
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam lamanya di dalam ruang operasi, Madeline pun keluar dari ruang operasi. Wanita itu telah menyelesaikan pekerjaan hari ini, lelah memang. Di tambah dengan drama siang tadi, membuatnya segera ingin bergegas istirahat.
Madeline melangkahkan kakinya memasuki ruangan miliknya, mengganti pakaian bedah yang ia kenakan dengan pakaian yang ia pakai saat berangkat kerja.
"Aku harus segera ke mansion." gumam Madeline yang terus melangkahkan kakinya menuju parkiran.
Untungnya Madeline membawa mobil sendiri, jadi ia tak perlu menunggu Pierre terlebih dahulu. Sebenarnya bisa saja ia mengajak Pierre, namun saat wanita itu menghampiri ruangan tempat Pierre bekerja, pria itu tampak tengah sibuk dengan pasien.
Hingga mau tak mau dirinya hanya bisa berpamitan melalui pesan.
Mobil yang di kendarai oleh Madeline membelah sepanjang jalan Los Angeles, menuju mansion Eduardo tempat Daddy-nya berada. Membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit perjalanan untuk sampai di mansion Eduardo.
Saat Madeline baru saja turun dari mobil, dering ponselnya berbunyi.
"Pierre," gumam Madeline saat melihat siapa yang menghubungi dirinya.
Madeline mengurungkan niatnya untuk melangkah ke dalam mansion, wanita itu mengangkat panggilan dari Pierre terlebih dahulu.
"Ya, Pierre," jawab Madeline.
"Kau dimana?" tanya Pierre yang saat ini berada di depan ruangan Madeline. Namun wanita itu telah meninggalkan ruangan, hingga membuat Pierre menghubungi Madeline, menanyakan keberadaan wanita itu.
"Mansion keluargaku, ada apa?" tanya Madeline. Karena tak biasanya Pierre seperti ini, hingga membuat dirinya bertanya-tanya.
"Tunggu aku, aku akan segera kesana." pinta Pierre.
"Tak perlu, aku menginap di mansion keluargaku malam ini. Bukankah sebelumnya aku sudah meminta izin," tolak Madeline.
"Aku minta tunggu," pinta Pierre.
"Ta-tapi...," belum juga Madeline melanjutkan kata-katanya, Pierre sudah memutuskan panggilan telepon dengan sepihak.
"Menyebalkan!" gerutu Madeline.
"Aku sudah izin padanya untuk pergi ke mansion, kenapa harus menyusul. Kalau ingin ikut menginap tak masalah. Bagaimana kalau ia menyusul untuk ikut pulang bersama? Oh tidak! Aku tidak mau," gumam Madeline yang langsung segera memasuki mansion, dan langsung berlari menuju kamar Daddy-nya.
"Dad." panggil Madeline sambil membuka handle pintu.
Terlihat pria paruh baya, tengah berbaring di ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Dad, kau sakit apa?" tanya Madeline dengan khawatir.
Melihat putrinya yang datang menghampirinya, membuat Daddy Garry langsung menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang.
"Tetap seperti itu, Dad." pinta Madeline saat melihat Daddy-nya yang berusaha menyandarkan tubuhnya.
Daddy Garry yang tubuhnya merasa lemas langsung menuruti ucapan putrinya.
"Maaf, Dad membuatmu khawatir," ujar Daddy Garry dengan suara kecil.
Madeline menggelengkan kepala,"Jangan berbicara seperti itu, Dad. Sudah seharusnya kau memberiku kabar," jawab Madeline.
Daddy Garry menoleh ke segala arah, mencari seseorang yang ia cari.
"Kemana suamimu?" tanya Daddy Garry.
"Apa kalian bertengkar?" tanyanya lagi.
Madeline mengulas senyum tipis,"Sedang menyusul, Dad. Kebetulan tadi Pierre tengah menangani pasien," ungkap Madeline.
Daddy Garry mengangguk,"Apa selama ini suamimu memperlakukan dirimu dengan baik?" tanya Daddy Garry.
Madeline tampak berpikir, selama ini memang Pierre selalu memperlakukan dirinya dengan baik. Terlepas sifatnya yang kadang membuat Madeline ingin mati muda rasanya.
"Tentu, hanya saja kami sering terlibat perdebatan kecil. Namun kau tenang saja, Dad. Putrimu bisa menyelesaikan itu semua,"seloroh Madeline dengan bangga.
Daddy Garry sampai tersenyum melihat putrinya yang begitu ceria. Ia begitu mengenal putri semata wayangnya, putrinya yang begitu polos, Madeline selalu di didik menjadi anak yang selalu berkata jujur meski itu hal menyakitkan sekalipun.
Jadi jangan heran, jika melihat Madeline yang terkesan terbuka dan tak tahu malu. Itu adalah sifat alami yang di miliki Madeline.
"Apa kau sudah mulai mencintai suamimu?" tanya Daddy Garry.
Mendengar ucapan Daddy-nya, membuat Madeline langsung bungkam. Diam seribu bahasa, ia bingung untuk mengatakan hal ini.
Untuk masalah perasaan pada Pierre, saat ini menurutnya begitu abu-abu. Madeline belum bisa menjawab ya atau tidak untuk hal ini.
"Aku tak bisa langsung menyimpulkan dengan langsung tentang perasaanku, Dad. Aku mengikuti arus saja," jawab Madeline dengan jujur.
Daddy Garry mengangguk,"Boleh Dad memberi masukan untukmu?" tanyanya.
__ADS_1
Madeline mengangguk, ia akan selalu mendengar apapun yang di ucapkan Daddy-nya. Mungkin jika bersama Pierre, Madeline terlihat begitu menyebalkan di depan pria itu. Namun lain hal jika bersama Daddy Garry, wanita itu seakan selalu menuruti apapun ucapan Daddy-nya.
"Katakan saja, Dad. Aku siap mendengar," ucapnya.
Dady Garry mengatur napasnya, lalu menghembuskan dengan perlahan,"Belajarlah membuka hati untuk suamimu, jangan terpaku dengan kejadian di masa lalu. Dad tahu kau masih terbayang dengan kejadian Mommymu yang telah tiada," pintanya.
Mendengar ucapan Daddy-nya, membuat kedua netranya membola. Kenapa Daddy-nya berbicara seperti itu? Apa selama ini pria paruh baya itu masih mengawasi dirinya.
"Apa yang ada di pikiranmu benar adanya, Dad tahu kejadian siang tadi," ungkapnya.
"Da-Dad...," panggil Madeline sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu harus berbicara apa kali ini, sejak dulu memang Daddy-nya meminta putrinya untuk berdamai dengan masa lalu.
Kehilangan sosok ibu, membuat Madeline begitu terpukul hingga dirinya begitu lemah dan sering kali sakit. Namun karena dukungan dan perhatian keluarga Eduardo, Madeline kembali seperti biasanya. Meski semua itu tidak sepenuhnya.
"Jangan terbebani dengan bayang-bayang masa lalu, kau berhak melanjutkan hidup untuk masa depan yang cerah," pintanya.
"Jangan membuat Mommy yang telah pergi merasa tidak tenang karena kau yang tak bisa berdamai dengan kejadian itu, ini adalah takdir," imbuh Daddy Garry.
Ia tak ingin putrinya terbelenggu dengan masa lalu, ia ingin putrinya hidup layaknya para sepupunya yang kini dapat merasakan bahagia mereka masing-masing.
Madeline terdiam, ucapan Daddy-nya ada benarnya juga. Ia tak bisa seperti ini, ia harus keluar dari zona nyaman dan mulai membuka hati.
"Akan aku usahakan, Dad. Maafkan aku yang sudah menyulitkanmu," lirih Madeline sambil menundukkan kepalanya.
Daddy Garry sampai menggelengkan kepalanya,"Kau putriku! Sudah seharusnya aku mengarahkan putriku," jawabnya.
Saat ayah dan anak itu berbicara, Pierre datang memghampiri keduanya.
"Dad, kau sakit?" tanya Pierre pada ayah mertuanya, pria itu menghampiri sang istri dan ayah mertuanya.
Daddy Garry tersenyum hangat mendengar menantunya yang begitu perhatian,"Seperti yang kau lihat, aku hanya kecapekan karena terus memaksakan diri untuk bekerja," jawabnya.
Mendengar ucapan Daddy membuat Madeline khawatir,"Apa tidak sebaiknya kau pensiun saja, Dad. Biar aku yang membiayai hidupmu," pinta Madeline.
Lagipula saat ini Madeline memiliki penghasilan yang cukup untuk hidup berdua, meskipun ia hanya menerima setengah gajinya dengan alasan kemanusiaan. Namun setengah gaji itu lebih dari cukup untuk Madeline.
"Aku mau saja, tapi aku ingin ada yang meneruskan profesiku," ucap Daddy Garry. Karirnya sebagai anggota intelejen ternama di negaranya, membuat dirinya begitu berat melepaskan itu semua.
Ia ingin memiliki penerus untuk melanjutkan karirnya. Namun, putrinya lebih memilih untuk menjadi seorang Dokter.
__ADS_1
"Maka dari itu, berikan aku seorang cucu. Maka aku akan pensiun," jawabnya dengan santai namun mampu membuat Madeline dan Pierre terdiam.