
Mendengar Madeline memanggil dirinya dengan sebuah nama yang terdengar menggelikan di telinganya, membuat suara keras Pierre menggema di apartment yang menjadi tempat tinggal keduanya.
"Madeline!!" teriak Pierre dengan suara menggelegar.
"Awas kau," ancam Pierre yang langsung memasuki kamar milik, bersiap untuk bertugas.
Madeline yang mendengar namanya di panggil oleh Pierre dengan suara tinggi karena kesal, hanya bisa tertawa. Akhirnya ia memegang kunci keramat yang ia bisa jadikan senjata untuk membalas kelakuan Pierre pada dirinya.
"Rasakan kau! Dia pikir aku orang bodoh," ucap Madeline dengan puas.
Wanita itu membuka walk in closet yang berisi pakaian miliknya, wanita itu tampak memilih pakaian yang akan ia kenakan untuk bekerja. Meskipun nantinya ia akan memakai baju bedah, namun ia juga harus memiliki pakaian ganti.
Hingga sebuah baju dengan lengan pendek dan tak lupa celana jeans yang ia pilih saat ini. Kemudian, Madeline melapisinya dengan jas putih kebesaran miliknya.
Rambut panjangnya yang selalu ia kuncir kuda, membuat leher jenjangnya terlihat.
Dengan wajah santai, Madeline keluar dari kamar. Mengabaikan Pierre yang terus menatapnya dengan tajam.
"Matamu setajam pisau, kenapa kau tidak menjadi seorang koki dengan kekuatan dalam saja? Sayang mata tajammu kalau hanya di pergunakan untuk menatapku, nanti jatuh hati lagi," cerocos Madeline dengan wajah tanpa dosa.
Pierre berjalan menyusul Madeline yang telah lebih dulu meninggalkan dirinya yang berada di ruang depan.
"Mata tajamku terlalu mahal, jadi mana ada yang mampu membayar kemampuan itu," ucap Pierre dengan sombong.
Madeline menatap Pierre dengan jengah, pria itu terlalu percaya diri.
"Selain kau pria lembek, nyatanya kau juga orang yang memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi. Cocok sekali!" gumam Madeline dengan bangga.
Alis Pierre menatap Madeline,"Cocok apa?"
"Cocok sekali menjadi pembual handal. Pasti setelah itu kau langsung mendapat piala Oscar," balas Madeline dengan wajah puas.
Kapan lagi ia bisa membalas perlakuan Pierre selain saat ini. Belum tentu ia besok bisa mendapat kesempatan ini, jadi apa salahnya ia memanfaatkan kesempatan ini, bukan?
Pierre yang merasa di buat kesal oleh Madeline langsung mengejar wanita.
"Kau benar-benar membuat hariku menjadi hancur, Madeline." kesal Pierre yang sedang bersiap untuk memberi pelajaran pada Madeline.
Madeline yang melihat Pierre ingin membalas perbuatannya langsung bersiap untuk pergi dari hadapan Pierre. Namun pria itu berhasil menahan Madeline hingga membuatnya berada di posisi yang tak semestinya.
Madeline yang di dorong oleh Pierre hingga menabrak tembok.
"Coba kau lakukan depan mukaku," tantang Pierre.
__ADS_1
Madeline menelan salivanya, menatap Pierre yang tengah memicingkan matanya ke arah dirinya.
"A-aku...," jawabnya dengan terbata-bata. Ia tidak takut dengan Pierre. Hanya saja posisi seperti ini membuat detak jantung menjadi tak karuan.
"Aku apa?" tanyanya dengan mata memicing.
"Aku hanya bercanda, kaleng sarden." ucapnya dengan lantang. Lalu dengan cepat ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Mendengar Madeline menyebut nama keramat itu, membuat Pierre kembali meradang.
"Apa kau bilang? Bisa kau ulangi?" tanya Pierre.
Madeline menggeleng cepat, tangannya tetap terus menutup mulutnya.
"Ulangi!" desak Pierre.
Namun jawaban yang diberikan Madeline tetap sama, hanya sebuah gelengan kepala.
Hingga suara dering ponsel Pierre berbunyi, membuat pria itu melepas genggamannya yang kini tengah memegang kedua tangan Madeline yang ia benturkan ke tembok. Merasa situasi tengah lengah, membuat Madeline dengan segera menjauh dari Pierre.
Wanita itu memilih membawa mobil sendiri, daripada harus bersama Pierre yang akan membuatnya semakin membuang waktu.
"Ya," sahut Pierre saat panggilan teleponnya tersambung.
Ya, yang menghubungi Pierre adalah tuan Spencer. Ia sebenarnya bisa saja menolak panggilan telepon itu, hanya ini adalah tuan Spencer yang tak lain adalah direktur rumah sakit.
Pierre harus berusaha profesional jika berhubungan dengan rumah sakit.
"Segera!" jawab Pierre yang langsung mematikan sambungan telepon.
Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari orang yang telah membuat suasana hatinya suram.
"Sial! Dia telah pergi," umpat Pierre.
Pierre langsung masuk ke dalam mobil, membawanya keluar dari unit apartment miliknya. Di dalam mobil, pria itu terus mengumpat. Sumpah serapah dan berbagai cibiran untuk Madeline.
"Bisa-bisa wanita seperti dia mengacaukan hariku," kepalang kesal, itulah yang dirasakan oleh Pierre.
"Semoga saja aku cepat mendapat pengganti Yara, agar bisa tetap menjaga kewarasanku karena tingkah ajaibnya," sepanjang jalan Pierre terus menggerutu tanpa henti, hingga membuat tak sadar jika sudah sampai di rumah sakit milik keluarganya.
"Oh, ternyata wanita itu bawa mobil sendiri," gumam Pierre.
Pierre melangkah masuk, namun sebelum itu Pierre terlebih menghampiri ruangan miliknya. Memakai jas putih yang menjadi kebanggaannya hingga saat ini.
__ADS_1
Mungkin bagi orang terlihat biasa saja, tidak bagi Pierre yang memiliki jiwa penolong. Pria itu begitu bangga dengan jas putih yang ia kenakan, sebenarnya bisa saja dirinya memilih jadi CEO di salah satu perusahaan milik Daddy-nya.
Hanya saja, dirinya lebih tersentuh di bidang kedokteran seperti saat ini.
"Kemana jam tanganku," gerutu Pierre yang merasa lupa menaruh jam tangan miliknya.
Jam tangan yang di berikan Yara untuknya saat dirinya berulang tahun di usia 31 tahun kemarin.
"Terlalu banyak buang waktu jika aku mencari jam tangan sekarang. Lain waktu saja," Pierre memutuskan untuk mengabaikan jam tangan itu. langkah kakinya terus berjalan hingga sampai di depan Lift.
Disana, sudah ada Madeline yang ingin menaiki lift.
"Mau kemana?" tanya Pierre dengan to the point.
Madeline menoleh,"Ke ruangan tuan Spencer, katanya darurat," jelas Madeline.
Jika Madeline juga di panggil ke ruangan tuan Spencer, berarti hal ini adalah sesuatu yang penting dan darurat.
"Kemana Dokter Theo dan Arsen?" tanyanya sambil menunggu pintu lift terbuka.
"Mereka sudah terlebih dahulu, aku kembali ke bawah karena ada sesuatu hal yang terlupa," imbuh Madeline.
Benar dugaan Pierre, berarti ini adalah hal penting. Maka dari itu semua di panggil ke ruangan tuan Spencer.
Pintu lift terbuka, membuat Madeline dan Pierre masuk ke dalamnya. Menekan tombol untuk menuju ke lantai teratas untuk menuju ruangan tuan Spencer.
"Ingat, Madeline! Urusan kita belum selesai," Pierre memberikan peringatan pada Madeline. Dirinya belum puas mengintimidasi wanita itu.
Madeline hanya menoleh, pikiran tengah tertuju dengan apa yang akan di bahas oleh tuan Spencer.
"Aku tahu! Kau bisa lakukan kapan saja, aku sedang pusing," keluh Madeline.
Pierre yang mendengarnya langsung memutar tubuh Madeline, hingga keduanya berhadapan.
"Apa kau sedang sakit?" tanya Pierre.
Melihat Pierre yang begitu perhatian, membuat aliran darah Madeline berdesir. Namun, hal itu segera ia tepis.
"Tidak! Aku sedang gugup," jawabnya dengan jujur.
Hingga lift yang membawa mereka akhirnya sampai di lantai yang menjadi ruangan tuan Spencer.
Keduanya memasuki ruangan tuan Spencer, membuka pintu dengan perlahan. Terlihat beberapa tim dokter tengah berdiskusi akan hal yang berkaitan dengan dunia onkologi
__ADS_1
"Madeline, Pierre. Silahkan duduk, setelah ini saya akan menjelaskan terlebih dahulu," pinta Tuan Spencer yang langsung di balas oleh keduanya.