
Madeline begitu marah dengan apa yang dilakukan oleh Dokter Archie, Dokter pria itu melakukan tindakan tanpa mendiskusikan terlebih dahulu kepada rekan terkait.
Wanita itu memang bukan kepala departemen, namun mengingat ia memiliki kesedihan akan kehilangan orang tersayang, karena salah tindakan. Membuat Madeline mengerti arti penting sebuah diskusi dalam menyelamatkan nyawa seseorang.
"Bukankah memang tugas seorang Dokter untuk menyelamatkan nyawa pasiennya, meski kecil kemungkinan sekalipun?" Pertanyaan Dokter benar-benar membuat semua yang ada di ruangan geram.
"Lalu? Dengan cara kau melakukan ini adalah suatu hal benar, begitu? Kau melakukan semua ini di luar prosedur rumah sakit,"
"Apa kau ingin di pandang oleh semua orang karena hal ini? Kau ingin mempamerkan kemampuan yang tidak seberapa itu? Aku saja yang sudah menggeluti dunia bedah 4 tahun lamanya tak berani melakukan hal ini tanpa diskusi," Pierre meluapkan segala emosinya pada Dokter Archie.
Dokter Archie menatap remeh ke arah Pierre, aura permusuhan di kibarkan pria itu.
"Bukankah kita sebagai Dokter di sumpah untuk menyelamatkan nyawa pasien meski kemungkinannya sangat kecil sekalipun?" tanya Dokter Archie.
Kini bukan Pierre yang menjawab, namun Madeline.
"Memang, hanya saja disini yang di salahkan adalah caramu yang melakukan sesuatu tanpa diskusi. Kita adalah tim! Tidak bisa mengambil keputusan sepihak,"
"Apa maksud dan tujuanmu melakukan ini semua?" tanya Madeline.
Seringai tipis tercetak jelas di wajah Dokter Archie,"Tentu saja uang, bukankah semua disini membutuhkan uang."
Pierre yang mendengarnya pun rasanya ingin sekali memukuli wajah Archie, Dokter muda yang kini membuat semua Dokter yang ada di departemen onkologi dalam masalah.
"Sayangnya aku tidak semiskin itu, Dokter Archie. Aku bahkan mendonasikan setengah gajiku selama mengabdi di rumah sakit untuk membiayai orang yang tak mampu," ujar Madeline hingga membuat bibir Dokter Archie mengatup.
"Dengan cara kau seperti ini, secara tak langsung kau telah melakukan mal praktek. Tentu kau tahu resiko dari itu semua, bukan?" balas Madeline.
Madeline menatap satu persatu Dokter yang ada di ruangan.
"Kurasa, untuk urusan ini semua kita serahkan kepada direktur Spencer saja. Ia yang memiliki wewenang untuk memutuskan semuanya," ucap Madeline.
"Bagaimana?" usulnya.
Semua yang ada di ruangan mengangguk, begitupun dengan Pierre. Pria itu langsung menarik kerah jas putih yang di kenakan oleh Dokter Archie.
"Ikut aku, jangan sampai ada pertumpahan darah disini." ucap Pierre yang langsung menyeret Dokter Archie keluar ruangan, menaiki lift menuju ruangan tuan Spencer.
__ADS_1
Sementara yang ada di departemen onkologi hanya menatap kepergian Pierre bersama Archie.
"Selalu saja seperti itu," keluh Dokter Theo.
"Ck, trouble maker!" seru Dokter Arsen.
Jika Dokter yang lain sibuk berdebat, lain hal dengan Madeline. Wanita itu tampak berjalan keluar menuju cafe di depan rumah sakit.
Seperti biasa, Madeline tak pernah lupa untuk membeli kopi untuk mendukung kinerjanya. Di cafe, Madeline bisa dengan puas berbicara dengan Abella dan Piero melalui sambungan telepon, seperti yang ia lakukan saat ini.
"Belle, Congratulations! Kau akan menjadi Mommy,"
"Thank's Maddy, apa kau tidak ikut ke Milan?" tanya Abella melalui sambungan telepon.
Madeline menggeleng samar,"Tidak, jadwal operasi sedang membludak."
Terdengar helaan napas Abella yang terdengar kecewa,"Sangat di sayangkan, padahal aku berharap kau akan datang," ucapnya.
"Pardon me!"
"Next time, aku akan meluangkan waktu untuk mengunjungimu dan Piero,"
"Sangat senang! Tentunya lebih protektif denganku, ini begitu menyebalkan. Namun sedikit menyenangkan juga untukku,"
Madeline yang sibuk berbincang melalui telepon dengan sepupu sampai tak sadar, jika saat ini Pierre berada di hadapannya.
Hingga Madeline akhirnya mengakhiri sambungan telepon itu.
"Pierre?"
"Ikut aku! Kita harus segera bersiap, pasien yang di tangani oleh Archie tengah kritis," jelasnya.
Madeline yang mendengar hal itu langsung berlari menuju rumah sakit, bahkan wanita itu meninggalkan kopi miliknya yang masih tersisa setengah.
Pierre yang melihat hal itu hanya bisa menghela napas.
"Selalu seperti ini," Menjalani hidup bersama Madeline kurang lebih dua bulan lamanya, membuat Pierre begitu mengerti tabiat dan karakter wanita itu.
__ADS_1
Pierre membawa kopi milik Madeline, menyusul wanita itu yang tengah menyebrang. Pierre melangkahkan kakinya dengan cepat, agar bisa sampai dekat Madeline.
"ini." Pierre memberikan kopi yang di tinggalkan oleh Madeline di cafe.
Madeline yang saat ini pikirannya tengah memikirkan pasien pun tidak menerima kopi itu, wanita itu terlihat sangat gelisah.
Mau tak mau Pierre yang memegang kopi itu sampai ke rumah sakit, Madeline langsung memasuki ruangan.
Madeline menangani pasien itu bersama dengan Dokter Arsen yang sejak tadi menunggunya. Setelah berjuang kurang lebih 30 menit lamanya, akhirnya pasien itu bisa melewati masa kritisnya. Hingga membuat Madeline dan Dokter Arsen menghela napas lega.
"Akhirnya, pasien telah melewati masa kritis," ucap Madeline dengan penuh syukur.
Dokter Arsen juga melakukan hal yang sama, pria itu kini bisa bernapas dengan lega. Pasien salah penanganan itu akhirnya bisa di selamatkan.
"Aku tak bisa membayangkan jika kau tak ada," ujar Dokter Arsen.
"Tak perlu berlebihan seperti itu, aku yakin kau juga Dokter hebat," ucap Madeline yang kini celingak-celinguk mencari keberadaan Pierre.
Sementara Dokter Pierre, kini pria itu memasuki ruangan operasi untuk melakukan bedah biopsi pada pasiennya.
Tujuan Pierre ke cafe adalah untuk menghampiri Madeline, karena terakhir kali ia melihat wanita itu adalah saat memasuki cafe. Saat itu Pierre ingin menuju parkiran, mencari stetoskop miliknya yang tertinggal.
Melihat Dokter Arsen yang panik mencari Madeline, membuat pria itu langsung bergegas menuju cafe dan memintanya wanita itu untuk kembali ke rumah sakit.
"Kemana Dokter Pierre?" tanya Madeline pada Dokter Arsen.
"Ada bedah biopsi," jawabnya dengan singkat.
Madeline mengangguk, wanita itu bergegas meninggalkan ruangan pasien menuju ruangan miliknya untuk beristirahat. Untuk beberapa jam ke depan Madeline sedang senggang, jadi wanita itu memanfaatkan waktu dengan beristirahat.
Tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang Madeline Elana Marshall selain melihat pasien berhasil ia selamatkan. Entah kenapa, melihat pasien yang berakhir dengan kematian. Membuat Madeline merasa bersalah, ia merasa gagal menyelamatkan nyawa seseorang.
Bukankah Dokter hanyalah perantara? Memang, hanya saja Madeline tahu rasanya sebuah kehilangan. Kehilangan orang tersayang, hingga membuat dirinya hidup berdua dengan Daddy-nya yang bersusah payah membesarkan dirinya.
Menjalani peran ganda sebagai ayah dan ibu, tentu itu bukan hal yang mudah! Madeline begitu menyayangi Daddy-nya, ia selalu berusaha membuat Daddy-nya bahagia dengan caranya.
Hingga Madeline pun kini menatap sebuah bingkai foto yang terpajang di ruangan miliknya. Sebuah foto ketika Madeline kecil, bersama Mommy dan Daddy-nya.
__ADS_1
"Mom, andai saat itu aku sudah sehebat ini. Bisa aku pastikan kau takkan meregang nyawa karena salah penanganan," ucap Madeline dengan sangat lirih.