My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 56 | Dinner yang hangat


__ADS_3

Madeline sangat mengenal suara bariton itu, suara yang selalu menghubungi dirinya di sela kesibukannya yang padat.


"Raiden...," sahut Madeline dengan wajah berbinar.


Terakhir kali dirinya bertemu dengan Raiden adalah saat berkunjung ke mansion Eduardo saat Daddy-nya sakit. Wanita itu begitu merindukan sepupunya yang selalu menjaganya layaknya seorang adik.


Wanita itu langsung berdiri dan mendekati sepupunya, memeluk pria itu seperti yang biasa ia lakukan saat bertemu.


"Kenapa kau bisa kesini? Apa kau ada janji temu dengan klien?" cecar Madeline. Madeline memang tak pernah berubah, wanita itu sedikit berisik dan banyak bicara.


Tak hanya itu, Raiden menjadi satu-satunya sepupunya yang selalu ada untuknya dan sering kali menanyakan kabarnya. Berbeda dengan sepupunya yang satu, Piero. Pria itu terlalu sibuk menjadi budak cinta, hanya akan menghubungi dirinya jika sedang butuh saja.


Menyebalkan bukan? Namun itulah keluarganya yang sangat ia sayangi.


Mendengar pertanyaan Madeline membuat Raiden menarik sudut bibirnya,"Aku sedang ingin makan di luar. Kebetulan aku abis ketemu dengan klien tadi." jelas Raiden.


"Apa kau sedang Dinner bersama suami itu?" tanya Raiden sambil menunjuk ke arah Pierre yang tengah menatap tajam ke arahnya.


Madeline mengangguk,"Benar sekali! Apa kau ingin bergabung?" ajak Madeline.


Mendengar ajakan Madeline membuat kedua netra Pierre membola. Bagaimana bisa niatnya Dinner berdua dengan Madeline menjadi seperti ini? Bisa gagal total jika seperti ini jadinya.


Kurang lebih seperti itu jalan pikiran Pierre, Pria itu merasa keberadaan Raiden cukup membuat rencananya berantakan.


Raiden menatap sekilas wajah Pierre, sebagai sesama pria tentu ia tahu jika Pierre keberatan dengan keberadaannya jika tetap berada di sana bersamanya. Raiden tahu diri akan hal itu, dan ia tak ingin seperti nyamuk.

__ADS_1


"Tidak perlu! Aku sekalian berkumpul dengan temanku." tolak Raiden.


Madeline langsung mengerucut bibirnya, wanita itu seakan kecewa dengan keputusan yang di buat oleh Raiden.


"Yah... Sangat di sayangkan. Next time kita harus Dinner bersama, bagaimana?" usul Madeline yang memberikan opsi lain.


Raiden menganggukkan kepala setuju dengan pendapat Madeline,"Kau bisa atur kapan waktu tepatnya Maddy." ucapnya sambil mengacak-acak rambut wanita itu.


Madeline tentu tertawa akan perilaku manis sepupunya, tapi berbeda dengan Pierre yang langsung memasang wajah suntuk yang begitu kentara.


"Ya sudah! Aku harus segera mencari tempat dulu," pamit Raiden yang meninggalkan Madeline dan Pierre.


Madeline kembali ke tempat semula ia duduk, wanita lalu menatap Pierre yang tengah sibuk bermain ponsel karena merasa tak di anggap.


"Pierre...,"


"Maaf sudah membuatmu merasa di abaikan," ujar Madeline saat menyadari suasana yang mulai berbeda.


Pierre mendongak, menatap Madeline yang tengah menatap dirinya.


"Heem... It's okey, no problem!" jawabnya dengan santai.


Madeline bingung harus membuka topik pembicaraan apalagi, Pierre benar-benar sangat membingungkan kali ini. Tidak seperti biasanya dan cenderung irit bicara.


"Pierre...," panggilnya lagi.

__ADS_1


"Heem...,"


"Bicaralah! Jangan perang dingin seperti ini!" seru Madeline yang mulai kesal.


Pria itu kembali mengulas senyum miring, netranya menatap Madeline.


"Bagaimana? Tidak enak bukan jika di abaikan?" cecar Pierre.


Padahal baru ini Madeline seperti ini, sudah gitu dengan sepupunya sendiri, orang yang memiliki hubungan darah dengannya. Apa itu salah?


"Aku hanya berbicara dengan Raiden, Pierre. Dia sepupuku! Apa aku salah?" tanya Madeline yang masih belum mengerti letak kesalahannya.


Tidak! Madeline tidak salah, hanya saja suasana hatinya yang kalut membuatnya seperti ini. Apa efek membohongi Madeline membuatnya seperti ini? Entahlah! Pierre sendiri tak mengerti dengan dirinya sendiri.


Pierre menggelengkan kepala,"Tidak! Hanya saja aku paling tak suka di keberadaanku di abaikan." jawabnya dengan jujur.


Madeline menghela nafas dengan pelan,"Maaf! Aku terlalu antusias," jawabnya.


Pierre menggelengkan kepala,"Tak perlu di bahas lagi. Aku tak ingin kita bertengkar karena hal sepele." balas Pierre yang di balas anggukan oleh wanita itu.


Tak lama setelah percakapan keduanya, hidangan yang menjadi menu Dinner Madeline dan Pierre pun datang. Banyak makanan western serta beberapa dessert yang menjadi makanan penutup untuk keduanya.


"Lebih baik kita isi perut terlebih dahulu, setelah itu kita lanjutkan lagi." suruh Pierre.


Keduanya makan dengan khidmat dengan bertemakan lilin yang menambah kesan romantis di antara keduanya, sesekali baik Madeline dan Pierre saling bersuapan dan melempar senyum menikmati malam hangat ini.

__ADS_1


__ADS_2