
Madeline mulai melakukan kegiatan seperti biasanya. Hanya saja kali ini ia begitu tidak bersemangat, karena harus bertemu dengan Pierre yang terus mendesak dirinya untuk menikah dengannya.
"Kau seperti tak semangat kali ini?" tanya Saviero tak lain adalah sepupu Madeline yang baru saja sampai di Mansion.
"Aku tak semangat bekerja kali ini," keluhnya.
Seluruh anggota keluarga yang berada di ruang makan menatap Madeline dengan heran. Pasalnya, ini adalah kali pertama Madeline setelah 5 tahun bekerja mengeluh tidak bersemangat kerja.
"Sejak kapan Madeline Elana Marshall tidak bersemangat kerja?" tanya Abella dengan menggoda.
"Sejak Pierre membuatku malu di acara pernikahan mantan kekasihnya." sungut Madeline sambil melahap spaghetti miliknya.
Semua anggota keluarga menatap Madeline dengan berdecak sambil mengulas senyum.
"Jangan kau bawa beban, jika memang kau tak ingin, kami takkan memaksa." ucap Daddy Garry sambil menuangkan air di dalam gelas.
Madeline mengangguk,"Baik Dad,"
Setelah selesai sarapan pagi, Madeline langsung bergegas ke rumah sakit. Mengingat hari ini ia memiliki jadwal operasi pada pasien penderita kanker payudara, tentu ia harus berangkat lebih cepat.
Benar saja, baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan miliknya, Madeline sudah di hadang oleh Pierre yang sejak tadi menunggu di depan pintu.
"Mau apa?" tantang Madeline yang merasa kesal. Apa ia tak bisa tenang sekali saja? Tanpa gangguan dari Pierre.
"Aku hanya ingin kita membuat kesepakatan, Dokter Madeline." ucap Pierre sambil melipat kedua tangannya di dada.
Madeline langsung menyingkirkan tubuh Pierre yang menghalanginya untuk masuk.
"Aku tidak butuh kesepakatan apapun dan juga tak ingin menikah denganmu. Pergi dari sini! Aku tak ingin rumor itu semakin menyebar luas." usir Madeline sambil mengibaskan tangan.
Pierre justru tersenyum smirk,"Bukankah bagus jika seperti itu, akan menambah keyakinan orang pada kita. Bahwa kita pernah menjalin hubungan meski itu semua kepalsuan?" tanyanya.
Wanita itu sampai mengepal tangan karena emosi, menghadapi Pierre yang keras dan ingin menang sendiri benar-benar sulit.
__ADS_1
"Aku tak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu Dokter Pierre Cardin Spencer. Aku ada jadwal operasi hari ini," sungut Madeline yang tak ingin memperpanjang waktu untuk berdebat dengan Pierre.
Jika sedang berhubungan dengan nyawa pasien, Pierre langsung berubah menjadi mode serius. Meski pembicaraan dengan Madeline juga terbilang serius, karena menyangkut harga dirinya yang tercoreng.
"Baiklah, setelah ini aku akan menemui kembali. Kebetulan pagi ini aku ingin melakukan radioterapi untuk pasienku." ucapnya yang kemudian berlalu meninggalkan Madeline yang masih diam di tempat.
Madeline menghela napas dengan panjang, hidupnya semakin sulit sejak kehadiran Pierre. Ditambah pria itu meminta dirinya untuk menjadi istrinya. Benar-benar rumit!
Daripada Madeline memikirkan Pierre, lebih baik ia bersiap. Karena sebentar lagi waktu operasi akan di mulai.
Madeline bergegas mengganti pakaian jas putihnya menjadi baju bedah, baju yang biasa ia gunakan saat melakukan operasi pada pasien.
"Aku harus fokus!" Madeline menyemangati dirinya agar bisa terus konsentrasi selama melakukan bedah.
Tak jauh berbeda dengan Madeline, pria itu kini sedang menangani pasien yang akan melakukan pengobatan kanker dengan Radioterapi.
Memang tidak semua kanker harus di tangani melalui operasi. Ada beberapa kanker yang bisa tangani dengan Radioterapi. Seperti kanker nasofaring, pasien yang kali ini Pierre tangani adalah penderita kanker nasofaring, yang dimana pengobatannya bisa menggunakan Radioterapi laser yang energi sinarnya dapat memb*nuh sel kanker.
Keduanya sibuk mengemban tugas masing-masing. Sebagai seorang dokter, membuat keduanya lebih mengedepankan nurani mereka untuk menolong sesama tanpa mengenal bulu.
"Aku harus segera pergi, sebelum Pierre datang untuk mendesakku." ucap Madeline yang mempercepat langkah kakinya agar segera menuju ke parkir.
Namun keberuntungan lagi dan lagi tidak berada di pihak Madeline, Pierre datang dari arah berlawanan. Melihat hal itu Madeline langsung memutar arah dan berusaha lari.
"Oh damn! Ternyata kau berniat menghindariku." umpat Pierre yang berusaha mengejar Madeline yang sudah berlari menjauh.
Tidak menyerah, Pierre terus berusaha mengejar Madeline. Hingga Madeline pun berhenti di gudang rumah sakit. Karena terdesak, ditambah Pierre yang semakin mendekat ke arahnya, membuat Madeline memasuki gudang yang saat ini terbuka.
Madeline mengumpat di salah satu bilik yang dapat ia gunakan untuk bersembunyi dari Pierre. Begitupun dengan Pierre, pria itu tidak berhenti untuk mengejar Madeline. Hingga ia melihat pintu gudang yang terbuka, dan Pierre bisa yakini jika Madeline berada di dalam sana dan mengumpat. Mengingat tak ada tempat lagi.
Langkah kaki Pierre memasuki gudang yang tampak kotor dan lembab, dengan berbagai alat rumah sakit yang tak layak pakai.
"Madeline...." panggil Pierre yang terus berjalan menyusuri setiap sudut gudang.
__ADS_1
Sementara yang sejak tadi di panggil kini merasa cemas, ia takut Pierre berhasil menemukan dirinya.
"Jangan kesini, kumohon! jangan kesini," rapal Madeline.
Langkah kaki Pierre terus menelusuri gudang, hingga langkahnya terhenti di salah satu bilik yang ia yakini Madeline berada di sana.
"Aku yakin kau berada di sini, Madeline. Kau tak bisa lari lagi setelah ini," ucap Pierre yang dengan sengaja meninggikan suaranya.
mendengar hal itu membuat Madeline semakin takut. Bukan takut Pierre akan menyakiti dirinya, ia hanya takut Pierre terus mendesaknya, dan hal itu membuatnya semakin terpojokkan dan tertekan.
Gotcha! Pierre akhirnya menemukan Madeline yang berada di balik bilik.
"Kau berusaha menghindar dariku rupanya, Dokter Madeline Elana Marshall," ucap Pierre.
Madeline menggelengkan kepala,"Berhenti menekanku! Kau bisa mencari wanita lain untuk menjadi wanitamu," sentaknya.
"Karena kau sudah terlanjur aku perkenalkan pada semua orang, jadi kurasa mencari orang lain adalah hal mustahil," jawab Pierre yang begitu gigih.
"Aku tidak mau!" ucap Madeline dengan tegas.
Pierre mendekati Madeline, hingga Madeline pun mundur perlahan hingga tubuhnya bertubrukan dengan tembok. langkah kaki Pierre terus mendekat hingga hanya tersisa sejengkal jarak.
"Mau tidak mau kita harus menikah demi menyelamatkan harga diri kita berdua," putus Pierre dengan final.
Madeline tetap bersikeras dengan pendiriannya,"Bukan harga diriku, namun harga dirimu."
Pierre langsung merengkuh tubuh Madeline, agar tidak memiliki celah untuk kabur atau lebih tepatnya sebelum Madeline menyetujui rencananya.
"Lepas!!" sentak Madeline, namun Pierre semakin mengencangkan rengkuhannya pada pinggang Madeline.
"Tidak akan aku lepaskan sebelum kau menyetujui kesepakatan yang telah aku buat," tekan Pierre.
Hingga mereka tak menyadari jika ada orang yang kini memasuki gudang karena mendengar suara orang bertengkar dari luar.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan?" tanya orang itu.