My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 36 | Perbincangan anak menantu


__ADS_3

Jika di tanya tentang perkembangan hubungannya dengan Madeline, Pierre tentu akan menjawab jujur dengan Daddy-nya. Toh, pria paruh baya itu juga tahu jika dirinya menikah dengan Madeline karena satu hal.


"Aku dan Madeline sepakat untuk membuka hati satu sama lain, Dad. Aku akan mencoba menerima Madeline sebagai istriku, begitupun sebaliknya," ungkap Pierre.


Tuan Spencer hanya mengangguk,"Dad senang mendengar hal itu. Namun satu hal yang perlu kau tahu, jika kau memberikan aku cucu. Aku akan memberikan jabatan Direktur untukmu," tekan Tuan Spencer.


Pierre hanya bisa menghela napas dengan berat,"Aku ikut cara main mu saja, Dad," jawab Pierre dengan malas.


Andai sejak awal dirinya menerima tawaran Daddy-nya untuk menempati posisi Direktur. Pasti semua takkan serumit ini, benar-benar tak enak ada di posisi seperti ini.


"Tentu kau harus mengikuti ucapanku, karena ini semua milikku, hasil jerih payahku," seloroh Tuan Spencer dengan bangga.


Pierre hanya tersenyum miring,"Ya," jawabnya dengan singkat.


"Perlakukan wanita itu dengan baik, jangan sampai kau menyakitinya dengan perlakuanmu. Jika sampai itu terjadi, kau akan berurusan dengan sepupunya. Kau tentu tahu bukan, sepupu istriku itu seperti apa orangnya. Apalagi jika kau berurusan dengan Saviero," Tuan Spencer sudah memperingati Pierre untuk tidak bertindak bodoh. Sebelumnya, Tuan Spencer sudah mencari tahu tentang keluarga Madeline.


Madeline yang tumbuh besar di keluarga Eduardo, memiliki dua sepupu laki-laki yang selalu menjaganya seperti barang berharga.


"Dad tak ingin mendengar kau menyakitinya. Atau kau sendiri yang tanggung akibatnya nanti," tekan Tuan Spencer.


Pierre menangguk,"Akan aku usahakan."


"Darimana kau tahu tentang sepupunya Madeline, Dad. Apa kau mencari tahu?" tanya Pierre dengan penasaran.


Tuan Spencer mengangguk,"Benar! Maka dari itu jangan pernah membuat masalah dengannya atau kau yang nantinya menjadi korban,"


"Lagi pula siapa juga yang ingin berurusan dengannya, Dad. Bertemu dengannya saja aku menghindar," ujar Pierre.


Kini giliran Tuan Spencer yang bertanya,"Kenapa? Kau takut dengannya?"


"Tidak takut, hanya saja ketika menatapku seperti orang yang tengah mengintimidasi seseorang," jawab Pierre jika mengingat kejadian pagi tadi di mansion Eduardo. Itu baru Raiden, bagaimana jika berurusan dengan Saviero.


Tidak! Pierre tak ingin membayangkan hal itu.

__ADS_1


"Baru di tatap saja kau sudah ketakutan, bagaimana jika kau sampai berurusan dengannya," cemooh Tuan Spencer.


Dari pada Pierre harus meladeni Daddy-nya, ia memilih untuk segera meninggalkan rooftop rumah sakit. Pembicaraan tuan Spencer kali ini pasti tak jauh dari tentang rumah tangganya.


Pierre melangkahkan kakinya menuju ruangan Direktur untuk menghampiri sang istri yang tengah berbicara pada Mommy-nya.


****


Sementara di ruangan Direktur Spencer, Madeline tampak sedang bercengkrama dengan akrab bersama Nyonya Spencer.


Keduanya banyak bercerita, salah satunya tentang sepupunya Madeline yang begitu di hindari oleh Pierre.


"Seperti pagi tadi saat sarapan, Mom. Pierre saat berhadapan dengan Raiden langsung merasa terintimidasi," seloroh Madeline sambil tertawa.


Nyonya Spencer mengulas senyum, wanita paruh baya itu tidak marah atau tersinggung akan perlakukan keluarga Eduardo. Toh, ia tahu. Bahwa keluarga Eduardo adalah keluarga dingin bagaikan kutub utara.


Tapi bukan berarti keluarga itu tidak memiliki sisi hangat. Hanya saja, sisi itu mereka perlihatkan pada orang terdekat dan tersayangnya saja.


"Bocah itu, benar-benar membuatku malu saja, masa iya pewaris rumah sakit di intimidasi sedikit saja langsung melempem" gerutu Nyonya Spencer dengan sedikit candaan untuk mencairkan suasana.


"Mom, Pierre adalah putramu, bukan? Lantas kenapa kau ikut mencibirnya," ujar Madeline di sela tawanya.


"Dia memang putraku, hanya saja Pierre terlalu lembek. Kelihatannya saja keren, namun hatinya selembek permen jelly," cibir Nyonya Spencer hingga membuat Madeline kembali tertawa.


"Astaga, Mom...," Madeline terus tertawa karena cibiran mertuanya tentang sang suami.


"Benar, Mom sendiri saja terkadang gemas sekali dengan anak itu. Untung saja anak satu-satunya. Jika tidak, Mom akan suruh dia untuk sekolah militer agar tidak lembek seperti itu," tukas Nyonya Spencer.


Madeline pikir, nyonya Spencer adalah orang yang jutek dan terkesan angkuh di matanya. Namun, semakin Madeline mengenal dekat mertuanya itu. Membuat Madeline nyaman dan cepat akrab dengan mertuanya.


Saat keduanya tengah sibuk berbicara, suara pintu terbuka. Terlihat Pierre berjalan menghampiri keduanya dengan wajah yang di tekuk.


"Sudah puas membicarakan aku di belakang kalian, huh?" tanya Pierre. Ternyata sebelum memasuki ruangan, Pierre mendengar pembicaraan para wanita itu. Termasuk ucapan Mommy-nya yang mengatakan dirinya selembek permen jelly.

__ADS_1


Madeline menarik sudut bibirnya, hingga membuatnya tersenyum datar. Dirinya sedang bersusah payah menahan gelak tawa kali ini, di tambah dengan ekspresi Pierre yang terlihat tak enak di pandang.


"Apa kau merasa, Pierre?" tanya Madeline dengan polos.


Tentu Pierre menyanggah hal itu,"Tidak, aku hanya tak suka jika diriku di bicarakan," ucapnya dengan asal.


Melihat raut wajah Pierre yang di tekuk, membuat Madeline berusaha menghiburnya.


"Yakin kau tidak tersinggung?"


"Ya,"


Madeline tersenyum miring melihat Pierre seperti anak kecil,"Baiklah,"


"Mom, ayo kita lanjutkan pembicaraan yang tadi. Biarkan suamiku mendengarnya," seloroh Madeline dengan tak sabar. mengabaikan Pierre yang menatap tajam ke arahnya.


"Ayo, anggap saja anak itu angin lalu," lihatlah! Nyonya Spencer memiliki teman baru, kini melupakan putranya dan memilih bercengkrama dengan Madeline yang tak lain adalah menantunya.


Madeline dan nyonya Spencer terus mencibir Pierre dengan berbagai fakta yang mereka ketahui, dan tak jarang keduanya tertawa sangat puas. hal itu pula membuat telinga Pierre seakan panas.


Dengan kesal, Pierre langsung membawa Madeline keluar dari ruangan Tuan Spencer.


"Ajak bicaranya nanti lagi, Mom. Aku ada urusan dengan Madeline," Pierre langsung membawa Madeline keluar ruangan dengan cara menarik tangannya.


"Kalian mau kemana?" tanya Nyonya Spencer saat melihat anak menantunya meninggalkan dirinya seorang diri.


"Ada urusan yang harus aku selesaikan berdua Madeline, Mom," ujar Pierre yang kini memaksa Madeline untuk ikut dengannya.


Awalnya Madeline menolak, namun karena Pierre terus membawa keluar dari ruangan Spencer membuatnya mau tak mau harus ikut. Ia harus terlihat baik-baik saja jika di depan umum.


Sementara nyonya Spencer hanya menatap kepergian anak menantu dengan berdecak heran,"Anak itu, tingkahnya benar-benar," decaknya.


Hingga Madeline di bawa menuju lift oleh Pierre,"Kau ingin membawaku ke mana, Pierre. aku ingin berbicara dengan Mommymu," ucap Madeline.

__ADS_1


Pierre menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Madeline,"Rahasia, yang jelas aku akan memberikan pelajaran untukmu," ujarnya dengan menekan tombol lift untuk menuju tempat yang Pierre ingin datangi.


__ADS_2