My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 54 - Pierre dan Nyonya Ludwig


__ADS_3

Pierre tersentak, pria itu kembali menghentikan langkah kakinya. Apa begitu kelihatan jika ia masih memiliki perasaan dengan Yara? Tidak! Mungkin saja Nyonya Ludwig tengah berusaha mencari pasangan pengganti untuk putrinya setelah kebusukan Alois terbongkar.


"Berhenti membual Nyonya Ludwig yang terhormat, baik aku maupun dirimu sudah tak memiliki urusan apapun. Semua sudah usai bersamaan dengan penghinaan yang kau berikan padaku." ucap Pierre tanpa menoleh sedikit pun.


Untungnya lorong rumah sakit tak ada yang melewati, sehingga tak menjadi bahan tontonan ataupun pembicaraan. Tapi tetap saja, di hadapkan seperti ini membuat Pierre tak nyaman. Meski hati kecilnya begitu menginginkan Yara kembali.


Nyonya Ludwig menyunggingkan senyum, wanita paruh baya itu mendekati Pierre dan menatap wajah mantan kekasih putrinya yang terlihat tampan itu.


"Kau bilang membual? Aku sudah mencari tahu semua tentangmu, termasuk alasanmu menikahi salah satu putri dari keluarga Marshall itu." ucap Nyonya Ludwig dengan percaya diri.


Ini yang Pierre paling tak suka. Terlalu mencari tahu tentang hidupnya yang berakibat menganggu kenyamanan hidupnya.


"Lalu kau ingin apa, huh?"


Nyonya Ludwig tak perlu menutupi segala niat dan rencananya di depan Pierre, lagipula pria itu sudah tau wataknya seperti apa.

__ADS_1


"Aku merestui jika kau ingin merebut putriku dari Alois, dengan syarat kau harus menikahinya dan menjadikan dirinya satu-satunya nyonya muda Spencer." Pinta Nyonya Ludwig tanpa ragu.


Pierre tersenyum miring, tawaran yang di berikan begitu menggiurkan. Namun ia tak tertarik, Pierre memiliki cara sendiri untuk mengambil Yara jika pria itu ingin,"Awalnya aku menghormatimu sebagai orang tua dari wanita yang aku cintai. Namun semakin kesini, perangaimu semakin terlihat. Kau hanya membutuhkan harta, harta dan popularitas untuk menunjukkan pada semua orang bahwa kau di segani."


"Aku tidak tertarik dengan tawaranmu, aku bisa membawa Yara kembali padaku tanpa perlu kerja sama denganmu."


"Apa kau tak malu pada putrimu sendiri? Kau menjebaknya dengan cara menjijikan hingga membuatnya seperti ini. Dan tentunya alasan di balik semua itu demi menuruti kemauanmu dengan dalih berbakti." Pierre mengungkapkan semua itu dengan panjang lebar.


Mendengar segala perbuatan buruknya di beberkan oleh Pierre, membuat Nyonya Ludwig seakan tak memiliki muka di hadapan pria muda itu.


"Kenapa? Anda terkejut, Nyonya Ludwig? Tak perlu terkejut, tabiatmu yang terlalu materialis dan menilai segalanya dengan harta membuatku mampu membaca itu semua tanpa perlu di beritahu oleh lain." balasnya dengan senyum smirk.


"Buang jauh-jauh rencanamu itu jika kau menyayangi putrimu. Aku tak bisa berlama-lama, istriku telah menunggu di rumah." pamit Pierre yang kembali melangkah kakinya menuju ruangan miliknya, meninggalkan Nyonya Ludwig yang saat ini tengah mengepal kedua tangannya menahan emosi.


Pierre berjalan dengan langkah cepat, ia sudah banyak membuang waktu. Bisa ia pastikan saat ini Madeline tengah mengumpat tentang dirinya.

__ADS_1


Pierre membuka pintu ruangan miliknya, ia melihat ada tas wanita di meja kerjanya serta kursi kebesarannya yang menghadap ke arah jendela. Ia semakin jalan mendekati meja kerjanya dan memutar kursinya yang sedang di duduki oleh seseorang.


"Kau?" ucapnya dengan terkejut saat melihat siapa yang datang.


Wanita itu mengulas senyum indah, melihat Pierre yang terkejut.


"Aku sengaja datang ke sini, sudah sejak tadi menunggumu tapi tak kunjung datang juga." keluh madeline.


Mendengar penjelasan madeline membuat Pierre merasa bersalah, pasti wanita itu menunggu dirinya lama. Mengingat kejadian tadi benar-benar di luar dugaannya.


"Sorry, aku baru saja dari selesai istirahat. Pasien di ruang hematologi begitu banyak hari ini." Alibi Pierre. Tentu apa yang ia katakan adalah bohong.


Madeline mengangguk tanda mengerti, ia memahami kesibukan Pierre. Mengingat dirinya juga berkutat di bidang yang sama.


"Pantas saja!"

__ADS_1


"Apa kau baru saja selesai makan?" tanya Madeline saat melihat kotak makan yang ia bawakan untuk Pierre habis.


__ADS_2