
Mobil yang dikendarai oleh Saviero telah sampai di blok parkiran apartment milik Pierre.
"Bukankah ini jalan menuju unit apartment Abella?" tanya Madeline dengan bingung. Pasalnya, dulu Madeline sering sekali menghabiskan waktu dengan istri sepupunya di apartment milik wanita itu.
Saviero hanya mengedikkan bahu, pria itu terlihat begitu irit bicara kali ini.
"Entahlah, mungkin memang satu lantai dengan unit Abella," jawabnya dengan santai.
Ah, baiklah! Jika berbicara dengan sepupunya yang menyebalkan itu memang harus saat ada pawangnya, agar lebih banyak bicara.
"Maybe," ucap Madeline sambil membuka sabuk pengaman.
Wanita itu membuka pintu mobil Saviero,"Terima kasih sudah mengantarku, titip salam untuk istrimu," ucap Madeline.
Pria itu mengangguk seraya berkata,"Semoga selalu bahagia." ucap Saviero dengan tulus. Lalu pria itu mengelus pucuk rambut Madeline.
"Pasti," jawabnya dengan begitu gusar. Setelah berpamitan dengan sepupunya, Madeline berjalan menghampiri Pierre yang sejak tadi menunggunya.
"Unitmu ada di lantai berapa?" tanya Madeline sambil mengikuti langkah kaki Pierre yang kini melangkah terlebih dahulu, dengan menarik koper milik Madeline.
"Lantai 12," jawabnya dengan singkat.
Ternyata benar dugaan Madeline, unit apartment Pierre berada di satu lantai yang sama dengan unit milik Abella.
"Istri dari sepupuku juga memiliki unit apartment di lantai yang sama denganmu," ucapnya yang kini mulai membuka diri pada Pierre. Seperti pesan dari Daddy Garry, Madeline harus bisa menciptakan sebuah istana di rumah tangganya sendiri. Hanya ada raja dan ratu. Tak ada yang lain.
Pierre menatap ke arah Madeline,"Aku tidak bertanya." jawabnya dengan singkat. Namun mampu membungkam mulut Madeline.
Madeline langsung mencebikkan bibirnya, menatap Pierre dengan begitu kesal.
"Selain menyebalkan, mulutmu jika berbicara cukup pedas juga. Kurasa carolina reaper kalah pedas daripada ucapanmu," gerutu Madeline.
"Aku seperti ini adanya," jawabnya dengan begitu singkat.
"Sifat menyebalkan sudah melekat pada dirimu, setelah mendapat apa yang menjadi tujuanmu langsung kembali ke mode awal," Madeline menggerutu sepanjang perjalanan menuju unit apartment.
"Itulah, aku,"
__ADS_1
Madeline menarik napas dengan panjang. Padahal ia sudah berbaik hati pada Pierre. Nyatanya, pria itu justru membuat mood-nya hancur. Menyebalkan!
"Lebih baik aku tak usah mengajakmu bicara, daripada mendapat jawaban tak mengenakkan seperti ini," sesal Madeline yang terang-terangan menyindir Pierre.
Pierre seakan acuh dan tak peduli dengan gerutuan Madeline. Pria itu berhenti di salah satu unit apartment yang di yakini oleh Madeline adalah milik Pierre.
Sambil melangkah masuk, meminta Madeline untuk ikut padanya.
"Kamar kau disini, dan aku ada di kamar sebelahmu," ucap Pierre.
"Lalu?" tanya Madeline.
"Kau bisa meletakkan barang dan pakaianmu pada lemari yang ada di sana," tunjuk Pierre.
Madeline mengangguk, ia juga mengerti akan hal itu. Toh, lagipula siapa juga yang ingin tidur dalam satu kamar bersama Pierre.
"Beristirahatlah, karena nanti malam kita akan ada jadwal operasi pengangkatan tumor otak." ucap Pierre. Padahal keduanya baru saja menyandang status suami-istri, namun tetap saja pekerjaan mereka mengikutinya. Apakah tak bisa sehari saja mengajukan cuti? Tentu tak bisa, mengingat semua terlalu mendadak. Sedangkan jadwal operasi sudah di atur dari jauh hari.
Madeline tentu ingat, meski keduanya kerap kali bertemu. Namun bukan berarti mereka bisa akur, keduanya hanya akur ketika sedang dalam mode serius atau saat bekerja.
"Ya," jawab Madeline.
...****************...
Seperti yang sudah Pierre katakan. Bahwa malam ini ada operasi pada pasien, membuat Madeline memilih untuk tetap terjaga. Tak pernah lupa, untuk selalu membeli kopi yang begitu setia menemani dirinya saat menunggu jam operasi tiba.
Dengan mengenakan pakaian khas bedah, Madeline melangkahkan kaki memasuki ruangan operasi. Begitupun dengan Pierre, pria yang kini memimpin jalannya operasi tampak sudah siap dan memasuki ruangan operasi.
Madeline dan Pierre kini berada di meja operasi, Pierre saat ini sedang menyiapkan obat bius untuk pasien, agar tidak merasakan sakit saat pembedahan berlangsung.
Setelah menyuntikkan obat bius, Pierre melirik kearah Madeline yang kini sedang menunggu efek dari obat bius kerja.
"Bisa kita mulai?" tanya Madeline pada Pierre.
Pierre hanya mengangguk, lalu Madeline memberikan antiseptik pada area yang akan di bedah, membuat sayatan dan melubangi atau memotong tulang tenggorokan di kepala pada bagian yang akan dilakukan pembedahan.
Selama proses pembedahan pada pasien. Baik Madeline maupun Pierre tampak profesional, tidak ada keributan ataupun pembicaraan selain tentang pasien.
__ADS_1
Hingga tiga jam berlalu, proses pembedahan atau operasi pada pasien telah selesai.
"Akhirnya selesai juga," ucap Madeline dengan penuh syukur.
"Setelah ini, pasien akan segera di pindahkan ke ruang perawatan." ucap Pierre kini melepas masker yang menutupi wajahnya.
Madeline mengangguk mengerti, lalu berbicara sebentar tentang kondisi pasien pada tim-nya. Wanita yang masih mengenakan pakaian tugasnya kini berlalu meninggalkan ruangan operasi, melepas semua atribut yang melekat pada tubuhnya. kecuali pakaian yang saat ini ia kenakan,
Wanita itu berjalan melewati lorong, menuju ruangan kerja miliknya.
"Sepertinya kopi milikku sudah habis," ucap Madeline saat melihat gelas kopi miliknya.
"Lebih baik aku beli kopi di cafe sebrang jalan, mengingat hari sudah mulai malam." Madeline mengenakan cardigan putih yang menutupi pakaian kerjanya, wanita cantik itu langsung keluar dari ruangan menuju cafe. Seperti biasanya, jika sedang tugas malam, Madeline tak pernah lupa untuk memesan kopi. Dengan alasan agar selalu bisa stand by jika sedang di perlukan.
Madeline terus berjalan hingga bertemu dengan Pierre. Pria yang kini menyandang status sebagai suaminya, pria itu membawa dua gelas kopi kekinian dan beberapa makanan di kantong plastik berjalan ke arahnya.
"Untukmu." ucap Pierre sambil memberikan segelas kopi pada Madeline.
Madeline menatap Pierre dengan heran. Ada angin apa pria itu begitu perhatian padanya?
"Untukku?"
"Aku tahu kau ingin ke cafe sebelah, biar gak capek mondar-mandir jadi aku belikan sekalian untukmu," ucapnya.
Madeline mengangguk, ia justru berterimakasih karena tak perlu repot-repot harus menyebrang untuk ke cafe.
"Thank's," ucapnya sambil menyesap kopi miliknya.
Madeline duduk di kursi yang berada di lorong rumah sakit, sambil menikmati waktu senggangnya sebelum memantau kondisi pasien yang ia tangani bersama Pierre tadi.
Begitupun dengan Pierre, pria itu duduk di samping Madeline sambil menyesap kopi miliknya. Lalu, mengambil makanan untuk mengisi perutnya yang sejak tadi keroncongan.
Netra Pierre tampak menelisik sekitar, hingga dirasa cukup aman, Pierre langsung menyuapkan kue miliknya kepada Madeline.
"Makanlah, aku tahu kau sejak tadi belum mengisi perutmu." ucapnya sambil menyuapi Madeline dengan croissant yang ia beli di cafe.
Madeline membatu, wanita itu begitu terkejut akan perlakuan Pierre pada dirinya. Bagaimana tidak? Pria itu memperlakukan dirinya dengan baik, terlepas dari segala sifatnya yang menyebalkan seperti pagi tadi.
__ADS_1
"I-ini Un-untukku?" tanya Madeline dengan polosnya.