My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 50 | Permintaan Pierre yang G*la


__ADS_3

Sejak kejadian di rumah sakit, baik Madeline maupun Pierre sepertinya masih perang dingin. Keduanya tidak bertegur sapa seperti biasanya, dan tak hanya itu, Madeline juga seakan menghindari Pierre yang berusaha untuk berbicara padanya.


Seperti saat ini, Madeline tengah bersiap untuk memasak makanan untuk dirinya dan Pierre. Meski wanita itu acuh kepada Pierre, namun Madeline masih begitu perhatian dengan membawakan makanan untuk Pierre.


Madeline tak ingin nantinya Pierre harus makan ke kantin, apalagi makan bersama dengan Yara yang saat ini tengah menjalani perawatan.


"Bekalmu! Harap di habiskan." ucap Madeline sambil menyodorkan kotak bekal untuk Pierre.


Pierre hanya mengangguk, namun ekor mata pria itu menatap Madeline yang seakan enggan untuk membuatkan dirinya bekal. Melihat hal itu membuat Pierre kesal setengah mati.


"Apa kau akan terus mendiami aku seperti ini, Madeline?" kesabaran yang di miliki Pierre tidak setebal saldo di rekening miliknya, pria itu memiliki kesabaran bagaikan tissue yang di belah menjadi beberapa bagian. Sangat tipis dan sedikit.


Pierre tidak terbiasa di abaikan, dan tak suka di abaikan hingga membuatnya meledak-ledak kala Madeline mengacuhkan dirinya.


"Silent Treatment itu perlu buat orang yang tak punya pikiran sepertimu." jawabnya dengan sangat ketus.

__ADS_1


"Apa kau masih mempermasalahkan hal yang kemarin? Come on, Madeline. Itu semua sudah berlalu, aku hanya menolongnya bukan berselingkuh dengannya. Jangan seperti anak kecil!" Pierre memberikan jawaban yang menurutnya masuk akal. Tanpa ia ketahui jika pembicaraan kali ini mampu memantik emosi dalam dirinya.


Netra Madeline kembali membola,"Aku? Seperti anak kecil? Yang benar saja, Pierre! Kau sendiri yang menarikku dalam masalahmu, namun kau sendiri juga yang membuat masalah itu hadiri."


"Kau memintaku untuk membantumu melupakan Yara, menjalani hubungan dari awal. Namun kau masih terbelenggu dengan masa lalumu itu. Apa itu wajar?"


"Mungkin kalau kau masih sendiri itu tak masalah, tapi ini lain hal! Kau sudah memiliki istri." Madeline kembali meluapkan kekesalannya kali ini. Pierre benar-benar di luar akal sehat madeline kali ini, baru kali ini bertemu dengan orang yang berpikiran dangkal seperti Pierre.


Pierre yang mendengar ucapan Madeline kembali bungkam, lagi dan lagi ia kembali di hadapankan dengan sebuah masalah yang ia dalangi sendiri. Dirinya seperti terjebak di dua situasi kali ini, di situasi lain ia memiliki seorang istri, namun di lain situasi perasaannya masih bertaut dengan masa lalunya.


"Sampai kapan? Apa kau bisa memastikan itu semua?" tanya Madeline.


Pierre juga tak dapat memastikan itu semua, masalah perasaan memang tak terduga dan tak bisa di prediksi kapan akan menghilang.


"Aku tidak bisa memastikan itu semua, Madeline. Hanya saja aku akan berusaha untuk itu." balas Pierre yang kini meyakinkan Madeline.

__ADS_1


Madeline hanya bisa menghela napas dengan panjang, ia begitu tak suka situasi seperti ini.


"Jika seperti itu lebih baik kita akhiri aja semuanya, Pierre. Dari awal memang semua tak seharusnya seperti ini. Kau benar-benar egois, Pierre." perasaan marah dan kecewa kembali menguasai Madeline.


Mendengar ucapan Madeline membuat Pierre menggelengkan kepala,"Tidak semudah itu mengakhiri semuanya, Madeline. Banyak tahap yang harus kita lalui untuk itu, apa kau siap?" tanya Pierre.


"Tak masalah, ayo kita lakukan itu sekarang, Pierre. Dari pada hadirku seakan tak berharga di matamu." desak Madeline.


Jika di lihat dari netra Madeline, sepertinya wanita itu tidak bercanda dengan apa yang ia katakan. Pierre mulai memutar otak, mencari cara agar Madeline tidak mengakhiri hubungan ini.


"Baiklah, aku akan menuruti. Namun aku minta satu hal darimu."


"Apa?"


"Berikan aku malam pertama sebagai suamimu untuk terakhir kalinya sebelum kita bercerai."

__ADS_1


__ADS_2