
Di dalam apartement, Pierre sejak kepergian Madeline terus meluapkan emosinya yang membumbung tinggi. Pria itu mengacak-acak kamar miliknya hingga terlihat seperti kapal pecah.
"Kenapa kau menerima tantangan gila itu Madeline, harusnya kau menolak dan memilih tetap bersamaku." Pierre terus meraung, ia menyibakkan selimut di atas ranjang dan menghempaskan ke lantai.
Tapi tak lama, atensinya tertuju pada noda bercak darah yang ada di atas seprei ranjang miliknya.
Ingatannya kembali tertuju pada kejadian semalam, di mana dirinya berhasil merenggut sesuatu berharga dari Madeline.
"Arghh! Ini benar-benar g**a!" Makinya yang kini bersandar di pinggir ranjang. Energinya yang terkuras habis karena mengamuk, membuat Pierre kelelahan.
"Aku harus mencari cara, aku tak ingin bercerai." gumamnya.
"Tapi, bagaimana dengan Yara? Apa aku harus melepaskan dirinya demi kembali bersama Madeline?" Pierre menggelengkan kepala yang mulai terasa berat karena banyak berpikir.
"Madeline sendiri tak bisa menolerir sebuah perselingkuhan. Apa yang harus aku lakukan?" Pierre yang kalut sampai mengepal tangan dan menghantam lantai hingga buku jarinya merah semua.
Pierre memegang kepala karena pusing memikirkan semuanya, di tambah ia hanya tidur beberapa jam saja setelah menghabiskan waktu di atas ranjang bersama Madeline.
Sibuk memikirkan semua cara, membuat Pierre tak sadar jika ponsel miliknya terus berdering tanpa henti.
Pierre bisa yakini siapa yang menghubunginya saat ini, mengingat sudah beberapa hari ini ia mengabaikan dan tak memberinya kabar karena memikirkan Madeline sampai saat ini.
"Aku sedang sibuk, jangan ganggu aku atau aku blokir kontakmu," tanpa aba-aba Pierre langsung mengatakan hal itu, tanpa melihat siapa yang menghubunginya kali ini.
"Siapa yang kau maksud, huh? Cepat kerumah sakit atau ku coret namamu dari bagian keluarga Spencer," suara berat dan tegas itu mampu membuat Pierre langsung berdiri dari posisi sebelumnya.
"Untuk apa?"
"Cepat kesini atau orang-orang Dad akan menyeretmu ke rumah sakit." Ancamnya. Lalu pria paruh baya itu mematikan ponselnya.
__ADS_1
Pierre menggeram frustasi. Ia merasa ini bukanlah sinyal yang baik atau lebih tepatnya ada hal yang sangat penting.
"Pasti Madeline mengadukan hal ini pada Daddy," gerutunya. Dengan kesal pria itu berjalan menuju kamar mandi, membersihkan dirinya dari jejak-jejak percintaan semalam.
Tak lama, Pierre pun kini sudah rapi dan terlihat segar. Namun raut wajahnya terlihat seperti sedang kalut saat ini.
Ia merampas kunci mobil miliknya dan berjalan keluar dari apartemen miliknya, segera bergegas menuju rumah sakit sebelum orang-orang tuan Spencer akan membawanya ke hadapan pria itu.
Madeline baru saja tiba di mansion Eduardo, sambil menggeret koper Miliknya. Wanita itu kembali melangkahkan kakinya ke mansion yang menjadi saksi tumbuh kembang dirinya dan kedua sepupunya itu.
"Maddy...," suara Daddy Garry membuat Madeline menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh dan menatap wajah pria paruh baya itu dengan berkaca-kaca.
"Dad...," Madeline berhambur ke dalam pelukan Daddy-nya.
Bagi Madeline, di dunia ini hanya ada satu pria yang benar-benar mempelakukan dirinya dengan baik layaknya barang berharga yaitu Daddy Garry.
Daddy Garry memeluk putrinya yang saat ini menangis di dekapannya. Tak ada seorang ayah yang baik-baik saja melihat putrinya hancur seperti ini, ia mengerahkan semua cinta, kasih sayang dan perhatiannya untuk Madeline.
"Menangislah, nak. Luapkan kesedihanmu hari ini. Tapi setelah ini kau harus berjanji untuk tidak menangisi hal yang sama," Daddy Garry menepuk bahu putrinya dengan pelan sebagai pertanda untuk tetap kuat menghadapi semua ini.
"Ini sangat menyakitkan untukku, Dad." Isak tangisnya.
"Apa yang Dad perlu lakukan untuk membalas rasa sakitmu, nak. Apa perlu Dad hancurkan rumah sakit itu?" ucap Daddy Garry.
Tidak! Madeline tidak ingin melakukan hal itu. Masih banyak pasien yang membutuhkan rumah sakit itu untuk sembuh dari penyakitnya.
"Tak perlu, Dad."
"Lalu?"
__ADS_1
"Aku ingin perceraianku segera di proses tanpa hambatan, Dad. Aku ingin segera pergi dari sini," ucapnya.
Raiden dari arah barat berjalan menghampiri ayah dan anak itu. Pasalnya, saat ini kedua orang tuanya sedang berada di luar untuk menghadiri pertemuan dengan keluarga Philips.
"Untuk hal itu kau bisa serahkan semuanya kepada pengacaramu, kau hanya perlu menunggu akta ceraimu saja." Ucapnya.
Ucapan Raiden benar adanya, Madeline tak perlu lagi bersitatap dengan Pierre yang terus melayangkan tatapan kebencian ke arahnya.
"Kau benar. Tapi apa itu artinya aku bisa segera pergi ke Milan?" tanya Madeline. Ia sudah muak dengan Los Angeles dan ingin segera ke Milan.
Raiden menganggukkan kepala,"Tentu, nanti kau kabarkan saja Piero agar private jet miliknya langsung ke Los Angeles," jawabnya dengan enteng.
Madeline menatap ke arah Daddy-nya untuk meminta persetujuan,"Bagaimana, Dad? Apa kau setuju?" tanya Madeline.
Daddy Garry tampak berpikir, namun tak berselang lama pria paruh baya itu kembali bersuara.
"Setidaknya kau bisa berangkat besok hari, perjalanan dari Milan ke Los Angeles memakan waktu yang lama,"
Madeline mengangguk,"Baiklah, untuk hari ini aku akan tinggal di mansion sampai private jet sepupuku datang menjemput," putus Madeline.
Raiden berjalan mendekati Madeline,"Bagus, harusnya dari dulu kau lakukan hal itu."
"Karena kau tak ada hubungan lagi dengan pria bedebah itu, maka izinkan aku membalas rasa sakitmu, apa boleh?" tanya Raiden. Ia sejak tadi mendengar isi hati Madeline. Dan ia ikut merasakan sakit atas apa yang terjadi dengan Madeline dan berniat membalasnya.
Madeline menggelengkan kepala, menatap Daddy Garry dan Raiden dengan wajah penuh permohonan,"Kumohon, jangan seperti itu. Biarkan saja."
"Aku tak ingin kalian mengotori tangan dan pikiran kalian dengan hal itu, aku sedang berusaha menerimanya dengan lapang dada." pinta sambil memohon.
Melihat Madeline memohon seperti itu membuat Raiden pun sedikit luluh, bersama Madeline ia tak bisa menolak apapun yang di minta wanita itu. Ia begitu lemah dan tak berdaya, menjadikan Madeline seakan kelemahan hidupnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menurutimu, tapi sekarang kau harus segera istirahat ke kamar, sampai aku memanggilmu dan kita segera berangkat ke airport." Suruh Raiden.
Madeline mengangguk seraya mengulas senyum tipis,"Okey." Wanita itu segera berjalan menaiki anak tangga dan menuju kamar miliknya. Ia harus istirahat, tubuhnya begitu lelah.