My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 81 | Tak butuh harta


__ADS_3

Mungkin ini sudah memang jalannya untuk tuan Spencer memberi jawaban atas pertanyaan yang Madeline berikan. Ia terus merutuki kebodohan putranya yang selalu mengedepankan ego-nya dengan alasan cinta.


Cinta? Yang benar saja, jika Yara benar cinta harusnya ia bisa menolak segala bujuk rayu yang keluarganya lancarkan dan berusaha meyakinkan bahwa Pierre adalah pilihannya. Bukan menerima perjodohan yang ia sendiri tak inginkan itu.


Pierre benar-benar membuatnya malu dan murka dalam satu waktu di hadapan menantunya saat ini.


Madeline yang terlihat tak ingin banyak basa-basi pun membuat tuan Spencer menjawab.


"Kau benar, nak." Tuan Spencer pun membenarkan pertanyaan yang ia lontarkan.


Madeline yang mendengarnya pun hanya bisa tersenyum miris. Ia mengasihani dirinya sendiri yang begitu polos.


"Kau sengaja menutupi ini semua dariku?" Tanya Madeline.


Perasaan bersalah mulai bersarang di hati Tuan Spencer. Tanpa ia sadari, ia juga ikut menutupi kebusukan putranya yang telah tega menyelingkuhi menantunya.


Sebenarnya ia tak ingin melakukan hal ini, namun rasa tak rela jika nantinya Madeline menceraikan putranya membuat Tuan Spencer memilih untuk menutupi hal ini.


"Aku hanya tak ingin kehilangan menantu sepertimu, nak." Alasan yang benar tak bisa Madeline terima.

__ADS_1


Kehilangan? Bukankah dengan cara seperti sudah secara tak langsung menyakiti Madeline?


"Alasan yang kau berikan tak bisa di terima oleh logika ku, Dad." seru Madeline yang sedang berusaha menekan emosinya agar tidak meledak-ledak.


"Bukankah dengan seperti itu secara tak langsung kau menginginkan hal itu terjadi?" Hal yang di maksud Madeline adalah perceraian.


Tuan Spencer menggelengkan kepala,"Kumohon mengerti perasaanku, nak. Kau seperti anakku sendiri."


Madeline sampai melongo mendengarnya. Ia di suruh menjaga perasaan orang tak telah melukai dirinya? Bukankah itu adalah hal gil*.


"Kau memintaku untuk menjaga perasaanmu, Tuan Spencer. Tapi apa kalian bisa menjaga perasaanku? Aku sudah cukup terluka karena semua ini. Putramu membawaku dalam rencananya dan memperlakukan aku semaunya." Madeline sudah tak bisa menahan diri untuk mengungkapkan isi hatinya.


Dan lagi, Tuan Spencer kembali di bungkam dengan penjelasan dari Madeline. Ia terlalu sibuk memikirkan nasib rumah tangga putranya yang ada di ujung tanduk, tanpa ia sadari semua itu sudah membuat menantunya terluka.


"Kasih aku pemahaman tentang menghargai perasaan kalian seperti apa, huh? Kalian terlalu egois, dan tanpa sadar perbuatan kalian sudah melukai seseorang." Isi hati Madeline pun tersampaikan juga meski terbesit rasa bersalah di hati Madeline.


"Maaf." Hanya satu kata itu yang terlontar dari bibir Tuan Spencer.


Madeline menggelengkan kepala,"Maaf takkan mampu mengobati rasa kecewa yang aku rasakan, Tuan Spencer."

__ADS_1


"Aku hanya manusia, aku punya hati, aku bisa merasa sakit dan kecewa jika di sakiti oleh orang. Dan aku juga bisa marah juga karena hal itu." Imbuh Madeline.


Tuan Spencer menatap dalam wajah menantunya. Jika di amati dengan seksama, dari raut wajah Madeline serta tatapan wanita itu tersirat kekecewaan mendalam yang ia tahu apa akar dari semua itu.


"Lalu apa yang kau inginkan agar keluarga kami bisa menebus kesalahan ini, nak?" sebenarnya Tuan Spencer sendiri ragu menanyakan hal ini. Namun, ia juga tak ingin menabuh genderang perang kepada keluarga Eduardo karena telah membuat Madeline seperti ini.


Madeline tersenyum miring, lalu ia bersitatap dengan tuan Spencer.


"Apapun?"


Tuan Spencer mengangguk,"Ya, apapun. Jika kau ingin meminta aset kami sekalipun, akan aku berikan."


Madeline sampai berdecak mendengarnya,"Aku tak butuh harta, aku terlahir dengan bergelimang harta dari keluarga Eduardo." ucap Madeline dengan sedikit angkuh.


Bisa-bisanya Tuan Spencer berpikir dirinya menginginkan sebuah harta. Madeline tidak se-matre itu.


"Lalu?"


"Aku akan menceraikan Pierre hari ini juga, dan aku harap kau menyetujui hal itu. Karena dalam hidupku, sebuah perselingkuhan adalah hal yang tak termaafkan."

__ADS_1


__ADS_2