My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 88 | Alasan tak masuk di akal


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu di depan meja rias, kini Madeline pun telah siap untuk menyambut kedatangan Pierre.


Anggap saja ini adalah sambutan terakhir sebelum akhirnya mereka akan bercerai nantinya. Lagipula hubungan yang Madeline dan Pierre jalani bukanlah hubungan yang sehat.


Pierre masih dengan masa lalu, sedangkan Madeline yang merasa tersakiti dengan masa lalu Pierre.


Madeline keluar dari kamar sambil membawa dokumen yang berisi surat kesepakatan cerai. Nantinya, surat itu akan di tanda tangani oleh Pierre.


Ia duduk di sofa yang ada di ruang depan apartement, sedangkan dokumen yang ia pegang di selipkan di belakang tubuhnya.


Sambil menunggu Pierre, Madeline sibuk bermain ponsel. Mengabarkan sepupunya terkait kepindahannya ke Milan. Meskipun Madeline sudah tahu jika sepupunya tak keberatan akan hal itu, tapi Madeline kembali mempertanyakan hal itu. Mengingat sepupunya tengah di sibukkan dengan penyambutan anggota baru di keluarganya.


Jam terus berputar hingga menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, pintu apartment terbuka. Terlihat Pierre yang masuk ke dalam apartement dengan wajah sedikit muram.


Tapi lihatlah, Madeline bahkan menyambutnya dengan senyuman meski ia tak beranjak sama sekali dari duduknya.


Melihat hal itu membuat hati Pierre di liputi dengan kehangatan, tapi ia juga sedikit waspada. Pasalnya, tak ada raut kesedihan dari wajah Madeline. Hanya wajah ceria yang terlihat di sana.


Karena hal itu rasa bersalah semakin besar, tapi Pierre tak bisa berbuat banyak. Toh, ini memang konsekuensinya.


"Pierre...," panggil Madeline.

__ADS_1


Pierre berjalan mendekati Madeline, mungkin membicarakan hal ini dari hati ke hati akan membuat rasa bersalahnya menguap. Begitupun dengan masalah yang terjadi, pasti akan segera dapat jalan keluarnya.


"Madeline... Aku bisa menjelaskan semua ini padamu...," ucap Pierre.


Tapi lihat, Madeline hanya mengangguk sambil mengulas senyum tipis yang membuat Pierre semakin merasa bersalah.


"Duduklah, tak etis rasanya jika berbicara sambil berdiri." ucap Madeline dengan ramah.


Pierre pun duduk, netranya terus menatap Madeline yang terlihat sedang mengatur nafas.


"Kenapa?" tanya Pierre yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Madeline, terlihat seperti ada yang ingin di bicarakan dengannya.


Madeline menatap Pierre sebentar, lalu menganggukan kepala,"Ada hal yang ingin tanyakan padamu."


Madeline sebenarnya tak sanggup untuk menanyakan hal ini, namun ia juga perlu mengetahui sebagai tolak ukur bagi dirinya dalam mengambil keputusan.


"Sudah berapa lama berhubungan dengan Yara?" tanya Madeline dengan wajah terlihat tenang, namun tidak dengan perasaannya yang seperti di cabik-cabik.


Pierre sudah menduga pertanyaan ini akan terlontar dari bibir Madeline, tapi entah kenapa ia merasa seperti tak mampu menjawabnya meski Madeline telah melihatnya sendiri.


"Aku minta kejujuranmu, Pierre. Jangan membuatku semakin kecewa karena hal ini." tekan Madeline.

__ADS_1


Raut wajah Pierre langsung terlihat datar, yang menjadi tanda pembicaraan kali ini begitu serius.


"Kurang lebih sudah hampir dua bulan."


Selama itu? Dan Madeline baru beberapa hari ini mengetahui hal ini. Bisa-bisanya ia dicurangi dengan perselingkuhan ini.


"Selama itu?" tanya Madeline.


Namun hanya sebuah anggukan yang Madeline dapatkan dari Pierre, dan hal itu membuat Madeline semakin penasaran.


"Kenapa kau tega melakukan hal itu, bukankah kita udah sepakat untuk memulai hubungan baru?" tanya Madeline.


Lagi, Madeline kembali tak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Pierre.


"Maaf, tapi sampai saat ini Yara begitu memenuhi ruang hatiku." Dengan entengnya Pierre mengatakan hal itu. Dan tentunya itu semua membuat Madeline kembali menelan kecewa.


Madeline menggelengkan kepala,"Itu bukan alasan, Pierre. Harusnya saat kau membuat kesepakatan itu, kau pastikan hatimu terlebih dahulu. Jangan sampai kau mengorbankan perasaan orang lain demi memuaskan ego-mu sendiri." ucap Madeline lalu di akhiri dengan senyum simpul.


Pierre menundukkan kepala, ia tak berani menatap Madeline yang terus menatapnya dengan tatapan kecewa.


"Maaf...," Satu kata. Namun itu semua tak bisa menghapus rasa yang Madeline rasakan saat ini.

__ADS_1


Madeline kembali menggelengkan kepala,"Simpan kata maafmu itu, Pierre."


"Beri aku alasan kenapa kau tega melakukan hal ini padaku? Bukankah secara tak langsung aku adalah pihak di rugikan saat ini?"


__ADS_2