My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 17 | Persyaratan


__ADS_3

Madeline menganggukan kepala seraya menjawab,"Tentu, aku waktu itu tak sengaja melihatmu tengah menatap mantan kekasihmu yang tengah tertawa bahagia bersama suaminya." jawabnya.


Pierre langsung meringis, ia seperti orang yang tengah ketahuan melihat wanita lain di hadapan istrinya.


"Apa kau cemburu?"


Madeline menggelengkan kepala,"Sejauh ini tidak, bukankah kau bilang sendiri, jika pernikahan ini hanya demi menyelamatkan harga dirimu di hadapan nyonya Ludwig? Lantas, mengapa kau bertanya soal perasaan?" tanyanya.


"Apa jangan-jangan kau memiliki perasaan padaku," tebak Madeline hingga membuat Pierre menganga lebar.


Madeline begitu percaya diri mengatakan hal itu. Apakah wanita itu tak tahu? Jika saat ini Pierre tengah berusaha mati-matian untuk membuat Yara kembali padanya. Lalu, setelah Pierre mendapatkan itu semua, artinya hubungan dengan Madeline juga berakhir.


"Aku di beri sepuluh wanita sepertimu juga takkan tertarik, wanita apa sepertimu. Hanya berkutat di meja bedah, menikah pun juga karena di jebak olehku," cibir Pierre. Ucapannya yang begitu pedas mampu membuat Madeline meradang.


"Pegang kata-katamu, tuan muda Spencer." Madeline memperingati Pierre agar tidak sembarangan berucap.


Pierre dengan sombongnya membalas ucapan Madeline,"Lelaki sejati akan selalu memegang ucapannya,"


Madeline mengacungkan dua jempol ke arah Pierre,"Bagus! Jangan sampai kau menelan kata-katamu di masa mendatang."


"Itu semua takkan mungkin. Justru aku yang ingin berbicara hal itu padamu,"


"Jangan bilang kau akan jatuh cinta padaku." sambung Pierre sambil bersedekap.


Madeline tidak bisa menyangkal hal itu.Bukan karena ia telah jatuh hati pada Pierre, sebab seiring kebersamaan mereka pasti nantinya akan ada timbul rasa nyaman. Dan Madeline gak bisa dengan percaya dirinya, meyakinkan diri jika tak jatuh hati dengan Pierre.


Lagipula siapa yang tak terpesona dengan Pierre. Dokter muda yang merupakan pewaris rumah sakit, tampan dan berkharisma. Meski kerap kali mulutnya mencibir Madeline terus menerus.


"Biar waktu yang menjawab itu semua, aku tidak sepercaya diri itu untuk mendeklarasikan diri dengan mengatakan tidak tertarik padamu. Hati manusia bagaikan air di daun talas, selalu berubah-ubah." ucap Madeline dengan panjang lebar, lalu wanita itu pergi meninggalkan kantin.

__ADS_1


Pierre yang melihat Madeline pergi begitu saja langsung bergegas mengejar.


"Hei... tunggu," ucapnya.


"Kebiasaan sekali, orang mengajaknya berbicara, justru di tinggal begitu saja. Emang dia pikir aku ini pajangan." gerutu Pierre yang kini mengikuti Madeline.


Pierre mengurungkan niatnya untuk melihat Yara. Mengingat, dirinya di pergoki oleh Madeline yang tak lain adalah istrinya. Entah mengapa, saat dirinya tahu di pergoki oleh Madeline membuatnya enggan untuk melakukan hal itu lagi. Padahal, Madeline tidak melarang ataupun marah dengan yang Pierre lakukan. Hanya saja, dirinya lagi gak bersemangat melakukan hal ini. Ditambah, nanti malam dirinya harus ikut di acara makan malam yang di adakan oleh keluarga besar Madeline.


"Sambil menunggu wanita polos itu selesai operasi, lebih baik aku mengunjungi ruangan Dad saja." putus Pierre saat melihat Madeline dengan cepat langsung memasuki ruang bedah, langkah kakinya berjalan menuju lift. menuju lantai dimana ruangan tuan Spencer berada.


Dan disinilah Pierre berdiri, di depan ruangan tuan Spencer yang menjabat sebagai direktur sekaligus pemilik rumah sakit swasta tempat Madeline berkarir. Pierre mengetuk pintu terlebih dahulu, hingga tuan Spencer memintanya untuk masuk.


"Ada apa?" tanya Tuan Spencer yang tengah sibuk dengan beberapa dokumen yang harus ia tandatangani.


Pierre melangkahkan kakinya, mendekati meja kerja tuan Spencer dan mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan tuan Spencer.


"Apa kau sedang sibuk, Dad?" tanya Pierre. Jika sedang tidak ada orang lain, Pierre memanggilnya dengan sebutan Dad. Berbeda jika sedang berada di luar ruangan yang berisi rekan sejawatnya. Pierre akan memanggil pria itu dengan sebutan direktur Spencer.


"Seperti yang kau lihat, apa yang membawamu kesini?" tanya Tuan Spencer.


Pierre menarik napas panjang. Memikirkan rencana untuk membicarakan hal yang menurutnya begitu sensitif, tetapi jika ia tak berbicara sekarang, pasti Daddy-nya takkan memberikan kepastian.


"Kapan pengangkatanku sebagai direktur dilakukan Dad?" tanya Pierre dengan to the point.


Mendengar ucapan putranya membuat dokumen yang akan di tandatangani olehnya di tutup kembali.


"Kenapa kau menanyakan hal ini? Tak seperti biasanya saja." jawab Tuan Spencer dengan penuh keheranan. Sering kali Tuan Spencer meminta putranya untuk menempati tahtanya sebagai direktur sekaligus pemilik rumah sakit ini, hanya saja Pierre menolak dengan seribu alasan yang ia miliki.


Pierre terdiam. Apa ia harus jujur? jujur tentang dirinya yang ingin mengejar cinta Yara kembali padanya.

__ADS_1


"Aku hanya mencoba menagih apa yang seharusnya menjadi bagianku, Dad. Apa kau masih diam saja, saat Alois mengatakan pada keluarga Ludwig bahwa ia adalah pemilik rumah sakit ini?" ucap Pierre.


Selain Pierre memantau Yara, Pria itu mencari tahu tentang apa yang membuat keluarga Ludwig menerima Alois Jordan menjadi menantu mereka.


Hasilnya begitu mengejutkan. Nyatanya, Alois mengatakan pada keluarga Ludwig bahwa ia adalah pewaris selanjutnya dari rumah sakit yang di rintis Daddy-nya. Marah sudah pasti, hanya saja dirinya tak mampu membuktikan untuk saat ini.


Pierre harus memiliki banyak bukti untuk bisa ia tunjukkan pada tuan Spencer.


Berbeda dengan Tuan Spencer, pria paruh baya itu hanya memasang wajah biasa saja. seakan-akan informasi yang diberitahu oleh Pierre adalah kebohongan untuk menjatuhkan pamannya yang telah merebut mantan kekasihnya dan kini menjadi istri dari pamannya.


"Jika kau menginginkan posisi itu untuk mengejar Yara, Dad takkan berikan posisi itu padamu." putus Tuan Spencer dengan final.


Kini giliran Pierre yang terkejut,"Apa maksudmu, Dad?"


Tuan Spencer berdecak kesal pada putranya,"Apa karena di tinggal menikah oleh mantan kekasihmu, membuat otakmu tak berfungsi dengan baik, Pierre?" tanyanya.


Pierre merasa tersudut dengan perkataan tajam dari Daddy-nya. Ia tak menampik segala perkataan tuan Spencer yang benar adanya, hanya saja itu benar-benar menunjukkan jika dirinya tengah diremehkan oleh orang tuanya sendiri.


"Apa maksudmu, Dad?" tanya Pierre yang pura-pura tak tahu.


Pria paruh baya itu berdiri dari kursi kebesarannya, bersedekap di hadapan putranya.


"Dad rasa kau tahu apa maksud ucapan Dad tadi. Kau sudah memiliki seorang istri, apa kurangnya dia?"


Pierre langsung berbicara,"Tetapi aku tidak ingin dia, Dad. Andai saat itu kau mempercepat pengangkatanku sebagai direktur disini. Pasti aku takkan melakukan hal ini pada Madeline," ucapnya yang mulai terpancing dengan ucapan tuan Spencer.


"Lalu kau ingin menjalani hidup dengan seorang wanita yang telah berkhianat di belakangmu, begitu?" ujar Tuan spencer.


"Apa maksudmu, Dad?" tanya Pierre yang penasaran.

__ADS_1


Tuan Spencer langsung menggeleng kepala,"Bukan apa-apa! Jika kau ingin menempati tahta itu, Dad memiliki syarat yang harus kau lakukan." pintanya.


"Apa?" tanya Pierre dengan segera


__ADS_2