My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 95 | Menyakitkan


__ADS_3

Padahal saat ini hari masih pagi, tapi Raiden memintanya Madeline untuk beristirahat di dalam kamar.


Tentu bukan tanpa sebab Raiden melakukan hal itu, melihat Madeline yang memakai kacamata, di tambah dengan raut wajahnya yang terlihat pucat membuatnya bisa menyimpulkan jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Kalau perlu istirahat sampai besok, Madeline. Nanti kalau waktu makan akan aku panggil," suara keras Raiden menggema di mansion.


Madeline hanya mengangguk. Toh, emang saat ini dirinya sangat lelah. Di tambah bagian intinya terasa begitu nyeri saat ini.


Sebelum memasuki kamar miliknya, Madeline pun kembali bersuara,"Jangan lupa sediakan makanan yang banyak untukku, okey Rai." setelah itu Madeline masuk ke dalam kamar miliknya. Kamar yang sudah beberapa bulan ia tak tempati.


***


Pierre saat ini sedang terburu-buru karena sejak tadi Daddy-nya terus menghubungi dirinya tanpa henti.


"****! Tumben sekali rumah sakit ini ramai," umpatnya sambil menerobos kerumunan orang.


Begitupun dengan lift, di sana begitu banyak pengunjung yang menggunakan lift hingga dengan terpaksa Pierre harus memilih untuk menaiki anak tangga.


Pierre terus menapaki anak tangga hingga dirinya sampai di lantai tempat ruangan tuan Spencer berada.


"Akhirnya sampai juga, sial sekali aku hari ini." Pierre merutuki harinya yang mulai kelabu, ia berjalan memasuki ruangan tuan Spencer.


Pierre tidak mengetuk pintunya terlebih dahulu, namun ia langsung masuk begitu saja. Dapat Pierre lihat dengan mata kepalanya sendiri, jika ruangan kerja pria itu sedikit acak-acakan.


Dan tak hanya itu, jas putih kebanggaan yang selalu melekat di tubuhnya pun tidak di kenakan dengan benar, pria paruh baya itu meletakkannya di kursi kebesaran miliknya.


"Apa perlu apa Dad kau memintaku untuk segera datang kesini, padahal kau tahu sendiri jika hari ini aku izin libur," Pierre langsung mencecar dengan berbagai pertanyaan.


Tuan Spencer yang sejak tadi berusaha menahan emosinya pun langsung berjalan mendekati Pierre, pria itu tak bisa lagi bersabar. Ditambah, raut wajah serta keluhan dari putranya yang semakin menambah deret panjang masalah saat ini.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Pierre hingga pria itu sedikit terhuyung.


"Apa kau sampai saat ini tak tahu apa kesalahanmu, huh?"


Pierre menatap wajah Daddy-nya sambil mengusap sudut bibirnya yang sobek.

__ADS_1


"Aku tak tahu," jawabnya dengan singkat. Namun, jika di lihat dari raut wajah tuan Spencer yang masih di kuasai emosi membuat Pierre pun teringat akan masalah yang ia hadapi.


"Ah iya, aku baru ingat. Apa Madeline baru saja mengadukan perbuatanku padamu? Lemes sekali mulutnya itu," cibir Pierre. Entah kenapa mendengar atau menyebut nama Madeline membuat dirinya langsung kesal.


Tuan Spencer menggelengkan kepala,"Madeline tak mengatakan apapun padaku, ia kesini hanya berpamitan padaku." jawabnya.


Pierre tersenyum miring,"Baguslah, bila perlu biarkan dia pergi jauh dari hadapanku." ucap Pierre. Namun itu semua bertentangan dengan kata hatinya. Seakan ia tak rela jika hal itu benar terjadi.


Tuan Spencer mengangguk,"Kuharap seperti itu agar dia tak bertemu dengan pria br*ngsek sepertimu lagi," balasnya dengan sengit.


Pierre terdiam, sepertinya ia memang benar-benar kelewatan karena sudah berkata seperti itu.


"Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Pierre yang seakan tak terima.


Tuan Spencer duduk di kursi kebesaran miliknya, ia menatap paras putranya yang terlihat seperti orang kurang tidur saat ini.


"Tentu saja, mengingat kau memperlakukan wanita itu dengan begitu jahat. Jika aku menjadimu, lebih baik aku memilih Madeline yang jauh lebih unggul dari wanita jalangmu itu!"


"Jaga ucapanmu, Dad!" Seru Pierre.


Tuan Spencer menutup mulutnya dengan raut wajah terkejut yang di buat-buat olehnya.


"Beruntungnya Madeline terlepas dari pria seperti mu," sambungnya.


Pierre kembali bungkam, hatinya terusik dengan ucapan Tuan Spencer.


"Aku dan Madeline sudah bercerai, Dad. Itu artinya aku bebas memilih jalan hidupku tanpa aturan darimu," Pierre Kembali bersuara.


"Aku sudah mengetahui hal itu, semoga kau tak menyesal nantinya." Pesan Tuan Spencer.


Pierre tersenyum dengan pongah,"Aku takkan menyesal, Dad. Madeline yang nantinya akan menyesal," serunya dengan bangga.


Tuan Spencer tersenyum miris dengan putranya, kemana perangai Pierre yang hangat dan baik itu. Hanya tertinggal sifat putranya yang benar-benar di luar dugaan.


"Kuharap," jawabnya dengan singkat.


Keheningan mulai tercipta. Tuan Spencer yang sibuk memikirkan nasib putranya, begitupun dengan Pierre yang sibuk dengan masalah yang di buat sendiri.

__ADS_1


"Persiapkan dirimu! Setelah putusan sidang perceraian kau dan Madeline nanti aku akan melakukan serah terima jabatan direktur rumah sakit ini."


Pierre yang mendengarnya terkejut. Bukankah ini terlalu mendadak? Kenapa harus mendadak.


"Kau tak perlu terkejut, aku mengumumkan pada semua pemegang saham rumah sakit ini bahwa kau akan menduduki jabatan direktur selanjutnya," seakan mengerti jalan pikiran Pierre. Tuan Spencer langsung menjelaskan semuanya.


Pierre yang mendengarnya pun senang bukan main, ia sejenak melupakan masalah perceraiannya dengan Madeline saat ini.


Dan itu tak berlangsung lama saat tuan Spencer kembali bersuara.


"Aku melakukan hal ini bukan karena keinginanku." Jawabnya.


"Lalu?"


"Karena Madeline yang meminta hal ini. Dan tak hanya itu, Madeline juga sudah mengundurkan diri sebagai Dokter di rumah sakit ini mulai hari ini."


Pierre yang mendengar langsung mencelos hatinya. Jadi, semua ini bukan murni karena keinginan Daddy-nya, tapi permintaan Madeline. Yang benar saja! Pierre tak bisa berkata-kata apapun lagi saat ini.


"Harusnya kau bersyukur karena Madeline memikirkan dan memintaku untuk mewujudkan apa yang kau inginkan. Bukan menjatuhkan harga diri serta menghancurkan hidupnya seperti itu," desis Tuan Spencer.


Pierre yang masih tak percaya langsung meninggalkan ruangan tuan Spencer saat itu juga. Ia tak habis pikir, kenapa Madeline harus repot-repot berbicara pada Daddy-nya terkait pengangkatan dirinya sebagai direktur rumah sakit ini.


Pierre terus berjalan hingga dirinya sampai di parkiran rumah sakit. Seakan kejutan tak sampai di situ juga, ia melihat Yara yang saat ini tengah bergandengan mesra dengan seseorang yang sangat ia kenali.


Ya, Alois. Bukankah katanya mereka berdua sedang proses bercerai. Lantas, kenapa mereka bermesraan seperti itu? Pierre sampai menggelengkan kepala. Tubuhnya yang bersandar di mobil miliknya pun luruh.


Ia memilih mempertahankan Yara dan melepas Madeline. Namun nyatanya balasan seperti ini yang ia dapatkan dari Yara. Sungguh, ini sangat-sangat menyakitkan hingga membuat Pierre memutuskan untuk langsung ke dalam mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Pierre terus mengumpat dan memaki dirinya serta kebodohan dirinya yang sudah tidak tertolong itu.


"Bisa-bisanya aku tertipu dengan kata manisnya dan menuruti egoku," rutuknya.


"Aku benar-benar tak habis pikir dengan semua ini,"


"Bodoh! Kau benar-benar bodoh, Pierre!"


Pierre terus merutuki dirinya, bahkan banyak kata-kata kasar yang Pierre lontarkan saat ini. hingga sekelebat nama Madeline melintas di pikirannya.

__ADS_1


"Madeline...,"


__ADS_2