My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 35 | Perayaan kecil di rumah sakit


__ADS_3

Sepanjang perjalan ke rumah sakit, Madeline terus menggerutu tanpa henti. Wanita itu sangat kesal sekali dengan Pierre, pria itu benar-benar membuat suasana hatinya buruk pagi ini.


Tidak tahukah Pierre, jika suasana pagi sudah buruk, pasti melakukan pekerjaan apapun takkan semangat nantinya.


"Teruslah mengumpat tentangku, Madeline." celetuk Pierre yang tengah mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


Saat di mansion Eduardo, Pierre mendapat panggilan dari Tuan Spencer untuk segera ke rumah sakit. Entah apa yang di bicarakan oleh Daddy-nya, Pierre sendiri pun tak tahu akan hal itu.


Yang jelas, dirinya dan Madeline di minta untuk segera ke rumah sakit.


Madeline yang mendengar celetukan Pierre langsung menoleh ke arahnya, menatap heran Pierre.


"Kau seperti cenayang saja, bisa membaca pikiranku," jawab Madeline.


"Itulah aku," seloroh Pierre dengan bangga.


"Tak perlu kesal seperti itu, aku akan meminta orangku untuk membawa mobilmu ke apartment kita nanti." imbuh Pierre sambil mengelus pucuk kepala Madeline.


Madeline membeku. Perlakuan padanya sangatlah manis, hingga membuat dirinya mengulas senyum kaku yang tercetak di bibir pink merona miliknya.


Sementara Pierre, pria itu biasa saja. Baginya itu adalah hal biasa yang ia lakukan saat bersama Yara dulu. Wait, saat ini Pierre sudah tak ingin membahas Yara. Dirinya akan mencoba belajar membuka hati untuk istrinya, begitupun sebaliknya.


Mobil yang di kendarai oleh Pierre memasuki parkiran, Pierre terlebih dahulu keluar dari mobilnya. Di ikuti oleh Madeline setelahnya, sebab wanita itu tengah sibuk merapikan rambutnya yang acak-acakan karena perlakuan Pierre.


"Ayo," ajak Pierre sambil menggandeng tangan Madeline.


Madeline kembali terdiam, wanita itu benar-benar tak menyangka akan di perlakukan seperti ini. Sepertinya saat ini ia harus bisa mengontrol diri, berdekatan dengan Pierre membuat jantung terus berdegup kencang.


Hal itu tentu jadi perhatian setiap staaf dan Dokter yang ada di rumah sakit. Madeline tentu risih menjadi bahan sorotan seperti, berbeda dengan Pierre yang seakan acuh.


"Pierre, lepas. Aku malu jadi bahan tontonan yang lain," pinta Madeline yang berusaha melepas genggaman tangan Pierre.


Namun Pierre tidak melepaskan genggamannya, justru mempererat genggaman tangannya dengan Madeline.


"Tak perlu malu, mereka semua juga tahu jika kita adalah suami-istri," jawab Pierre dengan santai.


Mendengar ucapan Pierre membuat kedua netra hazel Madeline membola,"Mereka? Sudah tahu? Dari mana?" tanya Madeline. Kenapa ia bisa tak tahu hal ini? Bukankah, pernikahan keduanya hanya terlaksana di badan pencatatan sipil. Lantas siapa yang memberitahu hal ini.


Pierre menganggukan kepala, sambil menekan tombol lift untuk menuju ruangan Direktur Spencer,"Dari Daddyku, bahkan ia merayakan pesta kecil-kecilan untuk para Dokter dan staff rumah sakit disini," ujar Pierre.

__ADS_1


Madeline benar-benar tak menyangka akan seperti ini, ia pikir hanya keluarga besar saja yang akan tahu pernikahannya dengan Pierre. Ternyata Madeline salah, Tuan Spencer begitu antusias hingga membuatnya pria paruh baya yang merupakan mertua sekaligus petinggi di rumah sakit tempat ia bekerja membuat perayaan kecil-kecilan seperti ini, untuk berbagi kebahagiaan dengan sekitar.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Daddyku hanya ingin berbagi kebahagiaan yang ia rasakan saja. Tak lebih," ujar Pierre saat melihat reaksi Madeline yang hanya terdiam.


Lift yang membawa Madeline dan Pierre akhirnya sampai ke tempat tujuan, keduanya berjalan menuju ruangan Tuan Spencer. Ada banyak staff serta beberapa Dokter yang lalu-lalang dengan membawa beberapa makanan yang begitu menggoda di lidah.


Sepanjang perjalanan menuju ruangan Spencer, tak sedikit yang mengucapkan selamat pada Madeline dan Pierre. Begitupun dengan Pierre, pria itu juga mendapat berbagai ucapan serta candaan dari rekan sejawatnya.


"Aku kira kau akan meratapi nasibmu setelah di tinggal menikah, nyatanya kau juga melakukan hal yang sama seperti mantan kekasihmu," celetuk Dokter theo.


Madeline yang mendengarnya hanya meringis, hal serupa juga di rasakan Oleh Pierre, pria itu bahkan sampai mengusap tengkuk lehernya untuk mengusir rasa tak nyaman yang di alaminya.


"Berisik!" seru Pierre yang telinganya merasa panas.


Pierre langsung membawa Madeline, meninggalkan kerumunan orang yang memberikan ucapan sekaligus mengejek dirinya.


Keduanya memasuki ruangan tuan Spencer, dan benar saja. Terlihat tuan dan nyonya Spencer yang terlihat begitu bahagia.


"Madeline...,"panggil Nyonya Spencer yang meminta menantunya mendekat ke arahnya.


Madeline tentu canggung akan situasi seperti ini. Ini adalah hal pertama baginya, Madeline mendongak, menatap Pierre.


Mendengar ucapan Pierre membuat Madeline secara reflek mendaratkan sebuah cubitan di pinggang Pierre hingga pria itu mengaduh kesakitan.


"Madeline..." desis Pierre yang merasakan perih di kulitnya.


Madeline meringis, menatap Pierre dengan sedikit mengejek ke arahnya.


"Makanya jangan mengejekku," balas Madeline.


Melihat perdebatan kecil anak menantunya membuat nyonya Spencer mengulas senyum. Ia seperti melihat sisi lain putranya, sejak menjalin hubungan dengan Yara. Tak pernah sekalipun mereka berinteraksi sedekat ini, hubungan keduanya terlalu monoton hingga terkadang membuat nyonya Spencer sering menggerutu akan hal itu.


"Madeline... Sini...," pinta nyonya Spencer.


Madeline lalu menghentikan perdebatan kecilnya dengan Pierre, wanita itu berjalan menghampiri nyonya Spencer.


"Ya, Aunty," jawab Madeline.


Melihat anak menantunya yang terlihat kaku, lagi dan lagi membuatnya mengulas senyum.

__ADS_1


"Panggil aku dengan sebutan Mommy, karena kau sekarang sudah menjadi putriku," pinta Nyonya Spencer.


Mendengar kata Mommy membuat tenggorokan Madeline tercekat, setelah puluhan tahun atau lebih tepatnya setelah Mommy-nya tiada. Baru kali ini ia menyebut nama itu, namun panggilan itu ia tujukan untuk ibu mertuanya.


"I-iya Mom-Mommy," Madeline mengucapkan itu dengan terbata-bata.


Nyonya Spencer memahami posisi Madeline. Ia takkan memaksa Madeline untuk memanggilnya dengan sebutan Mommy, dirinya sadar akan hal itu. Madeline masih perlu beradaptasi untuk mengurangi kecanggungan yang ia rasakan.


"Maafkan kami jika melakukan ini semua tanpa persetujuan dari kalian berdua, ini semua sebagai bentuk rasa bahagiaku. Kami ingin berbagi kebahagiaan kami dengan membuat perayaan seperti ini. Apa kau keberatan?" tanyanya.


Madeline yang sudah tahu alasan dari semua ini hanya bisa mengangguk, wanita itu berada di posisi yang membingungkan saat ini.


"Tidak, hanya saja aku sedikit terkejut," jelas Madeline.


Wanita paruh baya itu mengangguk, netra wanita itu terus menatap ke arah Madeline. Sebelah tangannya mengambil sebuah kotak yang sudah ia persiapkan untuk Madeline.


"Terimalah, ini untukmu dari keluarga Spencer." ujar Nyonya Spencer sambil menyerahkan kotak yang berisi perhiasan untuk Madeline.


Dengan penuh keraguan, Madeline menerimanya.


"Terima kasih," jawab Madeline dengan mengulas senyum tipis.


Nyonya Spencer mengangguk,"Sudah kewajibanku."


setelah itu, keduanya tampak sedang berbicara dengan begitu santainya. Tak jarang gelak tawa terdengar dengan jelas di ruangan tuan Spencer.


Sementara Pierre, pria itu sudah sejak tadi di ajak keluar oleh tuan Spencer. Pria itu mengajak Pierre ke lantai teratas rumah sakit.


"Darimana, kau?" tanya Tuan Spencer.


"Mansion Eduardo, mertuaku sakit," jawab Pierre dengan singkat.


Mendengar besan-nya sakit membuat Tuan Spencer terkejut.


"Kenapa kau tak bawa ke rumah sakit, huh. biar aku yang tangani," ujar Tuan Spencer.


"Hanya sakit biasa, tak perlu di besar-besarkan," balas Pierre dengan menatap langit pagi hari.


Tuan Spencer mengangguk, kemudian pria itu bertanya satu hal pada putranya,"Bagaimana hubunganmu dengan Madeline, apa ada perkembangan?" tanyanya.

__ADS_1


__ADS_2