My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 85 | Keputusan ke Milan


__ADS_3

Daddy Garry yang mendengarnya pun tak bisa melarang, ia begitu mengenal karakter putrinya yang sangat disayangi itu. Madeline takkan mungkin mengambil keputusan dengan menggebu-gebu, ia pasti akan memikirkan banyak hal. Termasuk tentang keinginannya untuk meninggalkan kota kelahirannya itu.


Mendengar permintaan putrinya, membuat Daddy Garry kembali diingatkan dengan kejadian sahabat putrinya yang saat ini sudah hidup bahagia dengan keponakannya. Bahkan saat ini mereka tengah menanti kelahiran anak pertama mereka.


Yang itu artinya, tak lama lagi dirinya akan memiliki seorang cucu.


"Kemana kau ingin pergi? Dan kapan?" tanya Daddy Garry. Sebisa mungkin ia harus mempersiapkan semuanya agar kehidupan putrinya terjamin, karena biar bagaimanapun Madeline tetaplah tanggung jawabnya.


Madeline membuka ponsel, melihat kalender terlebih dahulu untuk memastikan waktu yang tepat.


"Aku belum bisa memastikan itu semua kapan, Dad. Aku harus memberikan surat pengunduran diri terlebih dahulu, di tambah dengan perceraian ini." jawab Madeline.


Daddy Garry mengangguk,"Selesaikan urusan di sini terlebih dahulu, agar nantinya tidak meninggalkan beban untukmu." saran Daddy Garry.


"Tentu, Dad."


"Sepertinya aku sudah bisa memutuskan kemana aku akan pergi, Dad." Imbuh Madeline.


"Kemana?"


Madeline agak ragu mengatakan hal ini, tapi mau tak mau ia harus lakukan. Karena hanya di sana dirinya merasa aman dan tak perlu takut jika Pierre nantinya datang menemui dirinya.


"Aku ingin ke Milan saja, Dad." Putus Madeline. Selain ia ingin melupakan sakitnya, Madeline juga ingin membantu sepupunya yang sebentar lagi akan menyandang gelar sebagai orang tua baru.

__ADS_1


Daddy Garry tak langsung menyetujui permintaan putrinya, ia tak ingin merepotkan keponakannya yang saat ini tengah di sibukkan dengan berbagai pekerjaan serta istrinya yang sedang mengandung.


"Jangan disana, kau bisa ikut Daddy ke Lyon jika kau ingin." Daddy Garry mengatakan hal itu karena sudah menyiapkan segala, termasuk tempat tinggal di kota yang ada di negara bagian eropa itu.


Madeline menolak, baginya kota Lyon tak seindah kota Milan. Tak ada panorama seindah Lake Como yang begitu memanjakan matanya.


"Aku tak ingin, Dad. Aku ingin di Milan saja." Rajuk Madeline seperti anak kecil.


Daddy Garry menggelengkan kepala,"Kau nanti akan merepotkan Piero jika di sana," jelasnya.


Madeline tak pantang menyerah, ia terus membujuk Daddy-nya hingga mau tak mau menyetujui keinginan putrinya.


"Aku takkan merepotkan Piero maupun Abella, Dad. Justru aku akan membantunya di sana." Madeline tak kenal lelah sampai keinginannya tercapai.


Jika putrinya sudah seperti itu, Daddy Garry hanya bisa menuruti selagi hal itu tidak merugikan dirinya dan juga orang lain.


"Kau janji takkan merepotkan Piero dan Abella?"


Madeline mengangguk dengan mantap,"Janji!"


"Baiklah, aku akan mempersiapkan semuanya untukkmu." putusnya. Meskipun sebenarnya ia tak rela untuk berada jauh dari putrinya, namun ia juga tak bisa egois dengan mengabaikan perasaan putri yang telah di hancurkan oleh Pierre.


Madeline langsung memeluk pria paruh baya itu,"Terima kasih, Dad. Kau benar-benar yang terbaik." Setidaknya Madeline bersyukur, karena memiliki Daddy Garry yang selaku membuatnya bahagia dan tak pernah menyakiti dirinya.

__ADS_1


Daddy Garry mengelus surai panjang putrinya, lalu ia menangkup wajah putrinya dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang.


"Apapun Dad lakukan untukmu, nak. Karena hanya kau yang Daddy punya." ucapnya hingga Madeline kembali menitikkan air mata.


Banyak orang yang mengatakan, hanya ada satu orang pria yang takkan menyakiti seorang perempuan adalah seorang ayah yang menyayangi putrinya.


Ya, dan Madeline telah membuktikan hal itu.


"Bantu aku menyembunyikan keberadaanku jika aku di Milan nanti, Dad." Madeline tak ingin berurusan dengan Pierre lagi, ia hanya mengantisipasi agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.


Daddy Garry mengangguk dengan yakin, ia sendiri juga takkan membiarkan putrinya mengalami hal seperti ini lagi kedepannya.


"Tentu, nak. Kau harus bahagia setelah ini."


Kurang lebih sudah dua jam lamanya Madeline dan Daddy Garry berada di restoran. Pria oaruh baya itu melirik ke arah jam tangan yang ia kenakan.


"Apa kau masih ingin disini, Maddy? Daddy masih ada pekerja yang harus di selesaikan." tanya Daddy Garry.


Madeline menggelengkan kepala, ia juga tak bisa berlama-lama. Masih banyak yang harus ia persiapkan termasuk membuat surat pengunduran dirinya.


"Tidak, Dad. Aku juga ingin menyelesaikan urusan yang lain sebelum pergi ke Milan." jawab Madeline.


Madeline lebih dulu bangkit dari duduknya, diikuti dengan Daddy Garry yang saat ini sedang merapikan penampilannya.

__ADS_1


__ADS_2