
"Bukan, untuk tembok yang ada di belakangmu," sungut Pierre.
Madeline langsung memutar bola matanya dengan jengah.
"Aku serius," ucap Madeline.
Pierre dengan malas menjawab, operasi yang dilakukan bersama Madeline begitu menguras tenaga dan waktu. Ditambah dengan menghadapi Madeline yang benar-benar polos.
"Ya untukmu,"
"Jangan bilang kau tak pernah diperlakukan seperti ini dengan pria?" tanya Pierre dengan penasaran.
Dengan wajah polosnya, Madeline menganggukan kepala.
"Memang, bukankah kau yang bilang sendiri padaku? Kalau hidupku terlalu kuno," jawab Madeline dengan santai.
"Kau lebih cocok hidup di jaman dahulu, jaman dimana perjodohan merajalela." terang Pierre dengan tanpa sadar.
Madeline menatap tajam ke arah Pierre, ucapan Pierre benar-benar membuatnya tak habis pikir. Apa pria itu tak sadar? Jika apa yang ia ucapkan baru saja, secara tak langsung menyinggung dirinya sendiri.
"Tak perlu hidup di jaman dahulu, buktinya aja sekarang kita menikah karena desakan dan paksaan darimu." sungut Madeline sambil melahap kue yang berada di tangan Pierre. Selain menguras emosi, berdebat dengan Pierre nyatanya mampu membuat Madeline menjadi lapar.
Pierre bungkam. Balasan yang di lontarkan oleh Madeline mampu menyadarkan dirinya dari kesalahan yang ia lakukan. Tetapi bukan Pierre namanya, jika tak mampu membalikkan keadaan dengan pernyataannya yang penuh kepalsuan.
"Itu adalah bagian dari resiko, kalau kau terlalu mudah untuk aku bodohi." Pierre langsung melahap habis kue yang ada di tangannya.
Madeline langsung mencebikkan bibirnya, wajahnya langsung muram.
"Berbicara denganmu hanya membuatku naik darah, lebih baik aku pergi dari sini. Sebelum aku nantinya jadi hipertensi karenamu." ucap Madeline yang berlalu meninggalkan Pierre seorang diri.
Pria itu acuh, seakan tak merasa bersalah setelah apa yang dilakukan olehnya pada istrinya. Pierre terus melanjutkan kegiatan mengisi tenaga dengan makanan yang ia beli, mengingat hari ini pria itu memiliki jadwal yang begitu padat.
Jika orang berpikir menjadi seorang Pierre Cardin Spencer adalah sebuah keberuntungan, itu semua adalah salah besar. Ia melalui semua ini dengan penuh kerja keras dan air mata, didikan keras dari tuan Spencer membuat Pierre menjadi orang yang begitu berambisi dan tak ingin terkalahkan.
Setelah menyelesaikan kegiatan makan-nya, Pierre langsung berlalu menuju ruangan kerja miliknya. Pria itu harus bersiap untuk melakukan pekerjaan selanjutnya, sebelum di sibukkan dengan kegiatan lain.
__ADS_1
...****************...
Hari sudah mulai berganti pagi, waktunya bagi Madeline dan Pierre selesai akan tugasnya. Kerja di jam malam, membuat keduanya harus pulang pagi.
"Ayo pulang." ajak Pierre yang kini berdiri di ambang pintu ruangan Madeline.
"Tak perlu, aku bisa pulang sendiri," tolak Madeline. Wanita itu masih kesal dengan kejadian semalam, lagipula siapa yang tidak kesal? Pierre benar-benar ingin menang sendiri dan semena-mena pada dirinya.
Pierre menatap Madeline dengan penasaran. Bukan tanpa sebab, Madeline berangkat bekerja bersama dirinya, menggunakan mobil miliknya. Lantas, jika Madeline menolaknya. Wanita itu ingin menggunakan apa untuk pulang?
"Dengan apa?" tanya Pierre.
"Kendaraan umum," jawabnya tanpa menoleh ke arah Pierre yang tengah menatapnya.
Mendengar jawaban Madeline, membuat kedua netra Pierre membola. Bisa kena amukan dari para sepupunya Madeline, jika ia membiarkan wanita itu menaiki kendaraan umum.
Dengan cepat, Pierre langsung menarik tangan Madeline untuk mengikutinya.
"Jangan membuatku dalam masalah karena keputusanmu, Madeline." ucap Pierre yang terus berjalan menuju parkiran mobil.
Madeline langsung menghempas kasar tangan Pierre saat keduanya berada di parkiran seraya berkata,"Berhenti menyudutkan diriku, tuan muda Spencer. Seharusnya aku lah yang menyalahkan dirimu, kau yang membawaku dalam masalah yang kau ciptakan."
"Aku memang bodoh dalam hal percintaan dan perjodohan. Namun aku tidak ingin kau terus menyalahkan diriku atas semua ini,"
"Jika kau terus menerus menyalahkan diriku, aku akan mengadukan semuanya pada sepupuku. Kau tentu tahu, bukan? Sepupuku yang bernama Piero seperti apa orangnya." ancam Madeline. Sebenarnya ia bukanlah orang yang suka mengancam, hanya saja kelakuan Pierre yang terus menyalahkan dirinya membuat wanita itu terdistraksi untuk melakukan hal itu.
Pierre menegang. Ia tentu tahu siapa Piero, menatapnya sebentar saja sudah membuat dirinya merasa terintimidasi. Bagaimana jika berurusan dengan Madeline, sepupunya yang begitu di sayangi oleh anggota keluarga Eduardo? Mungkin Pierre bisa tinggal nama saja.
Hingga mau tak mau dirinya harus meminta maaf pada Madeline. Toh, memang dari awal adalah kesalahan Pierre. Memang sudah sepatutnya Pierre melakukan hal ini.
"Maaf," ucapnya.
Alis Madeline saling bertautan, menatap heran ke arah suaminya. Hanya satu kata saja? benar-benar kelewatan Pierre.
"Maaf? Untuk apa?" tanya Madeline dengan pura-pura.
__ADS_1
"Maaf karena selalu menyalahkan dirimu, dan membawamu dalam pusaran masalahku." jelas Pierre sambil memegang tengkuk lehernya.
Madeline yang mendengarnya langsung menjawab,"Ya,"
Jawaban Madeline membuat Pierre melongo, hanya dua huruf, satu kata. Itulah jawaban yang Madeline ucapkan.
"Hanya itu?" Pierre bertanya.
Madeline hanya mengangguk,"Iya, memang aku harus kasih jawaban apa padamu. Apa aku perlu menjawab dengan pidato?" tanya Madeline dengan santai. Namun sungguh, saat ini wanita itu lagi menahan tawa.
Kini giliran Pierre yang menggelengkan kepala,"Tidak perlu, kau sudah membuang waktuku selama sepuluh menit. Harusnya saat ini kita sudah di tengah perjalanan, bukan berbicara seperti ini padamu." ucapnya.
Madeline tak peduli, wanita itu langsung masuk ke dalam mobil Pierre. Membiarkan pria itu terus menggerutu.
"Teruslah seperti itu sampai malam, bila perlu kau menginap saja di parkiran." ucap Madeline dari dalam mobil.
Ucapan Madeline mampu membuat Pierre beranjak masuk ke dalam mobil, mengendarai mobil dengan suasana hati yang di landa kekesalan pada wanita yang menyandang status sebagai istrinya.
Sepanjang perjalanan pulang, Madeline terus memejamkan mata. Rasa kantuk yang tak tertahankan, membuat wanita itu langsung terlelap.
Berbeda dengan Pierre, pria itu terus mengendarai mobil sambil menatap ke arah sekitar. Hingga netranya menatap seseorang yang begitu ia kenali.
"Yara," ucapnya dengan sangat lirih.
Hatinya bagai teriris sembilu melihat wanitanya kini bersama dengan pria yang biasa ia panggil Uncle. Tak ada raut tertekan atau tidak bahagia yang tercetak di wajahnya, melihat hal itu membuat Pierre yakin, jika Yara telah melupakan dirinya sebagai pria yang pernah mengisi hidupnya.
"Ucapanmu berbanding terbalik dengan penjelasan yang kau berikan padaku saat kau mengakhiri hubungan kita, Yara," ucapnya yang kini merasa kalut.
Hingga mobil yang di kendarai oleh Pierre memasuki blok apartment yang menjadi tempat tinggal dirinya dan Madeline. Pierre menoleh, menatap Madelin yang terlihat kelelahan.
Jadwal operasi yang begitu padat, membuat wanita itu harus mengorbankan waktu istirahatnya. Tak jarang juga, Pierre sering memergoki Madeline yang terlelap di lantai ruangan karena kelelahan.
Pierre mengambil ponsel dari sakunya, memotret wajah Madeline yang terlihat polos namun begitu menggemaskan bagi siapa saja yang melihat.
"Kau benar-benar polos, Madeline. Sampai-sampai kau harus terlibat dalam rencana yang ku buat," ucapnya sambil menggendong tubuh Madeline ala bridal style ke unit apartment miliknya.
__ADS_1