My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 37 | Permen Jelly


__ADS_3

Madeline dan Pierre sudah sampai di rooftop, tempat di mana Pierre dan Tuan Spencer berbicara empat mata, sebelum akhirnya ke ruangan direktur dan menjadi bahan cibiran ibu dan istrinya.


"Mau apa kau membawaku kesini?" tanya Madeline dengan penasaran. Pasalnya, terakhir kali Madeline ke sini adalah saat melihat Pierre melakukan percobaan bunuh diri.


Pierre tersenyum tipis, sangat tipis saat melihat Madeline yang tengah penasaran.


"Menurutmu?" tanyanya.


Madeline hanya mengedikkan bahu, pertanda ia tak tahu dengan apa yang akan dilakukan oleh Pierre.


"Kau yang mengajakku kesini, lalu kau yang bertanya padaku. Apa itu tidak terdengar aneh?" tanya Madeline.


Kalau dipikir-pikir memang terdengar aneh. Hanya saja untuk alasan itu, hanya Pierre saja yang tahu.


"Tentu tak aneh, karena tujuan aku membawamu kesini adalah untuk menghukum dirimu,", ujar Pierre dengan senyum smirk menatap Madeline.


Mendengar hal itu membuat Madeline perlahan mundur,"Ka-kau ingin apa?" tanya Madeline dengan terbata-bata.


Melihat Madeline yang perlahan mundur, membuat Pierre mendekat. Lebih tepatnya berjalan maju menghampirinya.


"Ingin menghukum orang yang sudah terang-terangan mencibirku di depan Mommyku," ujar Pierre dengan wajah puas saat melihat wajah Madeline yang terlihat pias.


Madeline menggelengkan kepala,"Tidak bisa seperti itu, aku berbicara tentang fakta. Kenapa kau harus tersinggung, huh?" tanya Madeline.


Madeline memang berbicara dengan benar, hanya saja kebenaran itu membuat Pierre di samakan layaknya permen jelly. Bagaimana bisa, pria tampan nan mapan yang menjadi incaran para di samakan dengan permen jelly yang kenyal hanya karena tak berani bersitatap dengan keturunan Eduardo. Sungguh! Hal ini membuat harga diri seorang Pierre terluka.


"Karena kau menyamakan diriku dengan permen jelly," ucap Pierre yang tak bisa lagi menahan kekesalannya kali ini.


Mendengar hal itu membuat Madeline kembali tertawa dengan sangat puas.


"Oh My God! Ini sungguh di luar dugaanku." celetuk Madeline sambil memegang perutnya karena tertawa keras.


Pierre yang kesal langsung meminta Madeline berhenti menertawakan dirinya,"Berhenti, atau aku akan menc*um mu nanti," ancamnya.


Namun bukan Madeline berhenti, wanita itu justru terus mencibir Pierre,"Jika memang kenyataannya seperti itu kenapa kau harus marah? Harusnya kau patahkan rumor itu jika memang tak benar adanya," seloroh Madeline.


Melihat Madeline yang semakin semangat mencibir dirinya, membuat Pierre langsung membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya.

__ADS_1


Kedua mata Madeline sampai membola melihat aksi nekad Pierre. Tubuhnya membeku, hingga membuatnya tak bisa bernapas dan memukuli tubun Pierre karena hal itu.


"Kau...," geram Madeline. Sial! Ternyata Pierre telah mencuri ciuman pertama Madeline.


Pierre memasang wajah tak bersalah, akhirnya ia dapat membungkam mulut Madeline dengan cara yang menurutnya ekstrim.


"Kenapa? Kurang, huh? Apa kau ingin lagi? Boleh," cecar Pierre sambil memajukan bibirnya.


Namun Madeline memalingkan wajahnya dan menabok bibir Pierre hingga pria itu meringis.


"Kenapa kau mengambil ciuman pertamaku," Ah, sial! Ciuman pertama Madeline telah di rampas oleh Pierre yang tak lain suaminya sendiri.


Pierre yang tengah mengusap bibirnya karena efek panas tabokan Madeline pun berkata,"Aku hanya memberi sedikit pelajaran untuk istriku yang polos ini, untuk tidak mencibirku terus." ujarnya.


"Kau tahu? Bibirmu sangat manis, semanis strawberry," gumam Pierre hingga membuat pipi Madeline bersemu merah.


Madeline yang merasa malu langsung memukuli Pierre hingga pria itu berlari menghindari.


"Hei... Jangan lari! Kau harus aku beri pelajaran." pekik Madeline yang berusaha lari mengejar Pierre.


Pasangan suami-istri itu saling kejar-kejaran di rooftop rumah sakit, tak jarang Pierre meledek istrinya saat wanita itu tak mampu menjangkau tubuhnya.


****


Terhitung, sudah satu bulan sejak kejadian di mana Madeline dan Pierre berlarian di rooftop, keduanya kini tampak terlihat semakin dekat. Tak jarang pula, keduanya menyempatkan diri untuk Dinner atau sekedar sarapan bersama.


Dan tak hanya itu, Madeline juga sering kali membuatkan Pierre bekal untuk makan pria itu. Tujuannya agar lebih higienis dan tak perlu ke kantin.


Seperti saat ini, Madeline tengah berada di dapur untuk mempersiapkan bekal untuk Pierre. Dalam hidupnya, baru kali ini Madeline berkutat di dapur untuk memasak hidangan. Biasanya wanita itu hanya bisa memasak telur atau tidak mie instan.


Namun demi bisa menyiapkan bekal untuk Pierre. Madeline sampai harus menghubungi sahabatnya di italia untuk di beritahu resep masakan yang enak.


Seperti saat ini, Madeline tengah menghubungi sahabat sekaligus iparnya yang merupakan chef lulusan Perancis.


"Lalu apalagi, Belle?" tanya Madeline sambil mengaduk-aduk spatula di atas fry fan.


"Sudah kau masukkan garam dan merica?" tanyanya.

__ADS_1


Madeline menggelengkan kepala,"Belum,"


"Masukkan seperti yang aku beritahu," suruhnya.


Madeline menurut, wanita cantik itu memasukkan beberapa bumbu rempah-rempah ke dalam masakan buatannya.


Setelah berbincang dengan sepupunya, Madeline pun mematikan sambungan teleponnya dan melanjutkan kegiatan memasaknya.


Tak butuh waktu lama untuk menunggu masakan buatan Madeline matang, kini Madeline tengah memasukkan lauknya ke dalam kotak makan Pierre.


Madeline masak dengan penuh semangat, dirinya seperti orang tengah jatuh cinta kali ini. Auranya terlihat sangat berbeda dan lebih banyak mengumbar senyum.


"Apa kau sudah gila, senyam-senyum seorang diri seperti itu," celetuk Pierre yang berada di hadapan Madeline.


Madeline hanya menggelengkan kepala,"Tidak, aku hanya merasa senang saja bisa membuatkan kau masakan untuk bekalmu," ungkap Madeline dengan tersenyum manis.


Pierre sampai menghela napas,"Tak perlu seperti itu, aku takut merepotkan dirimu," ucap Pierre yang tak enak hati.


Jika di bandingan dengan Pierre, Jadwal Madeline memang terlihat sangat padat. Ia hanya tak ingin Madeline kelelahan dan membuat kinerja Madeline dalam mengobati pasien terganggu.


Madeline menggelengkan kepala,"Tidak, aku hanya ingin saja membuatkan sesuatu padamu. Bukankah sebagai seorang istri harus melayani suami?" tanya Madeline.


Pierre mengangguk, namun entah mengapa ia seperti orang bingung kali ini.


"Tidak, hanya saja aku khawatir kau kelelahan," ujar Pierre.


Madeline menoleh, menatap ke arah Pierre yang tak jauh darinya.


"Kalau lelah ya aku istirahat, jika aku mampu melakukan ini semua. Itu artinya aku memiliki banyak waktu," jelas Madeline.


Baiklah! Sepertinya Madeline memang bahagia melakukan ini semua, ia tak bisa melarangnya, apalagi menyuruhnya.


"Sesuka hatimu saja, namun jika kau lelah, nanti kau bisa beristirahat," ujar Pierre.


Madeline mengangguk, wanita itu berjalan perlahan mendekati Pierre yang sudah siap dengan jas putih kebanggaannya.


"Ini bekalmu! Semoga kau suka," ucap Madeline sambil mengulas senyum tipis.

__ADS_1


Pierre hanya menerima tanpa bersuara, ini sudah seminggu lamanya Pierre di perlakukan Seperti ini. Namun ia juga tak bisa menolak demi perasaan sang istri.


"Ya," jawabnya dengan singkat. Lalu pria itu berjalan ke luar dari apartemen.


__ADS_2