My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 42 | DI Pergoki Madeline


__ADS_3

Pierre menggelengkan kepala, menatap ke arah Yara dengan heran. Ia tak bisa percaya begitu saja, mengingat secara tak langsung wanita itu telah berselingkuh di belakangnya. Dan yang lebih mengejutkan, Yara berselingkuh dengan paman-nya sendiri.


"Apa kata-katamu bisa aku percaya?" tanya Pierre sambil menyesap minuman miliknya.


Yara mengangguk, ia harus bisa meyakinkan Pierre. Sebenarnya apa yang Yara cerita ada benarnya, setiap kali wanita itu berusaha terlepas dari belenggu yang di ciptakan Alois. Pria itu selalu mengancam akan menyebar rekaman saat mereka menghabiskan waktu bersama.


Dan karena ancaman itu pula, Yara mau tak mau harus berselingkuh dari Pierre. Hingga membuatnya tak sadar jika saat ini tengah mengandung anak dari pria itu.


Nyonya Ludwig yang sejak awal memang tak menyukai Pierre, mendengar tentang putrinya yang hamil karena Alois itu langsung meminta pria itu untuk menikahi Yara. Menurutnya, Alois adalah orang terpandang di negaranya. Selain itu, pria itu juga memiliki beberapa persen saham di rumah sakit tempat Pierre bekerja.


Tanpa Nyonya Ludwig ketahui, jika Alois tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Pierre yang merupakan penerus dari rumah sakit itu.


"Aku berani bersumpah untuk itu, Pierre," ujar Yara.

__ADS_1


Pierre berkali-kali mengusap tengkuknya, pria itu seperti tengah gelisah saat ini. Di sisi lain dirinya tengah membuka hati dan menjalani peran sebagai suami untuk Madeline.


Namun, kembalinya Yara seakan menghancurkan rencana yang telah Pierre rancang. Jujur saja, ia benar-benar tak harus mengatakan apa pada wanita itu.


"Kita sudah memiliki pasangan masing-masing, jalani hidupmu. Aku tak pernah sama sekali mengusik hidupmu," kata Pierre.


"Aku memiliki istri, dan kau juga memiliki suami. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu, rasanya tak etis jika kau menemuiku di belakang Alois," imbuh Pierre yang secara halus meminta Yara untuk pergi dari hadapannya.


Yara menggelengkan kepala dengan lemah, menatap nanar ke arah Pierre,"Apa aku tak memiliki perasaan padaku, huh. Sudah banyak tahun yang kita lalui bersama, apa secepat itu kau melupakan aku karena kehadiran wanita itu." Yara terus mencecar Pierre.


"Aku akui, aku memang salah karena sudah berselingkuh di belakangmu. Namun satu yang harus kau tahu, Pierre. Sampai saat ini hanya kau yang ada di hatiku," Yara sampai harus mengungkapkan hal itu di tempat umum. Ia yakin, pembicaraan dengan Pierre cukup menganggu


para pengunjung cafe.

__ADS_1


Namun semua itu apa boleh buat, Yara harus bisa membawa Pierre kembali padanya. Rasa tak rela melihat Pierre bahagia dengan wanita lain kecuali dirinya.


Posisi Pierre benar-benar tidak mengenakan kali ini, Yara yang terus berusaha meyakinkan dirinya. Di tambah dengan janji yang ia buat bersama Madeline. Tentu bukan hal mudah memutuskan itu semua, ia yang membawa Madeline dalam hidupnya. Rasanya ia seperti manusia paling kejam jika ingin memiliki keduanya.


"Apa kau tak percaya jika aku benar-benar masih mencintaimu, huh? Baiklah, untuk membuktikan semua itu. Saat ini juga aku akan menceraikan Alois," putus Yara. Hanya untuk demi meyakinkan Pierre, wanita itu rela melepaskan suami yang begitu di banggakan oleh keluarga Ludwig.


Kedua netra Pierre sampai membola, raut wajahnya begitu terkejut saat mendengar ucapan Yara.


"Apa kau gila, Yara?" tanya Pierre yang benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Yara.


Yara menggelengkan kepala, wanita itu beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Pierre.


"Lebih tepatnya begitu, itu semua karenamu, Pierre." jawabnya dengan lirih. Terselip rasa penyesalan karena telah meninggalkan Pierre yang begitu tulus mencintainya demi seorang pria seperti Alois. Meski semua itu karena sebuah kesalahan, namun dirinya juga tak bisa sepenuhnya menerima tentang berakhirnya hubungan keduanya.

__ADS_1


Yara terus berjalan menghampiri Pierre hingga posisi keduanya terlihat intim, hingga membuatnya tak sadar jika Madeline datang menghampiri keduanya.


"Seperti ada yang sedang mengulang masa lalu," celetuk Madeline dengan wajah santai.


__ADS_2