My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 49 | Penjelasan panjang dari Madeline


__ADS_3

Pierre tak bisa berkata-kata saat Madeline mengungkapkan hal itu. Apa yang di ucapkan Madeline benar adanya, pria itu pasti jadi sasaran empuk keluarga Ludwig.


Di tambah, Nyonya Ludwig begitu membenci dirinya karena tidak setara dengan Alois. Dan benar saja, saat Madeline dan Pierre berdebat di depan ruangan Yara. Nyonya Ludwig menghampirinya dengan langkah lebar.


Tangan wanita paruh baya itu bersiap melayangkan tamparan ke wajah Pierre.


"Ternyata selama ini kau yang telah mengusik hidup putriku, huh! Kau yang menyebabkan putriku harus kehilangan calon anaknya." Nyonya Ludwig meluapkan kekesalannya pada Pierre.


Mendengar tuduhan tanpa dasar itu tentu membuat Pierre menyanggah itu semua. Berniat menolong, justru membuat dirinya di salahkan atas kejadian ini.


"Aku tak melakukan apapun, aku hanya menolongnya." sanggah Pierre.


Namun segala kebencian Nyonya Ludwig pada Pierre yang begitu mendalam, membuat wanita itu seakan menutup telinga. Tak ingin mendengar penjelasan Pierre.


"Kau bilang tak melakukan apapun? Putriku seperti ini karena pertemuan denganmu dan terlihat pertengkaran dengan suaminya." jelas Nyonya Ludwig.


Dugaan Madeline benar adanya, Pierre jadi akan jadi pihak yang di salahkan. Melihat hal itu, membuat Madeline pun membuka suara.


"Sepertinya anda salah paham, Nyonya. Apa yang dikatakan oleh suamiku benar adanya." Madeline akhirnya angkat suara untuk membela Pierre.


Nyonya Ludwig menatap nyalang ke arah Madeline, tatapan yang seakan tak terima dengan penjelasan wanita itu.


"Diam! Jangan membelanya!" seru Nyonya Ludwig.

__ADS_1


Tapi bukan Madeline namanya jika ia diam saja mendengar seruan Nyonya Ludwig yang terdengar begitu menyeramkan di telinganya.


"Aku membela apa yang menurutku benar. Apa kau pikir aku akan diam saja saat melihat suamiku di salahkan atas kesalahan yang tidak ia lakukan? Tidak! Aku takkan tinggal diam."


"Harusnya kau berterimakasih kepada suamiku, karena jika bukan karena suamiku. Mungkin putrimu akan mati karena kehabisan darah." Madeline mulai tak bisa mengontrol emosinya. Madeline akui, ini bukanlah hal yang baik. Mengingat lawan bicaranya kali ini adalah wanita paruh baya. Namun, Madeline juga tak tinggal diam jika sebuah kebenaran di injak-injak oleh wanita arogan itu.


Mendengar ucapan Madeline membuat Nyonya Ludwig mati kutu, keberanian yang sempat ia miliki perlahan surut bersamaan dengan penjelasan yang Madeline berikan.


"Harusnya kau ajarkan pada putrimu, agar tidak mengikuti suami orang."


"Sudah punya suami, masih saja mencari tahu tentang suami orang lain." ketus Madeline.


"Apa jangan-jangan itu semua ajaranmu?" tuduh Madeline.


Mendengar ucapan Madeline membuat Nyonya Ludwig meradang, begitupun dengan Pierre yang sangat terkejut.


"Madeline...,"


Tapi wanita itu hanya acuh, lagipula siapa suruh berhadapan dengan dirinya.


"Kenapa? Kau marah? Tak percaya? Apa perlu aku berikan bukti CCTV bahwa putrimu mengikuti Pierre, menghubungi suamiku untuk bertemu dengannya?" Madeline terus mencecar Nyonya Ludwig.


"Ku beritahu padamu, Nyonya Ludwig! Harusnya kau mencurigai menantu kebanggaanmu itu. Karena perbuatan kasarnya, membuat kau kehilangan cucunya."

__ADS_1


"Dan juga, jangan lupa kau tanyakan darimana hasil kekayaan pria itu. Apakah hasil mengakui milik orang lain atau hasil nipu? Ups... Keceplosan." Tantang Madeline.


Benar saja! Mendengar ucapan Madeline raut wajah wanita tua itu berubah menjadi pias. Ia tak menyangka jika Alois yang begitu ia banggakan ternyata tega melakukan ini padanya.


"Darimana kau tahu hal itu?" tanyanya dengan suara pelan.


Madeline menyunggingkan bibirnya,"Kau lupa aku anak siapa, huh?" jawabnya dengan sombong.


Tidak! Nyonya Ludwig tidak lupa. Ia tahu Madeline adalah anak orang ternama di negaranya yang begitu di segani.


Nyonya Ludwig mengangguk,"Ya, aku tahu."


"Bagus, lebih baik kau masuk dan tengoklah putrimu. Kau dengan penjelasan darinya sebelum aku yang akan membeberkan lebih banyak lagi di sini." suruh Madeline dengan nada sedikit mengancam.


Kali ini Nyonya Ludwig salah pilih lawan, wanita paruh baya itu di permalukan oleh wanita seumuran putrinya.


Tak ingin menambah masalah, wanita paruh baya itu memasuki ruangan putrinya. Dan kini, tinggalah Madeline dan Pierre yang sama-sama terdiam.


Lalu, Madeline menatap Pierre yang sedang menatapnya.


"Lain kali, angkat suaramu! Jangan karena merasa wanita itu paling tua darimu, justru kita harus memakluminya. Bukan seperti itu cara kita menghargai seseorang."


"Jika salah, kau bisa luruskan. Setiap permasalahan yang di alami. Mengalah bukanlah solusi yang tepat agar cepat selesai." ucapnya yang kemudian berlalu meninggalkan Pierre yang terdiam.

__ADS_1


Wanita itu kehilangan selera kali ini, ia lebih memilih untuk kembali ke apartment dan mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah.


Sedangkan Pierre, pria itu hanya terdiam. Ucapan Madeline mampu menembus di hati yang terdalam. Pria itu sadar, ia tak lebih dari seorang pria pengecut saat ini.


__ADS_2