My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 70 | Sesak


__ADS_3

Madeline tidak bisa langsung untuk menghampiri mereka, ia memilih untuk memantau dari jauh sambil memesan kopi yang akan menemaninya malam ini.


Madeline merubah penampilannya, rambutnya yang bisa di kuncir kini mulai ia gerai dan tak lupa juga ia mengenakan kacamata hitam dan melepas jas putih yang membalut tubuhnya untuk menyempurnakan penyelidikan kali ini.


Pandangan Madeline masih tertuju ke arah Pierre dan Yara yang terlihat begitu mesra, tentu saja melihat hal itu membuat hati Madeline panas.


Lagipula istri mana yang tak marah saat melihat suaminya bermesraan dengan wanita yang pernah mengisi masa lalu suaminya itu.


Sekitar lima belas menit Madeline ada di cafe, hingga akhirnya Pierre dan Yara pun meninggalkan cafe. Begitupun dengan Madeline, wanita itu terus mengikuti keduanya hingga ke parkiran cafe.


"Bisa-bisanya kalian menghabiskan waktu bersama, sedangkan sejak tadi aku begitu sulit menghubunginya." cemburu sudah pasti, apalagi saat ini Madeline sudah memiliki perasaan pada Pierre.


Madeline rasanya ingin sekali menghampiri keduanya. Namun ia harus menahan diri terlebih dahulu. Tak lupa ia memotret foto Pierre yang sedang merangkul Yara dengan mesra, foto itu nantinya akan ia jadikan bukti di saat Pierre menyangkalnya.


"Lihatlah! Bahkan dengan tak tahu malunya mereka bermesraan di depan umum."

__ADS_1


"Benar-benar memalukan!"


Yara kini sudah di jemput oleh sopirnya, Pierre tak bisa mengantarnya kali ini karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang terbengkalai.


Pierre melambaikan tangan ke arah mobil Yara yang mulai berlalu meninggalkan cafe, ia berjalan sambil membawa tas bekal yang berisi makanan.


Langkah kakinya terus berjalan keluar cafe, begitupun dengan Madeline yang mengikuti secara diam-diam. Madeline bisa melihat jika saat ini Pierre sedang berjalan menuju tempat sampah yang ada di dekat jalan raya.


"Untuk apa dia ke tempat sampah?" pikir Madeline. Pasalnya yang di bawa oleh Pierre hanyalah tas bekal, tak ada bawaan lain.


Melihat apa yang di lakukan oleh Pierre membuat Madeline merasa sakit tak berdarah. Makanan yang ia buat dengan sepenuh hati harus berakhir di tempat sampah, tanpa sadar air mata pun mulai berjatuhan membasahi pipi Madeline.


Sakit! Sangat sakit rasanya perjuangan Madeline membuatkan bekal untuk Pierre harus dibuang begitu saja. Sebisa mungkin Madeline harus menahan diri untuk tidak menghampiri Pierre.


"Kenapa harus menyakitkan seperti ini,"

__ADS_1


Madeline mengusap air matanya dengan bahu tangan miliknya, ia sedang merapikan rambutnya yang tergerai dan mengikatnya kembali. Begitupun dengan jas putih miliknya yang kini mulai ia kenakan lagi.


"Kau tak boleh lemah Madeline, kau harus kuat dan tak terkalahkan!"


"Kau harus kuat Madeline, mungkin makanan yang kau buat tak layak di makan." Madeline terus menenangkan dirinya yang sedang di kuasai gejolak emosi.


Dengan mantap, Madeline pun berjalan menghampiri Pierre yang saat ini tengah menata kembali tas bekal yang di buka pria itu.


"Pierre...," panggil Madeline yang sedang berpura-pura melihat Pierre.


Pierre langsung menegang, ia begitu mengenal suara itu. Madeline! Ya, Madeline yang memanggilnya. Dengan pelan, Pierre pun berbalik arah hingga bersitatap dengan Madeline.


"Ka-kau ada di sini?" tanya Pierre dengan terbata-bata seperti orang yang ketahuan berselingkuh, meski sebenarnya ia melakukan itu.


Madeline mengangguk,"Ya, aku kebetulan habis beli kopi." Madeline menunjukkan gelas kopi yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Sedang apa kau?"


__ADS_2