My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 20 | Perdebatan di mansion Eduardo


__ADS_3

Pierre merasa tatapan Raiden ke arah Madeline adalah tatapan penuh makna, berbeda dengan tatapan layaknya keluarga. Melihat hal itu, membuat Pierre langsung berbicara.


"Kalian tak perlu khawatir, aku akan selalu mengingatkan Madeline untuk menjaga kesehatan. Bila perlu, aku akan mengurangi jadwal operasi yang akan di pimpin oleh Madeline," ucap Pierre hingga membuat Madeline menoleh ke arahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Madeline pada Pierre.


Pierre memang mengetahui jadwal operasi Madeline, tepatnya ia sendirilah yang menyusun jadwal operasi istrinya itu. Pria itu pikir Madeline akan mengeluh, nyatanya sampai saat ini tidak. Wanita itu menjalaninya dengan senang hati, bahkan pernah sesekali Pierre melihat Madeline terlelap di sudut ruangan operasi karena saking lelahnya.


Melihat hal itu membentuk rasa bersalah dalam diri Pierre, entah apa yang membuat Pierre begitu tega dengan Madeline yang tak pernah mengusik hidupnya.


"Aku akan meminta Direktur untuk mengatur ulang jadwal operasi yang akan di pimpin olehmu, biarkan Dokter junior yang unjuk kebolehan," jelas Pierre.


Mendengar hal itu tentu membuat Madeline menolak, pasalnya nyawa manusia bukanlah hal yang bagus untuk di coba-coba. Dan manusia bukanlah kelinci percobaan.


"Aku tidak setuju, ini menyangkut tentang nyawa seseorang." tolak Madeline.


"Di departemen onkologi masih banyak dokter yang berkompeten selain dirimu. Berilah mereka kesempatan untuk ini, Madeline. Kau bisa lihat sendiri kemampuan Dokter Theo dan Arsen. Mereka juga tak jauh hebat darimu, ia bisa menggantikanmu." jelas Pierre.


Ruangan tengah yang semula menjadi tempat bincang, kini berubah menjadi tempat berdebat Madeline dan juga Pierre.


"Ucapan Pierre mungkin ada benarnya, Maddy. Kau tidak bisa untuk terus memforsir dirimu dengan dalih menyelamatkan nyawa seseorang. Apa kau yakin kau akan sehat selalu? Bagaimana jika di masa mendatang kau justru jatuh sakit dan tak bisa menyelamatkan nyawa orang lagi?" Mommy Audy mendekati keponakannya, memberikan masukan untuk Madeline. Ia akui, niat Madeline sudah baik. Hanya saja, ia tak ingin nantinya Madeline merasa terbebani.


Di tambah sekarang Madeline adalah seorang istri, ia memiliki suami yang harus ia layani. Tak mungkin bukan, jika ke depannya nanti Madeline akan memiliki keturunan. Pasti waktu Madeline akan sempit jika harus terus seperti ini.


Ucapan Mommy Audy benar adanya, Madeline belum berpikir sampai sejauh itu. Dirinya masih di kuasai oleh egonya yang ingin terus berguna bagi banyak orang.


Potongan kejadian di masa kecil, membuat sosok Madeline menjadi orang yang lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.


"Maaf, aku tidak berpikir sejauh itu," ujar Madeline sambil menundukkan kepala karena rasa bersalah.


Mommy Audy mengulas senyum, begitupun dengan Raiden yang kini berjalan menghampiri Madeline dan merangkul wanita itu.


"Mulai sekarang, belajarlah untuk membagi waktu. Kau memiliki suami dan akan membangun sebuah keluarga kecil, bukan?" ucap Raiden.


Keluarga? darimananya keluarga, sedangkan pria itu aja masih terus melihat ke masa lalu.


"Aku mengerti, terima kasih atas masukannya." ucap Madeline sambil memeluk Mommy Audy.


Seperti ini yang sering dilakukan Madeline saat dirinya tengah berkumpul di ruang tengah. Bercengkrama bersama keluarga, sering menjadi bahan ejekan para sepupunya, dan selalu berlindung di balik Mommy Audy. Alhasil, kedua sepupunya yang akan kena omelan Mommy Audy.


"Teruslah belajar sayang, jangan pernah lelah," Mommy Audy selalu memberikan semangat untuk Madeline. Hidup tanpa sosok ibu di sampingnya, membuat Madeline begitu bergantung dengan aunty-nya.


Madeline mengangguk, mengulas senyum manisnya.

__ADS_1


"Selalu Aunty," jawabnya.


Setelah pembicaraan di ruang tengah, Madeline dan Pierre memutuskan untuk kembali pulang ke apartement. Mobil yang di kendarai oleh Pierre terus melaju di sepanjang jalan Los Angeles.


Tak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya, meski tentang pekerjaan sekalipun. Madeline yang tubuhnya terasa lelah, memutuskan untuk memejamkan diri.


Besok adalah hari panjang untuknya. Ia akan selalu mengingat nasihat keluarganya untuk terus menghargai suaminya.


Tak terasa, kini Pierre mulai memarkirkan mobilnya di blok apartment miliknya. Pria itu menoleh ke sebelahnya. Terlihat Madeline yang tengah terlelap.


Perasaan bersalah dalam diri Pierre semakin besar, karena dirinya, Madeline harus di sibukkan dengan berbagai jadwal bedah pasien.


"Kau terlihat kelelahan, namun kau juga tidak menunjukkan protes," ucap Pierre dengan pelan. Khawatir jika Madeline mendengar ucapannya.


"Padahal kau tahu sendiri, jika jadwal operasi yang sesungguhnya akulah yang mengaturnya." sambung Pierre.


Madeline terlelap di bawah suasana teraman, lampu mobil yang di biarkan oleh Pierre tidak menyala. Membuat Pierre tidak bisa melihat dengan jelas wajah Madeline, hingga pria itu mendekatkan wajahnya.


Cantik!


Madeline terlihat begitu cantik malam ini, Pierre tanpa pikir panjang langsung mengeluarkan ponsel dari saku pakaian miliknya, memotret Madeline yang tengah terlelap.


"Di balik tingkahmu yang polos, ternyata kau memiliki keluarga yang hangat," ucap Pierre dengan jujur, meskipun ia memiliki keluarga yang lengkap. Semua itu tentu berbeda dengan keluarganya, keluarganya terlalu menekan dirinya untuk menjadi apa yang mereka mau. Termasuk dalam hal pasangan.


Keluarga Spencer paling tak suka jika Pierre masih berhubungan Yara, karena mereka tahu sejak masih bersama Pierre wanita itu kerap kali bergonta-ganti pasangan demi uang.


Karena hal itu jugalah keluarga Spencer menentang keras hubungan Pierre dan Yara, namun Pierre tak tahu akan hal itu. Karena bisa di pastikan, Pierre takkan percaya.


"Menunggunya sampai terbangun, itu adalah hal tak mungkin. Bagaimana jika ia terbangun esok pagi, bisa-bisa aku tertidur di dalam mobil," pikir Pierre.


Lalu pria itu membawa Madeline ala bridal style menuju unit apartment miliknya.


"Tubuhnya kecil, namun berat sekali," keluhnya.


"Makan jarang, kerjaan hanya minum kopi. Apa jangan-jangan...,"


"Apa jangan-jangan kau kebanyak dosa," Sepanjang jalan Pierre terus menggerutu hingga sampai di apartment miliknya, pria itu membawa Madeline ke dalam kamar.


Dengan telaten, Pierre melepaskan sepatu yang di kenakan oleh Madeline. Pria itu menyelimuti tubuh berat Madeline.


"Kukira orang kurus sepertimu badannya enteng, nyatanya tidak! Tubuhmu berat dengan dosa," lagi-lagi Pierre terus menggerutu, seperti orang tak ikhlas.


"Sejak tadi aku menggerutu tentangnya terus, jika dia banyak dosa. Tentu aku lebih banyak lagi, karena perbuatanku," pikir Pierre.

__ADS_1


"Sudahlah! Lebih baik aku fokus pelajari untuk terapi besok saja," Pierre keluar dari kamar yang di tempati oleh Madeline, memasuki ruang kerja miliknya, ruangan yang ia sulap jadi kamar pribadinya.


...****************...


Siang ini, Madeline dan Pierre dapat panggilan mendadak dari departemen onkologi.


"Ada apa, Pierre?" tanya Madeline dengan panik. Pasalnya, Pierre mengetuk pintunya dengan kencang.


"Kita harus segera ke rumah sakit! Ada panggilan dari departemen, Darurat."


Jika mendengar kata darurat, membuat Madeline tak banyak tanya. Wanita itu langsung bergegas masuk ke dalam kamar, membawa serta jaket sab tas miliknya.


"Ayo, Pierre," ajak Madeline.


Pierre dan Madeline langsung keluar dari unit apartment, menaiki mobil yang di kendarai oleh Pierre menuju rumah sakit, hingga Madeline lebih dulu turun dari mobil. Diikuti oleh Pierre di belakangnya. Keduanya berjalan menyusuri lorong, menaiki lift rumah sakit agar cepat sampai ke ruangan onkologi.


Madeline memasuki departemen onkologi bersama Pierre.


"Ada apa ini?" tanya Madeline yang langsung menaruh tas miliknya. Karena panik, membuatnya langsung menuju departmen onkologi.


"Pasien yang berada di ruang 5 kondisinya semakin kritis," ungkap Dokter Theo.


Madeline dan Pierre yang baru saja datang langsung terkejut, pasalnya kabar ini begitu mengejutkan.


"Kritis? Apa maksudmu?" tanya Madeline.


"Siapa yang mimpin jalannya operasi pasien di ruang 5?" tanya Pierre. Pasalnya, jika Dirinya atau Madeline yang melakukan bedah pada pasien tersebut. Keduanya pasti akan selalu stand by dan takkan kejadian seperti ini.


"Dokter Archie." tunjuk Dokter Arsen yang menatap tajam ke arah dokter muda dengan rambut blonde itu.


Madeline dan Pierre menoleh ke arah Dokter muda itu. Dokter Archie adalah dokter baru, bahkan terbilang sangat baru jika di bandingkan oleh Dokter Arsen dan Dokter theo.


Madeline berjalan mendekati Dokter muda yang terlihat angkuh itu, begitupun dengan Pierre, pria itu mengikuti langkah Madeline.


"Kenapa kau lakukan ini tanpa diskusi terlebih dahulu, kan tahu betul kondisi pasien di ruang 5," geram Madeline.


Dokter archie menatap sinis ke arah Madeline, dokter itu begitu benci dengan Madeline. Karena Dokter wanita itu selalu mendapat pujian dan sanjungan dari rekan sejawatnya.


"Karena aku mampu dan bisa, kenapa tidak?" jawaban yang di berikan Dokter Archie mampu memantik api amarah Pierre.


"Bisa? Kalau kau bisa takkan terjadi hal seperti ini, Kau lihat! Apa pasien yang ada di tanganmu selamat?" tanya Pierre dengan emosi.


"Tidak!"

__ADS_1


"Lalu kenapa kau lakukan itu jika tahu akan seperti ini akhirnya, ini menyangkut nyawa! Kita tidak bisa mengambil keputusan sepihak, di departemen ini banyak orang berpengalaman,"


"Andai saja saat ini pasien itu telat atau salah di tangani, apa kau bisa mempertanggung jawabkan semuanya?" tanya Madeline yang begitu emosi dengan Dokter Archie.


__ADS_2