
Pierre menyunggingkan senyum tipis,"Tentu, akhirnya semua sesuai dengan rencanaku." jawabnya.
"Kau benar-benar bikin aku naik darah, tuan muda Spencer." ucapnya sambil mengepalkan tangannya karena kesal.
Bagaimana tidak? Tak ada yang ingin seperti dirinya. Menikah karena di jebak oleh pria yang frustasi karena di tinggal menikah dengan kekasihnya. Tidak! Di tambah Madeline yang masih begitu polos dalam hal percintaan dan hubungan.
"Teruslah membenciku, nona Marshall. Aku yakin kau akan jatuh cinta padaku," ucap Pierre dengan percaya diri.
"Impossible," jawab Madeline dengan singkat.
Tak ingin terus berdebat dengan Madeline. Membuat Pierre memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Setelah ini, kau akan ikut tinggal di apartment milikku," putus Pierre.
Madeline hanya pasrah. Toh, ia adalah seorang istri saat ini. Yang mana dirinya harus mendengarkan kata sang suami.
Keduanya keluar dari ruangan, menghampiri keluarga besar yang sejak tadi menunggu. Ucapan selamat mengalir dari keluarga Eduardo, begitupun dengan keluarga Spencer yang sejak awal memang menginginkan kehadiran Madeline sebagai menantu di keluarganya.
"Jika terjadi sesuatu padamu, beritahu padaku." ucap Raiden sambil memeluk adik kecilnya.
Madeline mengangguk kepala,"Kalian selalu menjadi tempat ternyaman untuk aku pulang." ucapnya.
Kedua keluarga besar itu meninggalkan kantor catatan sipil. Tak ada perayaan sama sekalipun meski hanya sekedar makan-makan, justru setelah ini keduanya akan kembali di sibukkan dengan pekerjaan mereka sebagai dokter.
Keluarga Spencer kembali ke mansion milik mereka, begitupun dengan keluarga Eduardo yang bersama Madeline. Madeline kembali ke mansion untuk mengambil barang-barang yang akan ia bawa untuk tinggal di apartment milik Pierre.
"ikut bersamaku." ujar Pierre sambil membawa Madeline untuk masuk ke dalam mobilnya.
Madeline hanya pasrah, ia melangkahkan kaki memasuki mobil milik Pierre.
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan yang menjadi teman perjalanan. Keduanya memasang wajah datar, tanpa senyum segaris. Begitupun dengan Madeline yang merasa hidupnya terlalu rumit saat ini.
Hingga mobil yang di kendarai oleh Pierre sampai di mansion Eduardo. Madeline membuka sabuk pengaman yang membalut tubuhnya, dan berjalan memasuki mansion tanpa menunggu Pierre.
Wanita yang baru menyandang status sebagai seorang istri itu langsung menaiki tangga menuju lantai 2 untuk ke kamar miliknya, untuk bersiap.
Disaat tengah bersiap, Daddy Garry datang memasuki kamar milik putri. Disana terpajang beberapa penghargaan putrinya yang di nobatkan sebagai dokter paling kompeten di bidangnya.
"Maddy." panggil Daddy Garry yang berjalan mendekati putrinya.
__ADS_1
Mendengar suara Daddy-nya memanggil membuat Madeline menghentikan kegiatannya, menoleh ke arah pria yang begitu menyayangi dirinya.
"Ya, Dad," jawab Madeline.
Daddy Garry duduk di samping putrinya, mengelus surai panjang yang tergerai bebas.
"Dad tahu, ini adalah awal yang sulit untukmu. Namun, kau harus bisa melaluinya. Belajarlah mencintai suamimu, dan perlakukan ia layaknya raja jika sedang di dalam istana kalian. Jangan sampai rajamu memiliki selir di luar sana hanya karena kau tak sanggup menghadapinya." ucapan Daddy Garry begitu banyak perumpaan, mengandung makna tersirat.
"Belajarlah untuk mencintaimu suamimu, bangunlah hubungan suami istri yang hangat agar selalu tercipta kebahagiaan di dalamnya,"
"Dan satu hal yang perlu kau tahu. Meski kini kau adalah seorang istri, bagiku kau tetaplah Madeline, putriku yang begitu polos dan menggemaskan." Daddy menyampaikan pesan kepada putrinya, agar dapat memperlakukan seorang suami dengan baik.
Madeline hanya mendengar, tak menjawab dan memberikan reaksi apapun.
"Bagaimana jika nanti semua yang Dad ucapkan tidak sesuai dengan apa yang di bayangkan, Dad?" tanya Madeline.
Daddy Garry mengulas senyum,"Setidaknya kita sudah berusaha. Karena usaha takkan mengkhianati hasil," jawabnya.
Ucapan dari Daddy Garry nampak tidak membuat Madeline sepenuhnya tenang. Pikiran Madeline terus berkelana saat dimana nantinya semua pikiran buruk tentang pernikahan dengan Pierre akan terjadi di masa depan.
Madeline menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan pikiran buruk yang terus memenuhi otaknya.
"Aku akan selalu mengingat pesanmu, Dad. Terima kasih telah menyayangiku." ucap Madeline sambil memeluk cinta pertamanya.
Daddy Garry membalas pelukan sang putri, mengelus surainya dan mengecup kening dengan penuh kasih sayang.
"Segera bersiap, kita akan ke bawah bersama." ucap Daddy Garry.
"Apa Dad akan membantuku untuk berkemas?" tanya Madeline.
Daddy Garry mengangguk,"Ya."
Madeline di bantu oleh Daddy-nya mengemas barang bawaan miliknya. Seperti jurnal kedokteran miliknya dan tak lupa dengan beberapa barang yang selalu ia bawa kemanapun, yaitu stetoskop.
"Sudah?" tanya Daddy Garry sambil menutup resleting koper yang akan di bawa Madeline.
Madeline tampak mengingat, khawatir ada yang terlupa.
"Tidak ada, Dad," jawabnya.
__ADS_1
Daddy Garry menarik koper milik putrinya dan keluar dari kamar.
"Ayo," ajak Daddy Garry.
"Ya, Dad." jawabnya sambil menatap seisi kamar yang kini taakan berpenghuni lagi.
"Selamat tinggal kamar penuh kenangan." ucapnya yang tanpa sadar menitikkan air mata. Kamar yang dimana menjadi saksi seorang Madeline Elana Marshall bertransformasi menjadi seorang Dokter hebat. Di kamar ini, Madeline menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari segala tentang ilmu kedokteran hingga jatuh sakit karena terlalu keras dalam mengejar mimpi.
Dengan langkah berat, Madeline meninggalkan kamar dan menghampiri Daddy-nya yang menunggu. Madeline langsung mengunci pintu kamar miliknya, dan memberikan pada Daddy Garry.
Ayah dan anak itu berjalan menuruni tangga mansion menuju ruang tengah. Pasalnya, Pierre tengah menunggu disana. Ditemani oleh Raiden dan Saviero yang sejak tadi mengajaknya berbicara.
"Apa kau sudah siap, Maddy?" tanya Raiden.
Madeline mengangguk,"Sudah." jawabnya.
Lalu Pierre mengambil alih koper yang berada di tangan Daddy Garry.
"Ayo, Madeline." ujar Pierre setelah berpamitan dengan Daddy Garry. Pria paruh baya itu hanya menatap kepergian putrinya yang akan menjalani hidup baru bersama sang suami.
Namun, saat Madeline dan Pierre melangkahkan kaki keluar mansion. Suara dari Saviero menghentikan langkah keduanya.
"Maddy biar aku yang antar sampai tempat tinggal kalian," ucapnya.
"Ta-tapi...," belum selesai berbicara, Pierre sudah langsung mendapat tatapan tajam dari sepupu Madeline. Hingga membuat Pierre menurut.
"Baiklah," ucap Pierre dengan pasrah.
Madeline berangkat menuju apartemen Pierre bersama dengan Saviero.
"Apa Abella tidak ikut?" tanya Madeline yang duduk di samping Saviero.
Saviero menggelengkan kepala,"Tidak, dia ingin bersama Mommy, menyiapkan makan siang."
Madeline mengangguk, ia tak banyak bertanya lagi. Hingga mobil yang di kendarai Saviero berjalan keluar mansion menuju tempat yang akan menjadi tempat tinggal sepupunya.
"Jika Pierre menyakitimu, beritahu padaku." ucap Saviero sambil mengemudikan mobil.
"Berapa kali kau bilang ini padaku dalam satu hari ini, Piero." ucapnya sambil terkekeh.
__ADS_1
"Banyak," jawabnya dengan singkat.