
Melihat Madeline yang tengah bersedih, membuat Pierre meminta seluruh Dokter yang ada di ruangan untuk keluar. Ia akan menenangkan Madeline setelah ini.
"Kalian semua keluar! Biar aku yang menangani ini," usir Pierre pada semua Dokter.
Semua Dokter yang ada di ruangan segera keluar, hanya tertinggal Pierre dan Madeline saja yang ada di ruangan.
Suara isak tangis Madeline masih memenuhi ruangan pasien, tangisan yang terdengar pilu di telinga Pierre.
Naluri Pierre sebagai sesama manusia yang memiliki perasaan, membuatnya langsung membawa Madeline ke dalam pelukan.
"Tenanglah, aku disini." pinta Pierre, pria itu membiarkan Madeline meluapkan kesedihannya.
Madeline terus menangis, hingga beberapa saat lamanya suara isak tangis Madeline tidak lagi terdengar.
"Mereka memang bukan keluargaku, tapi melihatnya terbujur kaku seperti itu membuatku merasa gagal menjadi seorang Dokter," jelas Madeline dengan suara yang masih tercekat karena menangis.
Pierre menghela napas dengan panjang,"Madeline, Listen to me!"
"Kita hanyalah Dokter, bukan tuhan! Kita hanya perantara, bukan pembawa takdir yang bisa mengubah takdir. Jadi, kematian memang sudah takdir, dan kau tak bisa menyalahkan sepenuhnya pada Dokter," jelas Pierre dengan hati-hati.
Madeline langsung mendongak dari pelukan Pierre, menatap nyalang pria itu.
"Mungkin kau tak pernah tahu sakitnya kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupmu, Pierre. Makanya mulutmu bisa berbicara seenteng itu,"
"Jika kau ada di posisiku apa kau bisa kuat menjadi aku, huh?"
Pierre terdiam, ia memang tak pernah kehilangan orang terkasih seperti yang Madeline maksud. Namun menyalahkan Dokter karena lambat penanganan juga bukan sebuah hal yang bisa di benarkan.
Seperti penjelasan Dokter Arsen sebelumnya, pasien saat itu terlihat baik-baik saja. Namun saat siang hari, kondisinya mengalami penurunan. Hal seperti itu tidak ada yang bisa menduga, bukan?
"Kau tahu alasan aku memutuskan menjadi Dokter onkologi dari pada menjadi seorang agen rahasia seperti Daddyku?" tanya Madeline.
Pierre menggelengkan kepala,"Tidak!" serunya.
__ADS_1
Baiklah, Madeline akan menceritakan alasan ia terjun menjadi Dokter onkologi.
"Aku memiliki seorang ibu yang merupakan penderita kanker stadium dua. Berbagai pengobatan telah ia jalani termasuk kemoterapi maupun operasi, tapi kau tahu? Saat itu ibuku membutuhkan pertolongan Dokter, aku mencari Dokter itu di setiap sudut ruangan. Hingga aku menemukannya dirinya di sebuah ruangan,"
"Kau tahu apa yang tengah Dokter itu lakukan? Ia tengah sibuk dengan pesta obat-obatan terlarang, saat dimana ibuku membutuhkan pertolongan. Hingga akhirnya ibuku meregang nyawa karena terlambat penanganan. Bisa kau bayangkan menjadi aku seperti apa?"
"Maka dari itu, aku mendedikasikan diriku menjadi spesialis onkologi. Dengan harapan, takkan pernah ada seorang anak yang merasakan sakitnya kehilangan orang tersayang karena Dokter yang telat penanganan,"
"Dan karena hal itu juga, membuatku tak mengenal tentang percintaan, karena aku selalu mencambuk diriku dengan kisah masa laluku yang menyakitkan. Hingga seperti inilah aku, menjadi Dokter onkologi," Madeline menjelaskan panjang lebar kepada Pierre.
Mungkin terdengar berlebihan bagi orang yang tak pernah merasakan arti kehilangan, namun bagi Madeline. Ia telah merasakan sendiri, namun untuk pertama kalinya ia merasa gagal menjadi seorang Dokter.
Pierre hanya termangu mendengar penjelasan Madeline, betapa besar jiwa kemanusiaan yang Madeline miliki hingga tidak memikirkan dirinya sendiri.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, ini semua adalah takdir. Kita sebagai Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin," jawab Pierre.
"Tak perlu seperti itu, aku memang tak pernah merasakan kehilangan seperti yang kau rasakan, namun bukan berarti kita merasa gagal, bukankah kau tahu sendiri? Setiap kehidupan pasti akan ada kematian,"
"Kau bukan tuhan yang bisa menentukan hidup mati pasien di tanganmu, semua sudah di atur."
Tanpa ia tahu, jika takdir manusia sudah di atur oleh tuhan. Dan juga, dirinya hanyalah perantara bukanlah sang pengatur kehidupan.
"Benar katamu, Pierre. Aku terlalu ambisius akan hal ini, hingga pada akhirnya aku merasa kecewa karena tidak sesuai harapanku," ucap Madeline sambil menundukkan kepalanya.
Melihat Madeline yang seperti itu membuat Pierre berusaha menghiburnya,"Tak perlu bersedih seperti, kita hanya manusia biasa yang terlalu
banyak berharap. Itu semua tak salah, hanya saja untuk kedepannya jangan seperti itu lagi. Belajarlah untuk menerima kenyataan walau sulit." Pesan Pierre.
Mendengar ucapan Pierre yang terdengar masuk akal, membuat Madeline mengangguk.
"Ya, aku mengerti. Terima kasih telah membuat pikiranku terbuka," ucap Madeline dengan mengulas senyum.
Melihat hal itu, membuat Pierre gemas dan mengacak-acak pucuk rambut Madeline hingga merusak tatanan rambutnya.
__ADS_1
"Menyebalkan," gerutu Madeline sambil mencebikkan bibirnya.
Pierre menarik sudut bibirnya, Madeline tidak lagi bersedih.
"Sebagai bentuk karena kau tidak bersedih lagi, bagaimana jika kita makan di kantin. Hari ini kebetulan jadwal operasi sudah di pegang oleh Dokter Theo, bagaimana?" usul Pierre. Kapan lagi dirinya bisa akur dengan Madeline.
Madeline tampak berpikir, mengingat ucapan Pierre ketika di mansion Eduardo beberapa hari lalu. Pierre akan mengurangi jadwal operasi dan membaginya untuk rekan sejawatnya.
"Baiklah, sepertinya bukan ide buruk," jawab Madeline sambil terkekeh.
Sepasang Dokter yang merupakan suami-istri itu berjalan keluar ruangan, menuju kantin yang menyediakan berbagai makanan untuk para pengunjung.
Kantin di rumah sakit tempat Madeline bekerja memanglah memiliki makanan yang enak. Bahkan, ada ramen juga disana. Menyenangkan bukan? Maka dari itu Madeline begitu senang bekerja disini.
Sejak dirinya di nyatakan lulus saat internship 6 tahun lalu, Madeline memutuskan untuk melamar di rumah sakit yang saat ini menjadi tempatnya berkarir.
"Kau ingin apa?" tanya Pierre saat melihat Madeline yang hanya terdiam.
Madeline menoleh seraya menjawab,"Apapun, aku pemakan segalanya," jawabnya.
"Kayu dan batu, kau suka?" tanyanya dengan sedikit candaan.
Madeline mendengus sebal,"Tidak! Aku bukan orang seperti itu, samakan saja seperti menu pesananmu," balasnya.
Pierre mengangguk, pilihannya tertuju pada sebuah kedai makanan jepang. Ya, sushi dan ramen. Namun jangan salah, semua menu di kantin rumah sakit sudah di pastikan higienis.
Setelah memesan makanan untuk dirinya dan Madeline, Pierre langsung menuju kedai minuman. Untuk menghilangkan rasa haus yang ia rasakan saat ini.
"Minumlah! Aku tahu kau haus," ujar Pierre sambil menyodorkan air mineral pada Madeline.
Madeline yang merasa haus langsung mengambilnya dan meminumnya hingga rasa haus hilang.
"Thank's,"
__ADS_1
"Ternyata di balik sifat menyebalkan yang kau miliki, terselip juga sifat perhatian," gumam Madeline.