My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 92 | Anggap tidak saling mengenal


__ADS_3

Setelah menghabiskan malam panas bersama, baik Madeline ataupun Pierre akhirnya terlelap. Hingga matahari pun mulai menyalurkan kehangatan.


Madeline terlebih dahulu bangun daripada Pierre, dengan tertatih Madeline melangkahkan kakinya dan memunguti satu persatu pakaian yang berserakan di lantai.


Ia sendiri tak bisa mengingat jelas akan kejadian semalam, Madeline seolah menyerahkan dirinya kepada Pierre demi sebuah tanda tangan.


Ya, tanda tangan di surat kesepakatan perceraian keduanya yang Madeline butuhkan hingga dirinya rela menyerahkan diri kepada Pierre yang tak lain suaminya.


Madeline menatap Pierre yang terlelap di balik selimut hangat yang membalut tubuhnya. Ia langsung memakai kembali pakaiannya dan memutuskan untuk membersihkan dirinya di kamar sekaligus menyiapkan semua barang miliknya.


Pagi ini juga Madeline memutuskan untuk meninggalkan apartment Pierre. Toh, ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan rasanya seperti orang tak punya muka jika memaksakan diri jika tetap bertahan di apartment pria itu.


"Lebih baik aku pakai baju dulu sebelum keluar dari kamar," Madeline melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Pierre.


Pierre sejak tadi sudah terbangun, hanya saja ia pura-pura tertidur. Pierre bersandar pada headboard ranjang miliknya dan mengambil surat yang ia taruh di dekat nakas miliknya.


Pierre langsung membubuhkan tanda tangan di sana. Meskipun ia tak ingin, namun ia harus tetap melakukannya.

__ADS_1


"Semoga setelah ini kau bahagia dengan semua ini, dan kuharap kau menyesal," ucap Pierre yang masih tak menyangka jika semua ini akan terjadi secepat itu.


Tak lama, Madeline pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat segar karena habis mencuci muka.


"Mana berkasnya." pinta Madeline saat melihat Pierre sudah terbangun. Ia tak perlu lagi basa-basi, toh ia sudah menuruti semua permintaan Pierre.


Pierre langsung memberikan berkas itu kepada Madeline,"Sudah aku tanda tangani, apa kau puas?" tanya Pierre dengan wajah terlihat tak bersahabat.


Madeline mengangguk,"Sangat puas, terima kasih atas kerjasamanya. Meskipun di sini aku adalah pihak yang kau rugikan." ucap Madeline dengan retoris.


Pierre seakan tak mau kalah meski ucapan Madeline mampu membungkam dirinya.


Kini giliran Madeline yang di bungkam, meski tak mengingat dengan jelas. Tapi rasa sakit dan remuk badannya sudah menjadi bukti buat Madeline.


"Aku tahu, anggap saja tidak terjadi apapun di antara kita selama ini," pinta Madeline.


Pierre tersenyum miring, pria itu beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati Madeline. Ia menutupi bagian bawah tubuhnya dengan celana pendek miliknya yang ada di balik selimut.

__ADS_1


"Aku harap seperti itu, tapi kau harus ingat Madeline, semalam kita melakukan hal itu dan aku tak menggunakan pengaman sama sekali."


"Tak cuma itu, aku juga mengeluarkannya di dalam." ucap Pierre.


Madeline yang mendengarnya tentu terkejut, tapi ia sebisa mungkin menguasai diri agar tidak panik.


"Aku masih mengingatnya dengan jelas, Pierre. Kau tak perlu khawatir! Setelah ini aku membeli obat kontrasepsi darurat untuk menghindari hal yang tak diinginkan." jawab Madeline dengan enteng.


Pierre mengangguk,"Bagus, karena setelah ini aku takkan sudi bertemu denganmu meski tanpa di sengaja sekalipun,"


Madeline yang mendengarnya pun ikut sakit, tapi ia harus tetap tahan.


"Aku akan pergi sejauh mungkin, ke tempat di mana kau tak bisa menemukanku nantinya. Kuharap kau tak lupa, jika hukum karma itu ada." Madeline langsung pergi dari hadapan Pierre. Pagi harinya sudah di buat tidak bersemangat dengan perdebatan sengit dengan Pierre.


Ia tak ingin rencana hari ini harus kacau karena suasana hatinya memburuk.


"Dan anggap saja pernikahan ini tidak pernah terjadi sebelumnya," ucapan Pierre mampu membuat Madeline mematung di tempat.

__ADS_1


Wanita itu menoleh dan mengulas senyum lebar yang menandakan dirinya baik-baik saja, meskipun saat ini hatinya hancur lebur. Tapi, Madeline bisa mengontrol diri.


"Aku akan turuti jika itu memang mau mu, Pierre."


__ADS_2