
Madeline keluar ruangan Tuan Spencer dengan perasaan lega, seakan tak ada beban yang menghimpit dirinya.
Beruntungnya Tuan Spencer menghargai keputusan Madeline yang menginginkan perceraian menjadi jalan keluar dari permasalahan ini.
Madeline hanya manusia biasa. Ia bisa merasa sedih dan kecewa ketika di sakiti seseorang, apalagi orang itu sudah mulai mengisi hidup dan hati Madeline saat ini.
Tujuan Madeline kali ini adalah menemui Daddy-nya, ia harus meminta pendapat pria yang menjadi alasannya untuk tetap hidup. Pria yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya sekaligus pria yang Madeline percaya takkan menyakiti Madeline.
Ya, Daddy Garry. Madeline akan menemui Daddy-nya di kantor pria paruh baya itu. Ia hanya ingin membicarakan hal ini pada Daddy-nya terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia mengatakan hal ini pada keluarga Eduardo.
Madeline terus memutar kemudinya ke tempat di mana Daddy Garry berada. Hingga mobil yang dikendarai Madeline sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi, bangun tinggi yang hampir menyentuh lagi, menjadi tempat Daddy Garry bekerja. Ia melangkah masuk ke dalam gedung pencakar langit itu dan berjalan menuju lift. Mengingat ruangan Daddy-nya berada di lantai atas, lebih tepatnya lantai 15.
Madeline yang sedang menunggu lift langsung di hadapkan dengan Daddy-nya yang ada di dalam lift.
"Dad...," panggil Madeline.
"Maddy, apa yang membawamu kesini, nak?" tanya Daddy Garry. Pasalnya, putrinya jarang sekali ke kantornya. Sekalipun ia mengunjungi tempat kerjanya, pasti akan menghubunginya terlebih dahulu.
Madeline tak langsung menjawab, ia bertanya terlebih dahulu,"Apa kau sedang sibuk, Dad?" tanya Madeline.
Daddy Garry menggelengkan kepala,"Tidak, kebetulan Dad ingin ke restoran sebrang jalan. Mau ikut?" ajak Daddy Garry.
__ADS_1
Madeline mengangguk, keadaan sedang memihak padanya dan Madeline harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membicarakan tentang perceraiannya dengan Pierre.
"Boleh, kalau bisa cari restoran yang menyediakan private room." suruh Madeline.
Mendengar permintaan putrinya tentu saja membuat Daddy Garry di landa rasa penasaran. Tak biasanya Madeline mengajaknya untuk mencari restoran yang menyediakan private room. Biasanya juga putri suka dengan suasana yang terbuka.
"Apa ada hal yang ingin kau bicarakan pada Dad, Maddy?" Sebagai orang tua yang menghabiskan waktunya membesarkan putrinya seorang diri. Tentunya Daddy Garry sangat mengerti akan tabiat Madeline.
Madeline mengangguk,"Ada, Dad."
Jika sudah seperti itu, Daddy Garry memilih mengurungkan niatnya untuk makan di restoran. Pria paruh baya itu memilih untuk memesan makanan secara online saja.
"Ikut ke ruangan, Dad." Daddy Garry menggandeng tangan putrinya menaiki lift untuk sampai ke ruangan kerjanya.
Ting! Suara lift yang menjadi tanda bahwa Madeline dan Daddy Garry sudah berada di lantai yang telah di tuju pun berbunyi.
Madeline mengikuti langkah Daddy Garry menuju ruangan yang letaknya tak jauh dari lift. Ia memilih untuk segera masuk ke dalam ruangan Daddy-nya dan membiarkan pria paruh baya itu sedang berbicara dengan office boy.
"Apa yang ingin kau bicarakan pada Daddy? Apa ini hal yang sangat penting?" Daddy Garry mendekati putri semata wayangnya.
Jika di bandingkan berbicara dengan Tuan Spencer, berbicara dengan Daddy-nya sendiri sudah cukup membuat Madeline panas dingin.
__ADS_1
Bukan tanpa sebab, dirinya memikirkan reaksi Daddy-nya jika ia mengabarkan hal mengejutkan ini.
Madeline memilin kedua tangannya hingga saling bertautan tanpa mampu menatap Daddy-nya yang saat ini sedang menunggu jawaban darinya.
Melihat putrinya yang sedang gugup dan ragu membuat Daddy Garry perlahan memeluk putri, ia tahu cara menanganinya jika Madeline sedang seperti ini.
"Apa ada hal yang membuatmu terusik, nak? Katakan pada Daddy, Dad akan mendengarnya," pintanya dengan suara lembut.
"Apa ada orang yang sudah membuatmu bersedih atau ada orang yang mengecewakanmu?" tanya Daddy Garry.
Madeline Berusaha menguasai dirinya agar bisa terlihat tegar di depan Daddy-nya. Berulang kali ia mengatur nafas agar suaranya tidak tercekat.
"Dad...," panggil Madeline tanpa berani menatap pria paruh baya itu.
"Ya...," sahut Daddy Garry.
"Maafkan aku sudah mengecewakanmu kali ini, Dad...,"
Mengecewakan? Tentang apa? Bukankah selama ini putrinya selalu membuatnya bangga. Apa yang di maksud oleh putrinya? Tentunya saja hal itu membuatnya penasaran.
"Katakan dengan jelas, nak!" pinta Daddy Garry dengan sedikit desakan.
__ADS_1
Madeline berusaha mengontrol diri dan gejolak di dadanya, wanita itu bersitatap dengan Daddy Garry dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Dad. Kali ini aku memutuskan untuk berpisah dengan Pierre. Aku akan bercerai dengan Pierre, Dad. aku tak mampu bertahan lagi...,"