
Sebelumnya, Pasien Alcie telah di bius total terlebih dahulu. Kini Dokter Madeline melaksanakan tugasnya.
Suara Dokter Belinda yang merupakan Dokter dari departemen kandungan tampak menghentikan kegiatan Madeline. Namun, wanita itu tetap fokus.
"Ini tidak bisa di hentikan, Dokter Belinda. Tumor yang di derita olehnya lebih besar dari yang sudah kita perkirakan. Dan ini adalah hal yang rumit," ucap Madeline tanpa mengalihkan atensinya.
Begitupun dengan Pierre, Dokter Pierre mendekat ke arah Madeline melihat sebesar apa tumor yang di maksud Madeline.
"Di sekitar tumor yang di deritanya ada gumpalan darah yang bisa memperparah kondisinya. Ini akan mengakibatkan pendarahan setelah operasi," jelas Dokter Pierre.
"Ini tidak bisa kita biarkan. Jika pendarahan ini terjadi, bukan hanya nyawa sang ibu yang terancam. Namun, nyawa bayinya ikut terancam," kata Dokter Belinda sambil memasang surgical gloves steril atau sarung tangan.
"Kita harus segera mengeluarkan bayinya," putus Dokter Belinda sambil meminta alat bedah pada asistennya.
Hingga pintu ruangan operasi pun terbuka, Tuan Spencer datang dengan mengenakan pakaian steril.
"Aku akan ikut dalam operasi gabungan ini." ucap Tuan Spencer sambil berjalan menghampiri Dokter Belinda.
Pierre menatap ke arah tuan Spencer yang tak lain adalah Daddy-nya.
"Aku tahu, kau takkan membiarkan kami semua menghadapi semua ini," ucap Dokter Pierre sambil memberikan pisau bedah kepada Dokter Belinda.
"Gunting bedah," Pinta Madeline pada Pierre yang tengah memantau melalui layar.
Pierre memberikan apa yang di butuhkan Madeline, sambil membantu Madeline. Dokter pria itu tampak membantu beberapa rekan dokter lain, Dan Dokter Pierre juga memantau tekanan darah pasien.
"Bagaimana dengan tekanan darah, Dokter pierre?" tanya Madeline yang kini fokus dengan pembuluh darah pasien.
"Terus menurun," jawab Pierre.
Madeline cukup khawatir sebenarnya, namun ia harus yakin bahwa nyawa wanita ini akan selamat beserta dengan bayinya.
"Bayinya sudah keluar." ucap Dokter Belinda yang menggendong bayi merah itu.
Dokter Pierre yang kini membantu Madeline bertanya pada Dokter Belinda.
"Bagaimana kondisi bayinya?" tanya Pierre.
"Terlahir prematur, bobot bayi tidak sampai 2 kilogram," ungkap Dokter Belinda yang kembali melanjutkan pekerjaannya, menjahit luka bekas operasi.
__ADS_1
Sementara sang bayi, Kini ia berada di bawah penanganan Dokter Spencer.
"Bayi akan segera di bawa ke inkubator untuk penanganan lebih lanjut, kurang lebihnya satu bulan sampai bobotnya mencapai berat rata-rata," ucap Dokter Spencer.
Dokter Spencer meminta beberapa asisten Dokter untuk membawa bayi mungil itu ke inkubator untuk penanganan lebih lanjut.
Sementara Madeline, Dokter wanita itu bersama Pierre sibuk mengangkat tumor yang ada di otak pasien. Keduanya tampak begitu fokus, hingga kini tugas mereka hampir selesai.
"Bagaimana?" tanya Madeline pada Pierre.
"Tekanan darah terus menurun, detak jantung juga sedang tak baik kali ini," ucap Dokter Pierre.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga, Dokter yang berada di ruangan ikut turun untuk menganalisa apa yang harus mereka lakukan untuk pasien.
"Klem," pinta Madeline.
Dokter yang berada di dekat Madeline memberikan apa yang wanita itu minta, Madeline begitu fokus dengan pekerjaannya.
"Bertahanlah, Dokter Madeline. Kami semua mempercayaimu," Dokter Arsen menyemangati Madeline terlihat begitu lelah.
Madeline hanya mengangguk, wanita itu begitu fokus. Hanya bertanya jika tentang seputaran kondisi pasien yang ada di tangannya.
Pierre menatap ke arah rekan-rekan yang ada di ruangan.
"Pendarahan telah berhenti, dan kondisi sudah mulai stabil," ucap Madeline dengan bangga. Akhirnya ia bisa menyelamatkan dua nyawa manusia dalam satu waktu.
Hal ini tak pernah ada dalam benak Madeline, awalnya semua meragukan dirinya. Namun, lihatlah Madeline berhasil melakukan ini semua.
Semua Dokter yang ada di ruangan bernapas lega. Mereka bangga dengan kehebatan dokter Madeline. Setelah kurang lebih 6 jam di ruang operasi menyelamatkan dua nyawa, kini akhirnya para dokter dari departemen onkologi akhirnya selesai dalam misi penyelamatan itu.
"Kau benar-benar membanggakan Dokter madeline," ucap Dokter Arsen yang begitu bangga, awalnya pria itu meragukan dirinya. Namun, kini membanggakan dirinya.
Madeline tersenyum tipis,"Ini semua tak lepas dari kerjasama kita semua," ucapnya.
Untuk penanganan selanjutnya, Dokter Madeline menyerahkan itu semua pada dokter Pierre. Karena, dokter Pierre lah yang sejak awal mengetahui keadaan pasien Alcie. Mungkin sesekali Madeline akan memantau perkembangan selanjutnya.
Dokter Madeline mengganti pakaian beda miliknya dengan pakaian formal yang biasa ia kenakan, tak lupa dengan jas putih yang selalu membalut tubuhnya.
****************
__ADS_1
Keberhasilan Madeline kali ini mendapat banyak pujian dari rekan sejawatnya. Begitupun Dokter Belinda yang ikut terlibat disana. Setelah beristirahat kurang lebih 15 menit lamanya, Madeline memutuskan untuk ke kantin dan bertemu dengan rekannya.
"Jangan terlalu berlebihan, harusnya kalian memuji semua Dokter yang ada di departemen onkologi. Karena tanpa mereka semua, operasi ini tidak akan berjalan dengan lancar," Madeline terus merendah. Ia memang sudah sering kali mendapat berbagai pujian di saat seperti ini.
"Tetapi tanpa kehebatan yang kau miliki, semua ini takkan terjadi. Mungkin beberapa orang di departemen onkologi akan menolak melakukan hal ini," seloroh Suster Alesha.
"Mungkin setelah ini kau bisa menjadi kepala departemen onkologi karena keberhasilan yang kau capai," sambung Suster Alesha yang begitu hiperbola memuji Madeline.
Madeline menggelengkan kepala, rekan kerjanya yang satu ini selalu seperti itu.
"Aku ingin ke kantin. Perutku mulai berdemo saat ini," pamit Madeline.
Dokter Madeline berjalan menuju kantin, kini wanita itu kembali bertemu dengan Pierre yang tak lain suaminya sendiri.
"Mau kemana?" tanya Pierre.
Madeline memutar bola matanya dengan malas.
"Bukan urusanmu." jawabnya dengan singkat. Lalu Madeline meninggalkan Pierre, wanita itu berjalan ke arah kantin.
Langkah Madeline tertahan, karena pierre menjegal langkah kakinya.
"Tentu saja ini urusanku, kau adalah milikku sekarang," ucap Pierre yang tak terima.
"Sebatas istri status, tolong tekankan itu," tekan Madeline yang langsung berjalan menuju kantin.
Tak memikirkan Pierre yang terus mengikutinya. Yang penting, saat ini Madeline harus mengisi perutnya yang keroncongan.
"Madeline... Tunggu." Pierre terus mengejar Madeline hingga sampai ke kantin.
Madeline sampai menghela napas dengan panjang,"Apalagi?" tanyanya.
Pierre yang melihat wajah Madeline terlihat begitu pucat merasa bersalah, ia mengerti. Mungkin saat ini Madeline tengah lapar, mengingat keduanya berangkat ke rumah sakit dengan melewatkan jadwal makan mereka.
"Anak dari departemen onkologi ingin mengadakan makan bersama sebagai bentuk keberhasilan karena telah berhasil dalam operasi kali ini," ungkap Pierre. Bukan tanpa sebab, mengingat operasi kali ini adalah pengalaman menegangkan sekaligus hal yang pertama di rumah sakit ini.
Madeline tampak berpikir, sebenarnya ia juga ingin. Hanya saja untuk kali ini ia belum bisa mengambil keputusan, mengingat dirinya tengah di sibukkan dengan berbagai kegiatan dari keluarga Eduardo.
"Aku tak bisa janji, esok aku ada janji di mansion keluarga dan tentunya kau harus ikut bersamaku. Mengingat saat ini kau adalah pasanganku," ucap Madeline yang kemudian memesan makanan untuk mengisi perutnya.
__ADS_1