My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 65 | Banyak Panggilan


__ADS_3

Mendengar jawaban lantang yang terlontar dari bibir Madeline membuat tuan Spencer menghela nafas dengan panjang. Tidak hanya sekali, namun beberapa kali untuk meredam emosi karena perbuatan bodohnya yang dilakukan oleh Pierre.


"Bukankah setiap orang punya kesalahan, nak? Bagaimana jika nantinya pasanganmu bisa berubah menjadi lebih baik?" tanya tuan Spencer.


Madeline yang mendengarnya langsung menoleh ke arah Tuan Spencer,"Apa itu artinya kau mendukung perselingkuhan, Dad?"


Hampir saja Tuan Spencer keceplosan, bisa-bisanya ia mengatakan hal itu di depan menantunya.


"Ah tidak, bukan seperti itu maksudku, nak." jawabnya.


Madeline berhadapan dengan Tuan Spencer, wanita itu mengulas senyum tipis,"Setiap orang memang punya kesalahan, Dad. Tapi untuk masalah perselingkuhan adalah kesalahan fatal dalam berumah tangga dan aku tak bisa memberikan toleransi untuk hal itu, Dad."


"Bagiku kesetiaan adalah nomer satu dalam sebuah hubungan, ibaratkan sebuah rumah. Kesetiaan layaknya sebuah fondasi menurutku. Jika kesetiaan itu hancur, ya sudah, hancur sudah rumah." jawabnya dengan jelas.


Setelah mengatakan hal itu Madeline langsung beranjak dari duduknya dam berdiri.


"Aku akhiri pembicaraan ini, Dad. Maaf jika aku terkesan tak sopan, pembicaraan kita kali ini semakin kemana-mana." Madeline memilih mengakhiri pembicaraan ini. Ia tak ingin pikirannya yang tengah sulit untuk berkonsentrasi semakin terkontaminasi dengan ucapan dari ayah menantu.


Sebenarnya apa yang di ucapkan Tuan Spencer tidak ada yang salah, hanya saja ini terkesan mencampuri bagi Madeline.


Tapi, melihat dari pembicaraan tadi. Ia merasa seperti ada yang tak beres, apa ini ada kaitannya dengan rumah tangganya dengan Pierre? Entahlah, Madeline Berusaha membuang segala energi negatif agar tidak membuatnya tersugesti.

__ADS_1


Sementara Tuan Spencer, pria paruh baya itu hanya menatap kepergian menantu.


"Apa aku terlalu mencampuri hubungan anak dan menantuku?" pikir tuan Spencer.


"Maaf nak, aku telah menutupi segalanya darimu. Tapi aku berjanji takkan menghalangi setiap langkahmu jika nantinya putraku tertangkap basah olehmu." Tuan Spencer tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh putranya, tidak semua hal harus memakai perasaan. Dan Tuan Spencer rasa untuk hal itu adalah sepenuhnya salah Pierre.


Putranya benar-benar pria br*ngsek yang membuat masalah,"Aku benar-benar akan memberikanmu pelajaran, son." tekadnya dengan penuh keyakinan.


***


Berbeda dengan Pierre yang saat ini tengah menghabiskan waktu berdua dengan Yara di sebuah taman yang ada di pusat kota.


Entah kenapa ia merasa apa yang dilakukannya saat ini adalah hal yang salah, pikirannya terus berkelana akan tentang Madeline. Bagaimana jika wanita itu tahu ia masih menjalin hubungan dengan Yara, apa reaksinya? Bagaimana hubungannya dengan Madeline.


Yara yang sejak tadi melihat Pierre terdiam langsung menepuk bahu pria itu.


"Apa yang kau pikirkan, Pierre?" tanya Yara.


Pierre terkejut, ia terlalu memikirkan perasaan orang lain hingga tak menyadari jika saat ini tengah bersama Yara.


"Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan pasien." Alibi Pierre.

__ADS_1


Yara hanya mengangguk saja, ia tidak bisa bicara jika menyangkut tentang pasien. Toh, ia bukanlah Dokter.


Keduanya berbincang seperti yang mereka lakukan dulu saat masih bersama, hingga waktu pun sudah mulai gelap, pertanda malam mulai tiba.


Pierre duduk di bangku taman sambil menghidupkan ponselnya yang tadi dinonaktifkan oleh Yara.


"Pasti daritadi Madeline terus menghubungiku," pikirnya.


Saat ponsel Pierre aktif. Benar saja, banyak sekali panggilan masuk. Bukan hanya dari Madeline, namun dari rekan sejawatnya dan beberapa orang terdekatnya.


Dan yang lebih mengejutkan adalah panggilan dari Tuan Spencer atau Daddy-nya.


Pierre langsung mencoba menghubungi kembali Daddy-nya.


"Dad...," panggil Pierre saat sambungan teleponnya terhubung kepada tuan Spencer.


"Dimana kau, huh?"


"Di luar."


"Cepat ke mansion!" serunya tanpa bisa di ganggu gugat.

__ADS_1


"Ta-tapi, Dad...,"


"Tak pakai tapi, cepat kesini atau Dad yang menjemputmu." ancam Tuan Spencer yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


__ADS_2