
Menikah? Dengan orang yang selalu mengusik hidupnya, seperti yang saat ini ia lakukan. ini benar-benar lelucon yang paling menggelikan di abad ini.
"Kau pikir menikah seperti sedang bermain di sebuah wahana yang bisa mendadak, semua butuh persiapan dan kesiapan," ucap Madeline yang menolak usul Pierre.
Pierre kembali terdiam, ucapan Madeline memang benar adanya. Namun ini semua menyangkut harga diri dan juga karir keduanya. Sebagai seorang dokter yang begitu di kenal karena keahliannya yang mumpuni.
"Hanya itu yang bisa kita lakukan demi menyelamatkan kita berdua, Madeline." Tampaknya Pierre masih terus membujuk Madeline, bukan hal mudah memang jika bekerja sama dengan musuh.
Madeline menyanggah pernyataan Pierre,"Bukan aku, tapi kau."
"Aku tak masalah jika menjadi cibiran orang. Toh, aku sudah terbiasa akan hal itu." tukas Madeline.
"Kita harus tetap menikah," putus Pierre yang seakan tak terima semua penolakan Madeline.
Madeline tetap teguh pada pendiriannya, ia tak ingin menikah hanya karena menyelamatkan harga dirinya. Toh, ini semua juga bukan salah dirinya.
"Kau saja yang menikah dengan kambing, aku tidak." ucapnya sebelum beranjak pergi meninggalkan Pierre.
Madeline berjalan mendekati Daddy Garry yang sejak tadi menatap ke arahnya.
"Ayo Dad, suasana hatiku benar-benar hancur datang ke pesta ini." sesal Madeline yang berjalan menjauhi Pierre dan tuan Spencer.
Sebelum menyusul putrinya, Daddy Garry tampak berpamitan terlebih dahulu dengan rekannya. Pria paruh baya itu menghampiri putrinya yang sedang di landa kesal.
"Kenapa kau bisa berada di atas pelaminan bersama Pierre?" tanya Daddy Garry dengan penasaran. Pasalnya, terakhir ia liat putrinya saat sedang mencicipi semua makanan yang ada di pesta.
Lalu mengalirlah sebuah cerita dari bibir Madeline,"Saat itu aku sedang menikmati semua hidangan Dad, lalu Pierre datang menarik tanganku. Kau tahu, Dad? karena ulahnya, aku sampai tersendat karena tidak minum. Untungnya aku bawa air mineral kemanapun aku pergi." ungkap Madeline.
Hal seperti ini yang selalu Daddy Garry sukai. Putrinya yang selalu menjadikan tempatnya untuk bercerita suka duka, baik buruknya tanpa ada yang di tutupi sedikit pun.
__ADS_1
"Lalu Dad, setelah itu ia memintaku untuk menjawab semua pertanyaan darinya dengan kata 'YA'. Aku tentu menurut saja, tanpa aku tahu bakal jadi seperti ini," desah Madeline yang terlihat begitu frustasi.
Daddy Garry begitu greget mendengar ucapan putrinya,"Kenapa kau mau saja?" ucapnya sambil tersenyum.
"Aku pikir takkan seperti ini Dad," ulang Madeline.
"Aku harus apa Dad? Aku tak ingin menikah dengan pria menyebalkan sepertinya, kau tahu Dad? Dia sering mengejek diriku dengan sebutan perawan tua. Menyebalkan bukan?" sambung Madeline dengan menggebu-gebu. Ia benar-benar tak tenang saat ini, ia butuh bantuan seseorang untuk menyelesaikan ini semua.
Jika Madeline saja bertanya pada Daddy Garry, lantas ia harus bertanya pada siapa. Ia benar-benar bingung menghadapi situasi serumit ini, ini adalah kali pertama mengalami kejadian seperti ini.
"Dad, apa Piero sudah di Los Angeles?" tanya Madeline. Sedikit informasi yang ia tahu dari Abella, Piero saat ini sedang berangkat kembali ke Los Angeles setelah beberapa waktu lamanya di Milan karena urusan pekerjaan.
Daddy Garry mengangguk,"Sudah, apa kau ada keperluan dengannya?" tanyanya.
"Aku butuh bantuan dia untuk kali ini, Dad." putus Madeline. Karena sepupunya sudah pernah mengalami hal sulit seperti ini saat menemani istrinya sebelum menikah dulu.
Daddy Garry melarang, ia tak ingin putrinya mengganggu keponakannya yang saat ini sedang dalam kondisi sulit.
Alis Madeline terangkat, hingga dahinya berkerut,"Apa ada masalah lagi, Dad?" tanya Madeline.
Daddy Garry tentu mengangguk,"Ya, saat ini ia sedang masa sulit. Jangan kau ganggu dia, jika kau ingin selesaikan masalahmu. Cari jalan keluarnya bersama Pierre, semua keputusan ada di tanganmu." Pesan Daddy Garry.
Madeline bergeming, ia tak tahu harus mengambil keputusan apapun. Ini begitu sulit, di sisi lain ia tak ingin terikat sebuah pernikahan dengan pria yang selalu menjadi teman di setiap situasinya itu. Di sisi lain, ia juga tak ingin karir yang sudah ia rintis dari awal hancur karena rumornya yang merupakan selingkuhan Pierre.
Oh god! Madeline benar-benar bingung untuk mengambil keputusan serumit ini.
"Jika aku menikah dengan Pierre, apa kau akan memberi restu?" tanya Madeline dengan asal. Ia berharap semoga Daddy Garry tidak merestui dirinya dengan Pierre, agar punya alasan untuk menolak.
Daddy Garry menoleh kearah Madeline, menatap paras putrinya yang perpaduan antara dirinya dan istrinya yang telah tiada.
__ADS_1
"Semua keputusan ada di tanganmu. Itu pilihanmu, Dad tidak melarang ataupun menyuruhmu. Hal itu juga Dad sudah katakan pada tuan Spencer," ungkap Daddy Garry.
Huft! benar-benar situasi rumit. Semua ini karena kekonyolan yang di perbuat oleh Pierre Cardin Spencer.
...****************...
Sementara di Ballroom tempat mantan kekasih Pierre melangsung pernikahan, kini Pierre tengah bersitatap dengan Tuan Spencer yang tak lain adalah Daddy-nya.
"Apa maksudmu melakukan ini semua?" cecar Tuan Spencer dengan sebuah pertanyaan.
"Aku hanya terpancing dengan ucapan nyonya Ludwig yang terus merendahkan diriku, Dad. Kau tahu, aku di samakan dengan pria player seperti Uncle Jordan, yang benar saja," jelas Pierre yang tak terima, ia terus menyangkal mesti semua perbuatan ini bersumber dari dirinya.
"Lalu kenapa kau harus membawa Madeline dalam masalahmu, kau tahu? Dad sampai malu berhadapan dengan tuan Marshall, bagaimana jika dengan keluarga Eduardo tahu." Tuan Spencer yang membayangkan saja sudah langsung sakit kepala, ditambah Madeline yang memiliki dua sepupu yang sangat menyayangi dirinya.
Pierre tak menjawab, jika di lihat memang semua berawal dari dirinya. Namun dengan santainya, pria itu justru menyalahkan Madeline.
"Kenapa harus malu, Dad. Bukankah sebentar lagi kita akan menjadi sebuah keluarga," Ya tuhan, enteng sekali Pierre jika berbicara.
"Kau sungguh ingin menikah dengan Madeline?" tanya Tuan Spencer.
"Hanya demi menyelamatkan harga diriku dan karir Madeline saja, selebihnya tidak. Kau tahu persis bukan? aku masih mencintai calon auntyku itu." ucap Pierre dengan santai.
Kedua bola mata tuan Spencer sampai membola, putranya kenapa masih bisa berpikir seperti itu. setelah semua yang telah terjadi.
"Urungkan niatmu jika seperti itu, pernikahan bukan hubungan yang bisa kau permainkan." pinta Tuan Spencer dengan tegas.
Pierre menggelengkan kepala,"Aku tak mungkin menghentikan langkahku, Dad. Aku sudah melangkah terlalu jauh,"
"Bantu aku untuk meyakinkan Uncle Garry, Dad."
__ADS_1
" Untuk Madeline, wanita itu biar menjadi urusanku," ucap Pierre. Pemikirannya yang begitu egois serta menang sendiri, membuat Pierre terlihat begitu mendominasi. Hingga tanpa disadari, perbuatan kali ini akan membawanya ke sebuah lingkaran yang tanpa ujungnya.