My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 41 | Penjelasan Yara


__ADS_3

Pierre sedang di lema saat ini, pikirannya tengah terbagi kali ini. Tentang Madeline, Yara dan juga rapat antar departemen.


"Ya tuhan! Kenapa harus serumit ini," desah Pierre dengan frustasi.


Pierre sedang kalut saat ini, hingga membuatnya langsung menuju ruangan tuan Spencer untuk diskusi dengan kepala departemen disana.


Pierre yang saat ini mewakili departemen onkologi tampak tak fokus, pikirannya terus berkelana ke Yara dan Madeline.


Tuan spencer yang melihat hal itu langsung menegur putranya.


"Dokter Pierre, saya harap anda bisa fokus mengikuti rapat ini," pinta Tuan Spencer dengan suara tegas.


Pierre tersadar dari lamunannya, pria itu menatap ke arah sekeliling yang kini menatap ke arahnya.


"Maaf, aku kurang beristirahat," jawabnya dengan asal.


"Kesampingkan urusan pribadimu, jangan kau campur adukkan dengan pekerjaanmu," balas Tuan Spencer.


Pierre mengangguk,"Maaf! Hal seperti itu takkan ku ulangi lagi,"


Rapat pun kembali di mulai, hanya saja setelah teguran yang di berikan tuan Spencer mampu membuatnya terfokus saat ini. Hingga tak terasa, dua jam lamanya para kepala departemen membahas seputar penanganan pasien serta beberapa fasilitas yang nantinya akan di perbarui atau lebih tepatnya peremajaan.


Pierre pun keluar dari ruangan tuan Spencer, pria itu langsung melangkahkan kakinya menuju cafe yang ada di sebrang rumah sakit. Di saat pikirannya tengah kalut, Pierre selalu menenangkan diri di cafe sambil menikmati capuccino yang biasa ia pesan.


Pria itu menyandarkan kepalanya di sofa yang ada di cafe. Entah apa maksud dan tujuan Yara menghubunginya dan mengajaknya bertemu. Yang jelas, dirinya saat ini benar-benar tak tahu.


"Kenapa harus rumit seperti ini?" gumam Pierre sambil menyesap capuccino miliknya dengan perlahan.


Jika kebanyakan pria yang tengah kalut selalu mencari pelarian dengan nikotin, hal itu tidak dilakukan oleh Pierre.


Sebagai seorang Dokter, Pierre tak pernah sekalipun menghisap nikotin. Karena ia tahu, jika nikotin berbahaya bagi kesehatannya.

__ADS_1


Pierre terus menerus memikirkan Madeline yang begitu kecewa kepadanya karena tidak terbuka. Namun jika Pierre terbuka apa mungkin Madeline dapat menerima itu semua? Mengingat hal ini berkaitan dengan mantan kekasihnya. Tentu hal itu membuat Pierre bisa di cap tidak dapat menghargai perasaan Madeline.


"Kenapa masalah hidupku selalu berkaitan dengan percintaan, oh god! Ini benar-benar lelucon," Pierre terus bergumam seorang diri hingga tak sadar jika seorang wanita berjalan mendekat ke arahnya.


"Pierre," panggil seorang wanita dengan suara lembut itu, ia duduk berhadapan dengan Pierre saat ini.


Pierre mendongak, menatap ke arah wanita itu,"Yara...," balas Pierre yang terkejut melihat kedatangan wanita itu. Pasalnya, sejak perdebatan dengan Madeline. Pria itu sama sekali tak membuka ponselnya.


Yara memahami keterkejutan mantan kekasihnya. Ia tahu pasti pria itu terkejut melihat dirinya yang tiba-tiba ada di hadapan Pierre.


"Tak perlu kaget, sejak kau sampai di rumah sakit aku memang mengikutimu," jawab Yara dengan santai.


mendengar ucapan Yara, membuat Pierre menatap dengan intens wanita itu. Seakan dirinya membutuhkan penjelasan.


"Apa maksudmu!" serunya yang masih terkejut.


Yara mengulas segaris senyum dari wajahnya yang full makeup. Jika di bandingkan dengan Madeline, memang Yara sangat cantik. Hanya saja, wanita itu selalu full makeup. Berbeda dengan Madeline yang terlihat natural tanpa riasan di wajahnya. Hanya lipstik saja yang ia kenakan agar tidak terlihat pucat.


"Aku hari ini ada pemeriksaan kandungan, jadi berhubung ada yang ingin aku bicarakan padamu. Jadi aku menunggumu sejak tadi," jelas Yara.


Pierre mengerti, ia pikir wanita itu sengaja menunggunya. Apa jadinya jika wanita itu benar-benar menunggunya. Ia sungguh malas jika terus berdebat dengan Alois.


"Ada apa kau menghampiriku?" tanya Pierre dengan to the point. Masalahnya dengan Madeline saja belum selesai, di tambah kehadiran Yara. Semakin menambah masalah bagi Pierre.


Yara menatap wajah mantan kekasihnya yang telah ia sia-siakan itu. Terlihat raut kecewa yang tercetak jelas di wajah tampannya.


"Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu, Pierre. Sungguh! Ini semua bukan inginku, aku terpaksa melakukan ini semua," ungkap Yara dengan jelas. Ia berharap Pierre mau mendengarkan penjelasannya.


Pierre hanya tersenyum miring,"Haruskah aku percaya dengan ucapanmu, Nyonya Jordan?" cibirnya.


Yara menganggukan kepala, ia harus bisa membuat Pierre yakin dengan ucapannya.

__ADS_1


"Tentu, kau harus percaya padaku, Pierre. Aku melakukan ini karena...," jawab Yara yang langsung di sela oleh Yara.


"Karena apa, huh?" tanyanya dengan sinis.


"Karena aku harus menuruti ucapan Mommyku yang harus menikah dengan Alois. Sungguh aku tak ingin semua ini terjadi," jawab Yara. Terdengar tak masuk akal memang, hanya saja Pierre membiarkan wanita itu menjelaskan semuanya.


Pierre kembali tersenyum miring, netranya menatap sinis ke arah Yara.


"Penjelasan mu berbanding terbalik dengan apa yang aku lihat saat itu. Kau nyatanya begitu bahagia bersanding dengan Alois yang tak lain adalah pamanku, hanya karena aku tidak se-kaya dirinya, kau dengan seenaknya bermain di belakangku," jelas Pierre yang masih terlihat sangat kecewa.


Yara menggelengkan kepalanya,"Pierre... Semua itu tidak seperti yang kau lihat," elakknya.


"Satu tahun lalu, tepatnya saat aku tengah menghadiri jamuan rekan bisnis Daddyku, aku di jebak sehingga aku menghabiskan malam bersama dengan Alois. Sialnya, saat itu Alois merekam semua kejadian itu. Alois terus mengancamku jika tak menuruti keinginannya, maka rekaman itu akan di sebar luaskan. Hingga akhirnya aku harus menuruti segala ucapannya,"


"Aku menjadi wanitanya, hingga aku dinyatakan hamil anak Alois. Tentu orang tuaku yang mendengarnya hal itu langsung mendesaknya untuk menikahiku. Sungguh! Ini semua bukan inginku," jelasnya.


Pierre tentu tak langsung percaya, semua yang di ucapkan oleh Yara seperti angin surga baginya.


"Lalu, jika hal itu terjadi kenapa kau tak minta tolong padaku, huh?" cecar Pierre.


Yara menundukkan kepala,"Aku tak berani mengungkapkan hal itu padamu, aku merasa malu karena hal itu." jawab Yara yang kini mulai menitikkan air mata.


Pierre yang melihatnya pun langsung memberikan sapu tangan miliknya, membiarkan wanita itu mengusap air mata yang membasahi pipi.


"Lalu apalagi?" tanyanya.


"Aku masih mencintaimu saat ini," jawabnya dengan pelan.


Persetan dengan cinta! Jika memang cinta harusnya wanita itu bisa terbuka padanya, mustahil ia takkan menolongnya. Toh, jika seperti itu sama saja Yara di manfaatkan oleh Alois yang terkenal maniac.


"Buang rasa cintamu ini, aku dan kau sudah memiliki jalan berbeda. Aku dan kau sama-sama memiliki pasangan," ujar Pierre.

__ADS_1


Yara menggelengkan kepala,"Sayangnya aku tak bisa membuang rasa itu, kau masih selalu di hatiku, Pierre." jawabnya dengan jujur.


__ADS_2