My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 63 | Pembicaraan di Taman


__ADS_3

Madeline dan Tuan Spencer kini berada di taman belakang rumah sakit, keduanya seperti tengah serius kali. Terlihat dari netra tajam tuan Spencer yang menatap intens Madeline.


"Apa ada hal penting yang ingin kita bicarakan di sini, Dad?" tanya Madeline. Karena baru kali ini dirinya berbicara berdua dengan tuan Spencer, di tambah hal ini dilakukan di tempat terbuka.


Tuan Spencer terus menatap wajah wanita itu, ia begitu menyesali tindakan bodoh yang putranya itu lakukan.


Jika banyak orang berpikiran tuan Spencer tidak melakukan apapun pada Pierre, itu semua salah besar. Tuan Spencer memata-matai putra tunggal itu sejak dahulu, ia juga mengetahui segala apa yang dilakukan putranya itu.


Di tambah dengan kejadian hari ini, mengetahui informasi terbaru dari orang kepercayaannya membuat Tuan Spencer langsung geram dengan Pierre yang tak lain putranya sendiri.


Meski Pierre adalah putranya, tak ada sedikit Tuan Spencer berada di pihak putranya. Justru yang ia takutkan adalah reaksi dari menantunya, apalagi jika keluarga besar dari wanita itu tahu.


"Bagaimana hubunganmu dengan putraku, nak?" tanya tuan Spencer dengan hati-hati.


Madeline mengulas senyum tipis,"Semua berjalan dengan semestinya, Dad. Aku dan Pierre sepakat untuk membuka lembaran baru untuk hubungan kita." jelas Madeline.


Tuan Spencer kembali mengajukan pertanyaan,"Apa selama ini Pierre pernah menyakitimu? Baik dari perkataan ataupun perbuatan?"


"Untuk saat ini tidak, namun aku tak tahu dengan kedepannya seperti apa." jawabnya yang di lontarkan oleh Madeline membuat tuan Spencer begitu resah. Terdengar begitu ambigu di telinganya.

__ADS_1


Tuan Spencer mengulas senyum tipis,"Kuharap hubunganmu dengan putraku selalu berjalan dengan baik, nak. Aku selalu berdoa akan hal itu." Ujarnya dengan tulus.


Madeline mengamini ucapan Tuan Spencer, tak ada salahnya bukan ikut mengamini doa baik?


"Aku harap seperti itu, Dad."


Setelah pembicaraan tadi, keduanya kini kembali bungkam. Dan hal itu tentu membuat Madeline tak nyaman, ia adalah pribadi banyak bicara dan tak menyukai kesunyian.


Hingga membuat dirinya menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran hingga saat ini.


"Dad." panggil Madeline saat melihat tuan Spencer melamun.


"Ya." jawabnya sambil menatap menantunya.


"Apa yang kau pikirkan, Dad? Apa kau memikirkan hubunganku dengan Pierre?" tebakan Madeline tepat sasaran kali ini.


"Ah tidak, aku hanya memikirkan yang lain saja." jawabnya dengan sedikit kebohongan.


Madeline lalu kembali mengulas senyum, dan berkata,"Tak perlu kau khawatirkan akan hal itu, Dad. Selagi Pierre tidak menduakan aku semua akan baik-baik saja."

__ADS_1


Tuan Spencer yang mendengarnya langsung menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Ah! Putranya ini benar-benar sangat bodoh, ia terus merutuki kebodohan Pierre yang membuatnya tak bersuara.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Dad." imbuh madeline.


"Tentang?"


"Tentang Pierre dan jabatan Direktur yang begitu ia idamkan. Apa kau bisa memberi aku sebuah alasan, mengapa kau mengulur waktu tentang pengangkatan Pierre sebagai direktur?" tanya Madeline dengan hati-hati. Ia tak ingin mertuanya salah paham, apalagi berpikir jika ia mengincar kedudukan Pierre.


Tuan Spencer langsung menjawabnya,"Apa kau ingin mengetahuinya sekarang?" tanyanya.


"Ya."


"Sejak dulu aku sering mendesak Pierre untuk segera menggantikan posisiku sebagai seorang direktur, namun ia menolak itu semua karena alasan yang tak aku ketahui dengan jelas."


"Hingga pada puncaknya setelah pernikahan mantan kekasihnya, Pierre terus mendesakku untuk melakukan pengangkatan padanya. Aku tentu menolak hal itu karena telah mengetahui alasan di balik semua itu."


Terdengar menarik, Madeline semakin penasaran dengan hal ini.


"Alasan apalagi Dad kalau boleh aku tahu, Dad?"

__ADS_1


__ADS_2