My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 48 | Kembali bertengkar


__ADS_3

Mendengar ucapan Dokter Arsen langsung membuat dada Madeline bergemuruh, bisa-bisanya di saat dirinya menunggu lama seperti ini, Pierre justru lebih memilih bersama dengan mantan kekasihnya.


"Benar-benar Pierre ini! Aku menunggunya lama di sini, ia justru enak-enakan bersama mantan kekasihnya. Memang kemana suaminya itu." geram Madeline sambil mengepal tangannya.


Siapa yang tidak kesal dan marah? Sudah satu hampir satu jam Madeline menunggu di depan ruangan Pierre, namun pria itu tak memberitahu apapun padanya. Justru ia tahu hal ini dari Dokter Arsen yang merupakan rekan kerjanya.


"Aku harus menyusulnya." Dengan emosi yang membumbung tinggi, Madeline melangkahkan kakinya ke ruangan tempat di mana Yara di tangani.


Sementara Dokter Arsen, pria itu memilih untuk pergi menjauh. Sebelum akhirnya ia ke seret juga nantinya.


Madeline berusaha mengontrol raut wajahnya agar terlihat biasa saja, agar tidak terlihat seperti orang marah meskipun saat ini dirinya ingin menelan hidup-hidup Pierre.


"Omonganmu sama sekali tak bisa di percaya," Madeline terus menggerutu di setiap langkah kakinya.

__ADS_1


Hingga saat dirinya sampai di depan ruangan Yara, Madeline melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Pierre baru saja keluar dari ruangan itu.


Netra pria itu menatap Madeline yang tengah menatapnya. Pierre gelagapan, wajah Madeline memang terlihat sangat tenang. Tapi Pierre yakin, saat ini Madeline tengah kesal kepadanya, kesal karena telah melupakan janji yang ia buat sendiri.


"Ma-Madeline...," panggil Pierre dengan terbata-bata.


Madeline yang merasa terpanggil langsung menatap Pierre, wanita itu menyunggingkan sudut bibirnya.


"Kenapa kau terkejut? Seperti orang yang tengah di pergoki selingkuh saja." balas Madeline.


"Jelaskan apalagi? Apa kau merasa menyembunyikan sesuatu dariku?" pancing Madeline. Sebisa mungkin ia harus tenang, sampai pria itu sendiri yang mengatakan padanya.


Ucapan Madeline begitu tenang dan santai, namun tidak dengan tatapan tajamnya yang seakan ingin menguliti dirinya.

__ADS_1


"Aku baru dengar sejarah Dokter onkologi menangani pasien keguguran, apa aku saja yang ketinggalan berita selama ini, huh?


"Apa departemen kandungan menyerahkan semua tugas kepada departemen onkologi?"


"Memang, seorang Dokter memang di haruskan untuk menyelamatkan pasiennya, namun untuk urusan kandungan bisa kau serahkan pada ahlinya. Apa jangan-jangan pasien ini begitu spesial untukmu. Hingga kau sendiri yang turun tangan?" kata-kata tajam yang terlontar dari mulut Madeline mampu membuat Pierre mati kutu. Pria itu benar-benar tak di beri kesempatan untuk menjelaskan semuanya.


Pierre kembali menggelengkan kepala,"Bukan seperti itu, Madeline... Yara keguguran karena mendapat kekerasan dari Alois."


Wanita itu kembali menggelengkan kepala,"Lalu apa kau yang harus turun tangan akan kejadian yang menimpanya, lalu kemana Alois? Kemana keluarga Ludwig? Apa Yara sudah tak memiliki keluarga lagi?" Tak ada hentinya Madeline mencecar Pierre dengan berbagai pertanyaan yang masuk di akal menurutnya.


Pierre tersadar, sebenarnya ini memang ranahnya. Namun melihat Yara datang seorang diri ke rumah sakit dengan kondisi yang begitu mengkhawatirkan membuat hati Pierre tergerak untuk menolongnya. Meski tak dapat di pungkiri olehnya, jika saat ini rasa untuk Yara masih ada.


"Mereka tak tahu hal ini, Madeline. Aku melihatnya dengan kondisi mengenaskan tadi." jawabnya dengan jujur.

__ADS_1


Madeline menatap sinis ke arah Pierre,"Bagaimana jika nanti keluarga Ludwig berbalik menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi pada Yara. Kau tahu sendiri, bukan? Nyonya Ludwig selalu mencari setitik kesalahanmu." ungkitnya.


__ADS_2