
Terhitung sudah satu bulan Madeline dan Pierre berstatus sebagai suami-istri. Selama satu bulan, hubungan Madeline dan Pierre begitu dingin. Sering berdebat untuk sesuatu hal yang tak penting.
Seperti saat ini, Madeline tampak tengah terburu-buru karena ada janji dengan pasien kanker yang ia tangani.
"Jangan lama, Pierre. Aku ada janji dengan pasien," teriak Madeline dari luar.
Pierre yang masih berada di dalam kamar terlihat begitu enggan untuk bangkit dari ranjang. Baru rasanya ia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Kini pria itu harus di sibukkan dengan realita.
"Iya," teriak Pierre dari dalam kamar.
Madeline begitu fokus dengan ponsel miliknya, bertukar kabar dengan sahabatnya yang berada di Milan. Jika Madeline di sibukkan dengan pasien, hal itu justru berbanding terbalik dengan Pierre. pria itu masih terus melanjutkan langkah kakinya untuk terus melihat wanitanya, yaitu Yara yang terlihat bahagia.
Tentu saja Madeline tak tahu hal itu, bagi Pierre itu bukan ranah wanita itu. Jadi tak perlu Pierre bercerita.
Pierre keluar dengan mengenakan pakaian rapi dan tak lupa dengan jas putih kebanggaannya itu. Karena jas putih itu pula, nama Pierre Cardin Spencer begitu banyak di kenal orang. Dikenal sebagai dokter hebat dan pastinya tampan.
"Ayo." ucap Pierre dengan malas.
Madeline langsung memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas, berjalan di belakang pria itu. Selama keduanya menikah, tak jarang Pierre makan di apartment tentunya itu semua buatan tangan Madeline. Hanya saja tidak untuk pagi ini, keduanya tampak tengah bersiap-siap.
"Siang ini ada rapat dengan para departemen onkologi, untuk membahas tentang pasien darurat saat ini." ucap Pierre sambil memutar kemudi mobilnya, melajukan hingga sampai ke rumah sakit.
Madeline mengangguk, ia tentu tak lupa dengan rapat siang ini. Beberapa minggu lalu, rumah sakit tempat Madeline dan Pierre kedatangan pasien yang menurutnya begitu sulit untuk ia tangani. Bukan tanpa sebab, karena pasien kali ini adalah seorang wanita hamil yang mengalami tumor di otaknya.
Tentu saja hal ini begitu sulit, mengingat ada nyawa lain di tubuh wanita itu yang harus di selamatkan juga. Maka dari itu, hal ini menjadi pembahasan pada rapat di departemen onkologi kali ini.
"Setelah aku melakukan terapi pada pasienku, aku akan segera ke departemen," jawab Madeline.
Setelah sampai di rumah sakit, keduanya sibuk dengan tanggung jawabnya masing-masing. Pierre yang sibuk dengan pasiennya, begitupun dengan Madeline. Dokter cantik itu tengah melakukan kemoterapi pada pasien.
****************
Madeline keluar dari ruangan menuju departemen onkologi yang ada di lantai atas. Langkah kakinya terus berjalan hingga sampai di lantai atas.
"Kenapa di saat darurat seperti ini lift harus rusak," rutuk Madeline yang kelelahan karena harus menaiki tangga.
Hingga wanita itu sampai di ruangan, semua mata tertuju padanya. Begitupun dengan Pierre, pria itu menatap Madeline yang terlihat kelelahan.
__ADS_1
"Maaf, aku terlambat. Aku ada pasien yang sedang melakukan kemoterapi." ungkap Madeline sambil membungkukkan badan tanda meminta maaf.
Semua yang ada di ruangan mengerti. Bagi mereka, menangani pasien adalah hal yang harus di utamakan.
"Silakan duduk, rapat akan segera di mulai," ucap Dokter Theo yang merupakan senior Madeline.
Madeline duduk di kursi yang telah di sediakan. Seperti yang sudah di bicarakan dengan Pierre sebelumnya. Pembahasan kali ini terkait dengan pasien wanita yang sedang hamil tua.
"Langkah apa yang harus kita lakukan?" tanya Dokter Theo.
Madeline tampak bersuara,"Siapa yang menangani pasien ini?" tanyanya.
"Dokter Pierre," jawab Dokter Theo.
Madeline menoleh ke arah Pierre,"Bagaimana dengan kondisi terakhirnya, Dokter Pierre?" tanya Madeline untuk memperkirakan langkah apa yang harus ia ambil kali ini.
Pierre membuka file yang berisi riwayat kesehatan tentang pasien yang saat ini ia bahas.
"Terakhir kali aku periksa. Detak jantung janin semakin melemah, diperparah dengan mual muntah yang menyerangnya." jelas Pierre sambil menutup file kesehatan pasien wanita yang bernama Alcie.
"Bagaimana dengan tidurnya?" tanya Madeline.
Semua Dokter yang berada di ruangan hanya terdiam. Mereka membiarkan Dokter senior untuk menganalisis langkah apa yang harus di ambil, mereka harus menyelematkan dua nyawa, dan tentu ini semua terlalu beresiko.
"Langkah apa yang harus kita ambil?" tanya Dokter Arsen yang sejak tadi terdiam.
"Berapa usia kandungan wanita itu?" tanya Dokter theo pada Pierre.
"35 minggu," jawabnya dengan singkat.
Semua terdiam, jalan yang harus mereka lakukan begitu rumit kali ini. Ini tentang 2 nyawa, yang artinya harus ada tindakan untuk menyelamatkan keduanya.
Di saat semua terdiam, Pierre menatap ke arah Madeline. Ia yakin Madeline memiliki keputusan yang sama untuk menyelamatkan pasien kali ini.
"Bagaimana?" tanya Pierre pada Madeline. Meski Pierre adalah seniornya Madeline, namun pria itu tidak terlalu sering menangani operasi. Berbeda dengan Madeline, wanita itu memang mendedikasikan dirinya di bedah onkologi.
Madeline tampak berpikir, pulpen yang berada di tangan pun berputar-putar. Hingga akhirnya ia menemukan solusi.
__ADS_1
"Tak ada pilihan lain, kita harus segera melakukan operasi gabungan dengan secepatnya. Detak jantung janin semakin lemah, hal itu semakin di perparah dengan lemahnya kondisi pasien," ungkap Madeline menatap satu persatu dokter yang ada di ruangan.
"Pasien harus segera mendapatkan penanganan, kita bisa mulai dari sekarang sebelum memperparah kondisinya," sambung Madeline.
"Apa ini semua tidak terlalu beresiko?" tanya Dokter Arsen yang khawatir akan gagal.
Madeline mengulas senyum menatap ke arah rekan sejawatnya.
"Ini juga pengalaman pertama untukku. Hanya itu saja jalan yang kita punya untuk menyelamatkan keduanya. Ingat! Ada dua nyawa, bukan hanya satu," ingat Madeline.
Ucapan Dokter Madeline benar adanya dan Semua dokter yang berada di ruangan mengangguk setuju dengan usul dari Dokter Madeline.
"Dokter Pierre, aku minta tolong untuk segera konfirmasikan pada departemen kebidanan untuk segera bersiap. Waktu kita tak lama, aku akan segera bersiap ke ruang operasi." ucap Madeline yang langsung di balas anggukan oleh Pierre.
Madeline langsung meninggalkan ruangan dengan segera, langkah kakinya langsung berjalan menuju ke ruangan operasi.
Tak lama, Pierre pun langsung menghubungi departemen kebidanan untuk segera bersiap ke ruang operasi. Setelah semua siap, Semua dokter yang berada di ruang departemen langsung bersiap. Dan beberapa dari mereka bersiap untuk ke ruangan pasien untuk membawanya ke ruang operasi.
Dengan menggunakan alat pelindung diri. Beberapa dokter dari departemen onkologi langsung membawa pasien ke dalam ruang operasi, di ikuti dengan anggota keluarga yang ada di belakangnya.
"Silakan tunggu di luar," ucap Dokter Arsen. Lalu pria itu menutup ruangan operasi.
Di dalam ruangan operasi..
Madeline, Pierre dan Theo tengah menyiapkan alat bedah sambil terus memantau kondisi pasien yang semakin lemah.
"Pisau bedah," pinta Madeline.
Dokter Pierre yang berada di dekat Madeline langsung memberinya.
"Kassa," pintanya lagi.
Beberapa Dokter ada yang tengah melakukan tugasnya. Hingga ucapan Dokter Theo cukup membuat mereka terkejut.
"Tekanan darahnya menurun dengan begitu cepat. Sekarang 90/60," ucapnya.
Hingga Dokter Arsen pun kembali berucap,"Denyut janin semakin tidak stabil, Dan bisa kehilangan nyawa kapan saja."
__ADS_1
"Harus segera di Keluarkan," ucap Dokter Belinda yang merupakan Dokter dari departemen kebidanan.