
Sejak kejadian malam di mana Pierre menawarkan sebuah hubungan pada Madeline, pria itu terus menerus mencecar Madeline tanpa henti. Seperti saat ini, Madeline yang baru saja terbangun langsung di sodorkan dengan pertanyaan konyol oleh Pierre. Hingga membuat suasana hati Madeline mendadak memburuk.
"Pierre, Please! Aku baru saja terbangun, dan kau dari semalam selalu menanyakan hal itu. Bukankah sudah aku bilang, aku memikirkan terlebih dahulu, ini masalah hati dan Perasaan, aku tak ingin salah langkah karena menuruti keinginanmu itu," jelas Madeline dengan penuh kekesalan.
Ya, Pierre tidur bersama dalam satu ranjang. Sepertinya ucapan Madeline tidak benar adanya, buktinya tubuh Pierre tidak merasakan sakit. Harusnya, jika memang tidur Madeline berantakan, tubuh Pierre saat ini ada di lantai. Bukan di kasur dengan berbalut selimut yang sama dengan Madeline.
"Harus berapa lama aku menunggu, itu terlalu lama untukku," jawab Pierre.
Madeline yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya langsung menjawab.
"Entahlah aku tak bisa menjanjikan hal itu padamu, aku terlalu sibuk," jawab Madeline dengan asal.
Pierre langsung menyungging senyum,"Kau sibuk? Baiklah aku akan mengatur ulang jadwal bedah mu agar kau bisa segera memberi jawaban padaku, bagaimana?" usul Pierre.
Madeline mendengus sebal, berhadapan dengan Pierre benar-benar membuatnya tak bisa berkutik sekali saja.
"Sesuka hatimu saja, aku malas berbicara padamu. Kau bilang padaku katanya akan memperlakukan aku dengan baik, namun nyatanya, kau justru mengintimidasi diriku dengan berbagai rencanamu," kesal Madeline.
Mungkin bagi siapapun yang ada di posisi Madeline akan merasakan hal yang sama. Kesal yang tiada habisnya jika menghadapi Pierre yang begitu semaunya pada dirinya.
"Itu berlaku jika kau sudah mengambil keputusan. Maka dari itu, semakin cepat kau mengambil keputusan, semakin cepat pula kau akan di perlakukan dengan baik olehku. Bagaimana? Tawaran menggiurkan, bukan?" iming-iming yang di berikan oleh Pierre bagaikan angin segar bagi orang tak mengenal jauh seorang Pierre. Tapi, berbeda jika orang itu telah mengenal lebih dalam Pierre.
Madeline bingung harus menjawab apa, sedangkan dirinya saat ini tengah bimbang karena hal itu bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan. Perasaan Madeline kepada Pierre masih samar-samar, namun mengingat permintaan Daddy-nya yang ingin dirinya membuka hati pada suaminya membuat Madeline mau tak mau harus melakukan itu.
"Apa kau bisa menjamin semuanya, jika nantinya salah satu dari kita ada perasaan lebih akan berakhir bahagia?" tanya Madeline.
Pierre menggelengkan kepala,"Aku memang tak bisa memastikan hal itu. Bahagia itu bukan di cari tapi di ciptakan. Maka dari itu, kita harus membangun hubungan ini hingga tercipta kebahagiaan," jelas Pierre dengan asal.
"Tapi, semua hubungan memang tidak selalu berakhir bahagia. Selalu ada luka dan air mata, namun itu semua untuk menguji kekuatan cinta, maka setelah itu barulah di temukan kebahagiaan," imbuh Pierre dengan puitis.
Madeline yang awalnya tak mengerti dengan ucapan Pierre perlahan mengerti, wanita itu mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencobanya. Bantu aku caranya jatuh cinta," pinta Madeline dengan mantap. Ia yakin, Pierre akan menepati janjinya.
Mendengar ucapan Madeline membuat detak jantung Pierre berdetak tak karuan, ia merasa jantungnya tak baik-baik saja kali ini.
Pierre memberi jawaban dengan sebuah anggukan,"Akan aku usahakan, bantu aku melupakan Yara dan mengisi namamu di hatiku," pinta Pierre.
Madeline mengangguk,"Tentu," jawabnya dengan menampilkan segaris senyum indah.
Tanpa ba-bi-bu, Pierre mendekati Madeline dan memeluknya. Madeline langsung terpaku, ini adalah kali pertama ia mendapat pelukan dari pria lain. Tentunya selain para sepupunya, melihat Madeline yang hanya terdiam membuat Pierre penasaran.
"Kenapa?" tanya Pierre tanpa melepas pelukannya.
Madeline yang sadar akan reaksinya langsung bersemu merah.
"Tidak! Aku hanya terkejut saja, ini adalah kali pertamaku di peluk oleh pria lain, selain sepupuku," jelas Madeline dengan jujur.
Polos sekali bukan seorang Madeline, memiliki sepupu laki-laki membuat Madeline begitu di jaga sekali oleh Raiden dan Saviero.
Madeline mengangguk,"Benar, sepupuku begitu protektif kepadaku. Bahkan, tak membiarkan aku dekat dengan pria yang menurut mereka tak baik baik. Maka dari itu, aku begitu buta jika tentang percintaan," ungkapnya.
Pierre mengerti,"Baiklah, bersamaku kau akan belajar hal itu,"
Tak ada dalam benak Madeline akan berakhir seperti ini, mencoba membuka hati pada seorang pria yang merupakan rekan sejawatnya. Orang yang sering kali mencibir dirinya, dan membuat tingkah yang menurut Madeline begitu ajaib.
Madeline berharap, semoga hubungan yang baru ia jalin dengan Pierre akan selalu bahagia tanpa di warnai berbagai konflik yang begitu menyakitkan nantinya.
"Apa kau akan terus memeluk tubuhku? Hari sudah semakin siang, kita harus segera kembali ke apartment," ingat Madeline.
Pierre tersadar, tubuh Madeline yang menurutnya terlalu kecil membuatnya begitu nyaman memeluknya.
"Maaf," ucap Pierre sambil terkekeh. Lalu pria itu mengacak-acak rambut Madeline hingga wanita itu mendengus sebal.
__ADS_1
"Jangan mengacak-acak rambutku, menyebalkan!" decak Madeline yang langsung mendapat tawa dari Pierre.
"Ternyata kau menggemaskan jika sedang kesal," celetuk Pierre.
Mendengar pujian dari Pierre membuat pipi Madeline bersemu merah. Tak pernah sekalipun ia mendapat pujian dari pria lain kecuali keluarganya.
"Berhenti menggodaku, Pierre." pekik Madeline yang teramat malu.
Bukan berhenti, Pierre justru semakin menggoda Madeline. Hingga membuat Madeline langsung meninggalkan pria itu begitu saja di kamar miliknya.
"Kau menyebalkan, Pierre," kesal Madeline yang langsung bergegas keluar dari kamar miliknya menuju ruang makan di mansion Eduardo.
Pierre sampai berdecak," kau benar-benar lucu, Madeline," ucapnya yang mengikuti langkah Madeline menuju meja makan.
Pierre pikir, keluarga Eduardo adalah orang yang begitu dingin menurutnya. Terlihat dari raut wajah anggota keluarganya begitu dingin dan datar bagaikan kutub utara,
Namun ternyata Pierre salah menilai, keluarga Eduardo begitu hangat dan ramah. Pantas saja Madeline begitu senang jika di mansion keluarga ini. Ternyata keluarga Eduardo begitu penyayang kepada istrinya.
Dan disinilah Pierre berada, di ruang makan mansion Eduardo.
"Apa tidurmu nyenyak, Pierre?" tanya Daddy Garry.
"Nyenyak, Dad," jawabnya dengan asal. Tanpa siapapun tahu, jika ia sejak malam terus menganggu tidur orang demi menuntaskan keinginannya.
Daddy Garry menganggukkan kepalanya,"Baguslah,"
"Apa kondisimu sudah membaik, Dad?" tanya Pierre. Terlihat dari wajah Daddy Garry yang terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Sudah," jawabnya.
Interaksi anak menantu itu tak luput dari perhatian keluarga Eduardo, termasuk putra sulungnya yaitu Raiden. Pria itu menatap intens ke arah Pierre.
__ADS_1
"Sejak kapan kau ada di mansion ini?" tanyanya dengan wajah datar nan dingin.