My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 84 | Kesedihan seorang ayah


__ADS_3

Daddy Garry mendengar hal itu tentu saja terkejut. Ia menatap wajah putrinya untuk mencari tahu apakah putrinya sedang bercanda atau serius saat ini.


"Kau serius?" Daddy Garry tak bisa mempercayai hal itu. Bagaimana bisa, menantunya yang terlihat baik di hadapannya melakukan hal menyakitkan seperti itu.


Madeline yang semula menunduk kini perlahan mendongak dan menatap ke arah Daddy-nya.


"Apa Daddy tak percaya denganku? Apa aku perlu memberikan bukti agar kau percaya?" tanya Madeline.


Sebenarnya tanpa bukti sekalipun Daddy Garry percaya saja, mengingat Madeline jarang sekali membohongi dirinya. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan sesuatu yang menyakitkan.


"Kalau Dad tak percaya, aku akan memberitahu padamu sekarang juga." Madeline membuka sling bag miliknya, mengambil foto yang sengaja ia bawa untuk di jadikan bukti kepada Tuan Spencer dan Daddy-nya.


Madeline menyodorkan sebuah amplop yang berisi beberapa bukti bahwa Pierre telah mengkhianati dirinya.


"Dad bisa lihat semuanya di sini, Dad. Kau ahli dalam menganalisa, pasti bisa membedakan mana asli dan editan." seru Madeline.


Daddy Garry membuka amplop yang di berikan Madeline, ia mengambil isi di dalamnya. Ada banyak sekali foto di sana, dan juga satu flashdisk yang berisi perdebatan putrinya dan juga Pierre.


Daddy Garry sampai membelalakkan matanya, tubuhnya langsung bersandar pada kursi yang ia duduki saat ini. Mengusap wajahnya dengan frustasi.


Bagaimana bisa, putri yang ia jaga dengan penuh kasih sayang harus mengalami hal menyakitkan seperti ini. Ditambah orang itu adalah menantunya sendiri, orang yang begitu ia percayai mampu menjaga Madeline.


"I-ini... Pierre?" tanya Daddy Garry yang tak bisa menahan rasa geramnya lagi.


Madeline dengan wajah sembab serta senyum yang di paksakan mengangguk,"Seperti yang kau lihat, Dad."

__ADS_1


Daddy Garry mengencangkan ikat dasinya, ia harus memberikan pelajaran kepada menantunya.


"Di mana sekarang Pierre?" tanyanya sambil berdiri, terlihat dengan jelas dari pancaran matanya yang begitu marah.


Madeline sebisa mungkin harus menghindari Daddy-nya yang akan menemui Pierre, ia pun berdiri di hadapan Uncle Garry.


"Apa yang ingin kau lakukan, Dad?" tanya Madeline.


"Memberikan pria itu pelajaran! Bisa-bisanya dia menyakiti anak yang aku besarkan dengan penuh kasih sayang." Dari nada bicaranya yang terdengar berbeda di tambah dengan emosi yang sudah menguasai diri. Daddy Garry semakin menggebu-gebu untuk memberikan menantunya pelajaran.


Madeline menggelengkan kepala,"Jangan dulu, Dad."


"Kenapa? Kau mencintainya, makanya tak ingin dia terluka karena aku memberinya pelajaran, begitu?"


Madeline kembali menggelengkan kepalanya,"Jangan mengedepankan emosimu, Dad. Tenangkan dirimu. Aku tahu kau pasti sangat marah mendengarnya, tapi apa kau tak ingin mengetahui langkah apa yang aku ambil saat ini?" tanya Madeline. Ia ingin memberitahu kepada Daddy-nya tentang gugatan perceraian yang ia sudah ajukan pagi tadi.


Daddy Garry kembali mendudukkan dirinya di kursi, begitupun dengan Madeline yang duduk di dekat Daddy-nya.


"Maafkan aku karena telah membuatmu marah karena hal ini, Dad. Tapi aku paling tidak bisa memberikan toleransi terhadap perselingkuhan. Dan aku sangat membenci hal itu." Jelas Madeline.


"Lalu apa kau ingin diam saja setelah apa yang dilakukan oleh Pierre kepadamu?" tanya Daddy Garry. Berharap Madeline masih menggunakan akal sehatnya dalam hal ini.


Madeline kembali menggelengkan kepalanya,"Tentu tidak, Dad. Itu sangat menyakitkan bagiku."


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku memilih mundur, aku kalah dengan masa lalunya yang sampai saat ini terus datang di kehidupannya."


Air mata Madeline luruh saat itu juga bersamaan dengan cerita yang terlontar dari bibir Madeline.


"Aku selalu menuruti setiap saran yang kau berikan padaku, Dad. Aku belajar memasak untuknya, bahkan aku belajar untuk menerimanya sebagai suamiku. Tapi nyatanya, hanya kekecewaan yang aku dapatkan."


"Bahkan, aku rela bangun saat pagi buta hanya untuk membuatkannya bekal. Tapi itu semua harus berakhir di tempat sampah. Sakit, Dad! Ini begitu menyakitkan untukku!"


Daddy Garry tak sanggup lagi mendengar apa yang di alaminya, pria paruh baya itu memeluk putrinya yang terus menangis.


"Berhenti, nak! Aku sudah tak sanggup mendengarnya." Pinta Daddy Garry. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ayah, jika melihat putri kecilnya harus merasakan sakit yang tak seharusnya terjadi.


"Apa kau ingin bercerai darinya? Maka saat ini juga Daddy yang akan mengurusnya." tanya Daddy Garry.


"Tak perlu, Dad. Aku sudah lebih dulu mengurusnya." jawab Madeline.


Daddy Garry menganggukan, lalu melepas pelukannya dengan sang putri.


"Baiklah, Dad akan menyiapkan pengacara terbaik untuk menyelesaikan masalahmu," putus Daddy Garry.


Madeline menolak hal itu, karena Madeline sendiri sudah menyiapkan pengacara untuk hal ini.


"Tak perlu, Dad. Aku sudah menyiapkan semuanya sendiri." Tolak Madeline.


Daddy Garry hanya menghela napas,"Lalu apa yang bisa Daddy lakukan untuk membantumu, putri kecil?"

__ADS_1


Madeline tampaknya tengah bimbang, mengingat keputusan yang ia buat kali ini harus mengorbankan karirnya. Tapi, ini adalah jalan terbaik agar tidak terbayang-bayang dengan pengkhianatan yang Pierre lakukan padanya.


"Aku ingin pergi jauh, Dad. Aku tak ingin terus menetap di sini."


__ADS_2