
Pierre seakan mendapat angin segar kala mendengar keputusan yang Madeline berikan, terselip rasa lega di hatinya, seakan beban berat yang menghimpit dirinya seakan lepas begitu saja.
"Thank's, aku takkan menyia-nyiakan hal itu, Madeline." ucapnya dengan senang sambil menggenggam tangan Madeline.
Madeline hanya berdecak sambil mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum miring.
"Lelaki sejati yang pegang adalah ucapannya, bukan janji," tekan Madeline.
Pierre mengangguk,"Tentu, bantu aku melupakan Yara dan membuatmu ada disini." ucapnya sambil menunjuk dadanya.
Seketika hati Madeline menghangat mendengar ucapan Pierre. Madeline hanya manusia biasa, wanita yang memiliki hati. Sekokoh apapun tembok yang di bangun oleh wanita itu, tetap saja dirinya bisa saja luluh jika Pierre selalu berkata dan berlaku manis padanya.
"Ya," Madeline tak tahu harus menjawab apa, dirinya tak punya jawaban atas ucapan Pierre yang begitu menggelitik telinga.
Sebagai awal dari kesempatan yang diberikan Madeline padanya, Pierre pun memutuskan untuk mengajak Madeline melakukan kegiatan bersama.
"Apa kau membawa bekal untukku, Madeline?" tanya Pierre. Pria itu masih terasa lapar, pasalnya saat di apartment dirinya hanya memakan sedikit hidangan yang di buatkan Madeline. pikirannya yang tengah kalut membuatnya tak nafsu makan saat itu.
Madeline mengangguk,"Bukankah ada bersamamu?" Madeline kembali bertanya.
__ADS_1
Pierre menepuk dahi, ia melupakan hal itu di kala pikirannya yang tengah kalut.
"Sorry, aku benar-benar tak ingat. Baiklah, Tunggu sebentar! Aku akan membawanya kesini." pintanya. Dengan langkah lebar Pierre meninggalkan ruangan Madeline menuju ruangan miliknya untuk mengambil kotak bekal miliknya.
Madeline menatap kepergian Pierre, wanita itu menghela napas dengan panjang.
"Nasibmu ternyata tak sebagus rupamu, Pierre." gumam Madeline. Bahkan, di saat seperti ini pun Madeline memikirkan Madeline. Wanita itu seakan melupakan kejadian yang menimpanya tadi.
Jika kalian berpikir dirinya telah jatuh cinta dengan Pierre. Itu semua tidak sepenuhnya salah, ia hanya sedang terbiasa dengan kehadiran Pierre. Mengingat keduanya hidup bersama, di tambah keduanya bekerja di lingkungan yang sama.
Hanya saja saat ini dirinya tengah membentengi diri agar tidak jatuh karena pesona Pierre. Siapa yang tidak tertarik dengan pria itu, selain tampan dan mapan. Pierre juga memiliki otak jenius. Tak heran, di umurnya yang sudah kepala tiga sudah di angkat menjadi kepala departemen onkologi.
"Madeline... Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.
Madeline tersentak, tersadar dari lamunannya. Ia menggelengkan kepala,"Tidak! Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," jawabnya.
Pierre mengangguk,"Ayo kita makan," ajak Pierre yang mengajak Madeline duduk di kursinya. Pria itu dengan telaten menyuapi Madeline.
"Buka mulutmu." pinta Pierre sambil mengarahkan sendok ke arah Madeline.
__ADS_1
Madeline menutup mulutnya dan menggelengkan kepala,"Kau saja, aku masih kenyang." tolaknya.
Pierre yang seakan tidak menerima penolakan pun mengancam Madeline.
"Makan atau kau aku cium." ancamnya sambil berjalan mendekati Madeline.
Glek! Madeline menelan salivanya. Pierre benar-benar membuatnya tak bisa berkutik. Pria itu mampu membalikkan keadaan dalam sekejap.
"Tapi aku masih kenyang, Pierre." Madeline memasang wajah melas, berharap Pierre akan luluh.
Pierre yang seakan tak terbujuk rayuan dengan raut wajah Madeline terus mengancam Madeline.
"Makan atau kau aku cium." Pierre mengulangi perkataannya, namun kali ini terdengar begitu mengintimidasi.
Madeline yang tak punya pilihan hanya bisa menurut, wanita itu membuka mulutnya dan melahap semua makanan yang di berikan oleh Pierre.
"Nah, begitu! Aku senang kau seperti ini." ucapnya sambil mengelus pucuk kepala Madeline.
Madeline membeku saat menerima perlakuan manis Pierre, wanita cantik itu seperti melihat dua sisi berbeda dalam satu diri Pierre Cardin Spencer.
__ADS_1
Madeline kembali melanjutkan makan bersamanya dengan Pierre, sesekali di bersamai dengan sebuah candaan. Seakan keduanya melupakan perdebatan yang tadi mereka lakukan.