Dokter lain dari padaku," tolak Madeline.
Seperti itulah Madeline, ia takkan pernah mencoba-coba hal yang berkaitan dengan nyawa. Bagaimana saat operasi gagal? Bukankah itu lebih membuatnya merasa bersalah.
Tuan Spencer mengangguk, tentu ia tahu etos kerja dari menantunya. Yang mengedepankan keahlian di bidangnya, daripada menjadikan pasien kelinci percobaan.
"Siapa yang pernah menangani operasi kanker paru-paru sebelumnya?" tanya Madeline. Tak mungkin bukan, rumah sakit sebesar ini tidak pernah menangani operasi untuk penderita kanker paru-paru.
Apalagi, Dokter di departemen onkologi sudah dua tahun ini tidak ada pembaruan.
"Dokter Pierre dan Dokter Theo," jawab Dokter Arsen.
Madeline mengangguk,"Kenapa tidak kita tawarkan saja pada ahlinya, mereka lebih berpengalaman. Tentu saja lebih mengerti," jelas Madeline.
__ADS_1
Tuan Spencer mengangguk, menatap ke arah Dokter Pierre dan juga Dokter Theo.
"Bagaimana?" tanya Tuan Spencer.
Kedua Dokter muda itu saling bertatapan, seakan meminta pendapat.
"Jika untuk masalah nyawa, harus siap!" seru Dokter Pierre.
Semua yang ada di ruangan mengangguk setuju, hingga pada akhirnya direktur Spencer dapat mengambil keputusan.
"Baiklah, kita lakukan hari ini juga." putusnya.
"Dan Dokter Madeline, kau harus ikut ke dalam sekaligus mempelajarinya," titah Direktur Spencer.
Madeline mengangguk,"Baik," jawabnya.
Saat mereka ingin segera bersiap, seorang Dokter umum dengan name tag Noora berlari ke arah ruangan direktur Spencer, Dokter Noora mendobrak pintu ruangan Tuan Spencer.
Tak masalah setelah ini ia akan mendapat masalah atau tidak, yang jelas ia harus memberikan kabar darurat ini.
Mendengar hal itu, membuat Madeline dan Pierre langsung berlari keluar ruangan. Begitupun Dokter yang lain serta Direktur Spencer yang mengekori di belakang mereka.
Untungnya, Lift sedang tidak di gunakan. Hingga akhirnya Madeline langsung segera masuk, diikuti Pierre.
"Segera, Pierre!" ucap Madeline dengan tak sabaran.
Pierre langsung berlari memasuki lift, menuju 2 lantai di bawah ruangan tuan Spencer. Di saat lift kosong, justru di lorong yang menuju ruangan pasien kini penuh dengan kerumunan orang hingga membuatnya sulit untuk lewat.
"Kenapa ramai seperti ini?" gumam Madeline yang terlihat terburu-buru.
Pierre langsung menarik tangan Madeline, menerobos kerumunan orang. Tak memikirkan jika orang-orang tengah mencaci maki dirinya.
Hingga keduanya sampai di ruangan, namun apa keduanya lihat cukup membuat keduanya lemas.
Pasien yang akan mereka tangani ternyata sudah menghembuskan napas terakhirnya, terlihat tubuhnya yang telah di tutupi dengan kain putih.
__ADS_1
Madeline sampai tak mampu lagi menopang tubuhnya, hingga wanita itu bersandar di tembok.
"Dokter Pierre... Kita terlambat," lirih Madeline dengan air mata menggenangi pelupuk matanya.
Pierrr juga tak kalah lemas, pria itu berusaha menghampiri pasien yang akan ia tangani itu. Namun, takdir telah lebih dulu menyapanya. Hingga membuat pasien itu berpulang sebelum mendapatkan penangan.
Isak tangis dari keluarga pasien terdengar di ruangan itu, begitupun Madeline yang kini mulai menangis menutupi wajahnya.
Ia seperti merasa De Javu, kejadian lama seakan terulang kembali. Bedanya kali ini bukan ia yang mengalami, namun pasiennya.
Seluruh Dokter dari departemen onkologi datang memasuki ruangan, begitupun dengan Tuan Spencer. Madeline ingin rasanya menyalahkan Dokter yang begitu lambat menangani pasien yang harusnya mendapat penanganan, namun Madeline masih harus menjaga etikanya sebagai seorang Dokter.
Para Dokter disana mengucapkan belasungkawa kepada keluarga pasien, lalu Tuan Spencer menugaskan beberapa perawat untuk segera membawa pasien ke ruang jenazah.
"Bawa pasien langsung ke ruang jenazah," suruh Tuan Spencer pada perawat laki-laki yang ia panggilkan tadi.
Perawat tersebut mengangguk, kedua orang perawat itu membawa bangsal yang membawa pasien itu ke ruang Jenazah, diikuti dengan keluarga mereka.
Kini tinggalah para Dokter dari departemen onkologi beserta Tuan Spencer. Madeline langsung berusaha bangkit, menatap satu persatu Dokter yang ada di ruangan.
"Jika pasien sudah dalam kondisi se-darurat ini, kenapa tidak dari awal langsung mendapat penanganan. Apa harus ada korban dulu, agar kalian sadar bahwa nyawa seseorang adalah hal yang berharga," pekik Madeline.
Melihat Madeline yang di kuasai emosi membuat Pierre mendekat,"Tenangkan dirimu, semua ini benar-benar di luar dugaan kita," sahut Pierre.
"Di luar dugaan? Begitu katamu? Kau tahu? Jika memang pasien itu membutuhkan penanganan kenapa harus di tunda, kenapa tidak di diskusikan saat pasien itu datang agar segera mendapat penanganan," ucap Madeline yang berapi-api.
Dokter Theo mendekati Madeline,"Dokter Madeline, semua tidak seperti itu. Saat semalam datang, pasien terlihat baik-baik saja. Ketika menjelang siang, kondisi pasien mengalami penurunan," jelas Dokter Theo yang mengungkap dengan jujur.
Sungguh! Mereka semua takkan tahu akan terjadi seperti ini.
"Aku dan Dokter Arsen yang berjaga semalam, kami memeriksa kondisi pasien itu mulai dari kondisi vital sampai yang lainnya," imbuh Dokter Theo.
Madeline yang masih di kuasai emosi seakan menulikan telinganya.
"Apa kalian tahu rasanya kehilangan orang tersayang karena telat penanganan? Sakit! Sangat sakit! Aku sudah mengalami hal itu, aku kehilangan ibuku karena Dokter mengabaikan kondisinya yang saat itu tengah kritis. Dan karena hal itu pula, aku mendedikasikan diriku untuk menjadi seorang Dokter. Agar apa? Agar tidak seorang pun merasakan sakitnya jadi aku, yaitu kehilangan orang tersayang," raung Madeline yang kini luruh ke lantai. Menangis sambil menutup wajahnya.
__ADS_1
Entah kenapa, rasanya sangat sakit sekali bagi Madeline. Ia gagal, gagal menyelamatkan pasien itu hingga membuat keluarga pasien merasakan duka.