My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 90 | meminta hak


__ADS_3

"Aku rasa mempertahankan juga tak ada gunanya, kau sudah memilih apa yang kau inginkan. Dan biarkan aku mengalah dalam hal ini," Madeline sebisa mungkin menahan laju air matanya yang seakan ingin membasahi pipinya.


Ia harus bisa membiasakan diri dengan rasa sakit yang di torehkan oleh Pierre kepadanya. Madeline sudah kehabisan tenaga untuk marah atau melakukan hal lain yang bisa melampiaskan rasa sakitnya kali ini.


Pierre yang mendengarnya pun langsung menegang saat itu juga. Tangannya bergetar sambil membuka isi dokumen yang ada di tangannya.


Benar saja, isinya adalah surat kesepakatan cerai yang Madeline sendiri sudah menandatangani ini semua.


Entah kenapa Pierre merasa tak rela jika hubungan pernikahan dengan Madeline harus kandas.


"Apa harus dengan perceraian untuk menyelesaikan semuanya, Madeline?" tanya Pierre. Berharap pernikahan dengan Madeline bisa terselamatkan.


Pertanyaan b*doh macam apa ini, Bisa-bisanya Madeline di suruh bertahan dengan pernikahan yang menyakitkan seperti ini.


"Jadi, aku harus memaklumi perselingkuhanmu dengan Yara, begitu?" tanya Pierre.


Pierre menggelengkan kepala,"Tidak, bukan begitu maksudku Madeline--,"


"Maksudmu apalagi, Pierre. Apa kau tak puas sudah membuatku hancur dengan segala keputusan sepihakmu?" Madeline langsung menyela pembicaraan Pierre. Menurutnya Pierre benar-benar tak bisa lagi ia maklumi, Pierre harus di lawan agar tidak melakukan hal seenaknya.


"Bukan seperti itu, selama kita menikah kau bisa menjalin hubungan dengan pria lain. Begitupun denganku,"


Madeline sampai menggelengkan kepala, berdecak heran dengan ide gila yang Pierre tawarkan itu. Tak lama Madeline tepuk tangan tepat di depan wajah Pierre.

__ADS_1


"Bagiku pernikahan adalah hubungan sakral, Pierre. Jika kau memberikan ide seperti itu, sama saja kau menodai pernikahan kita dan aku tak ingin hal itu."


"Aku sudah berjanji pada Daddyku untuk mempelakukan dirimu dengan baik, mencintaimu sebagai seorang suami dan tetap setia." imbuh Madeline.


"Maka dari itu aku memilih untuk mengakhiri itu semua, agar tak ada pihak yang tersakiti termasuk aku." Putus Madeline.


"Tapi aku tak ingin, Madeline! Tolong mengerti aku!"


Tapi Madeline tetap teguh pada pendiriannya. Ia tak tergoyahkan.


"Aku sudah banyak memberimu waktu, Pierre. Dan kau juga sudah memilih Yara. Kau hanya bisa memilih salah satu, tak bisa memiliki keduanya secara bersamaan."


"Dan yang harus kau tahu, bagiku sebuah perselingkuhan adalah kesalahan fatal dalam sebuah hubungan. Dan tak ada kata maaf lagi untuk hal itu," tekan Madeline. Ia sangat membenci perselingkuhan. Sangat!


Pierre menatap dalam wajah Madeline, berharap bujukan kali ini membuat Madeline berubah pikiran dan masih bersamanya. Pierre memang egois di sini karena telah memilih Yara namun masih mempertahankan Madeline, tapi itulah yang ia inginkan.


"Apa kau tak memikirkan bagaimana stigma orang di luar sana saat kau menyandang status janda?" tanya Pierre.


Madeline sudah memikirkan itu semua, jadi ia mampu menjawabnya,"Aku memilih menjadi janda, Pierre. Daripada harus menjalani pernikahan yang tak bahagia."


"Bukankah kau bilang jika bersamaku kau merasa tak bahagia dan tertekan. Lantas kenapa kau masih bersikukuh mempertahankan pernikahan ini?" tanya Madeline.


Pierre langsung mati kutu, ucapan Madeline mampu membuat kesadarannya langsung kembali. Ia merutuki bibirnya yang berbicara tanpa mikir panjang itu.

__ADS_1


"A-aku...,"


"Tak perlu banyak alasan, Pierre. Aku hanya membutuhkan tanda tanganmu. Setelah itu kita selesai dan kau bisa menjalin hubungan kembali dengan Yara." Desak Madeline.


Pierre pun langsung merampas pulpen dari tangan Madeline, ia langsung membuka tutupnya dan segera membubuhkan tanda tangan di sana. Tapi itu semua tak jadi. Netranya kembali menatap ke arah Madeline.


"Apa kau yakin?" tanya Pierre. Berharap Madeline hanya menggertak dirinya saja.


Madeline mengangguk dengan mantap,"Sangat yakin, aku sudah memikirkan itu semua dengan matang-matang." jawabnya.


Pierre tak ada lagi harapan, tapi ia tak kehabisan cara dan memutar otak untuk mencari cara agar Madeline mengurungkan niatnya.


"Baiklah, aku terima. Tapi aku meminta satu syarat darimu dan kau harus menurutinya." Pinta Pierre.


Madeline menatap Pierre,"Apa itu? Jika aku tak menurutinya, bagaimana?"


Pierre tersenyum smirk, hanya dengan cara ini Madeline pasti akan mengurungkan niatnya.


"Gampang."


"Ya apa?"


"Berikan hak ku sebagai suami untuk terakhir kalinya sebelum kita bercerai, setelah itu baru aku akan menandatangani surat cerai ini."

__ADS_1


__ADS_2