My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 59 | Pierre berubah


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh Pierre sampai di halaman rumah sakit, madeline langsung segera keluar dari mobil Pierre. Mengingat dirinya sudah telat karena bangun kesiangan.


"Hati-hati, Pierre. Jangan ngebut!" pesan Madeline.


"Ya." Pierre langsung menutup kaca mobil miliknya dan berlalu begitu saja meninggalkan Madeline.


Madeline menatap Pierre dengan heran, pasalnya ada yang berbeda dengan pria itu. Tidak seperti malam tadi.


"Are you okey, Pierre? Apa kau sedang sakit?" tanya Madeline dengan nada khawatir.


Pierre menggelengkan kepala,"Tidak! Aku hanya kurang tidur saja." jawabnya dengan jujur.


Apa yang dikatakan oleh Pierre memang benar adanya. Pria itu tidak bisa tidak dengan nyenyak, selain Madeline yang tidurnya tak bisa diam, tidur lelap Pierre juga kembali di usik dengan beberapa pesan dan panggilan dan Yara malam itu.


Yara memintanya untuk bertemu, namun Pierre mengabaikan itu semua hingga membuat wanita yang menjadi masa lalunya itu terus menghubunginya dirinya.


Pierre tentu menolak itu semua, hingga pada akhirnya ia memblokir nomor Yara.

__ADS_1


Madeline mengulas senyum tipis,"Baiklah, aku masuk ke dalam dulu."


Madeline tak ingin ambil pusing dengan perubahan Pierre, mungkin Pierre sedang kelelahan dan lapar. Mengingat dirinya tidak menyiapkan apapun untuk suaminya itu.


Langkah kaki Madeline memyusuri lorong rumah sakit yang sepi, wanita itu segera berjalan menuju ruangan miliknya untuk segera bersiap.


Madeline yang sedang terburu-buru hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit untuk bersiap, mengingat operasi kali harus segera di lakukan.


Pakaian steril sudah membalut tubuh Madeline tak lupa dengan penutup kepala, masker dan hand gloves yang Madeline kenakan.


"Semoga lancar." Madeline menyemangati dirinya sendiri. Berharap operasi kali ini berjalan dengan lancar, langkah kakinya perlahan memasuki ruangan yang terasa begitu dingin dan menusuk kulit.


***


Pierre terus mengendarai mobilnya, melalui jalan yang sering ia lewati. Keadaan lalu lintas kali ini terbilang cukup padat hingga mengakibatkan kemacetan.


Pria itu sangat membenci kemacetan, berkali-kali berdecak sebal. Entah apa yang membuatnya merasa hidupnya terlalu banyak sekali masalah yang tak berkesudahan.

__ADS_1


"Damn! Tahu begitu lebih baik aku tidur seharian di apartment." rutuk Pierre.


Permintaan Yara yang ingin bertemu dengan dirinya dan juga tentang dirinya yang sampai saat ini belum juga di angkat menjadi direktur rumah sakit. Ah! rasanya kepala Pierre ingin pecah saat ini juga.


Sebelum kembali ke apartment, Pierre terlebih dahulu menghampiri restoran untuk mengisi perutnya yang saat ini tengah berdemo.


Pierre terlihat layu bagaikan bunga yang kurang di beri pupuk dan air. Berkali-kali pria itu menenggak air mineral miliknya hingga tandas, pria itu kekurangan waktu istirahat hingga membuat dirinya seperti itu.


Makanan yang Pierre pesan akhirnya datang juga, pria itu melahap makanan miliknya hingga tak tersisa.


"Ah! Akhirnya kenyang juga." ucap Pierre dengan lega.


Pierre menatap sekeliling, terasa sangat sepi. Hingga atensi menangkap siluet tubuh yang sangat ia kenali.


Ya, wanita yang semalam mengusik waktu tidur nyenyak-nya itu. Pierre memutuskan untuk segera pergi sebelum wanita itu menyadari keberadaannya, ia sedang tak ingin bertemu mantan kekasihnya itu.


Tapi keberuntungan sedang tak ada di pihak Pierre, Yara justru sudah lebih dulu berjalan mendekatinya. Wanita itu menghalangi langkah Pierre yang ingin pergi meninggalkan restoran.

__ADS_1


"Mau kemana? Mau menghindariku, huh?" Tanya Yara.


"Apa segitu bencinya kau terhadapku hingga membuatmu harus menjaga jarak seperti ini." ucap Yara dengan lirih.


__ADS_2