My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 34 | Sesuatu yang tertinggal


__ADS_3

"Sejak semalam, bersama Madeline," jawab Pierre dengan jujur.


Pierre tak berani bertatapan dengan putra sulung dari keluarga itu. Netra Raiden yang setajam elang membuat Pierre merasa terintimidasi.


Melihat hal itu, membuat Madeline bersuara.


"Rai, jangan menatapnya seperti itu. Di bukan musuh," ucap Madeline.


Mendengar ucapan Madeline membuat Raiden langsung memutuskan pandangannya, lalu melanjutkan kegiatan sarapannya.


Jika Madeline sudah menunjukkan raut seperti itu Raiden tentu sudah paham, wanita itu seakan meminta dirinya untuk berhenti melakukan sesuatu yang membuat orang terdekatnya tak nyaman.


"Ya." jawabnya dengan singkat. Lalu Raiden melahap sarapan paginya dengan rakus.


Suasana sarapan kali ini terasa begitu ramai dengan kehadiran Madeline. Biasanya tidak seperti itu, para penghuni mansion biasanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Seperti Raiden yang harus mengurus perusahaan keluarga, begitupun dengan Madeline yang di sibukkan dengan jadwal operasi. Di tambah, saat ini Madeline sudah tidak lagi tinggal di mansion Eduardo dan ikut bersama suaminya. Semakin sepi saja suasana mansion.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Madeline dan Pierre berpamitan dengan seluruh keluarga. Keduanya harus segera bersiap berangkat, mengingat keduanya sedang di tunggu.


"Aku pamit, Dad. Aku akan selalu memantau kondisimu," ujar Madeline sambil memeluk tubuh pria yang menjadi cinta pertamanya itu.


Daddy Garry menepuk bahu putrinya dengan pelan, lalu menatap wajah putrinya.


"Dad sudah mulai membaik, jangan Khawatir," jawabnya dengan mengulas senyum tipis.


Madeline tentu menggelengkan kepala,"Tidak seperti itu, Dad. kau harus benar-benar pulih! Kau harus terus sehat hingga aku memberikan cucu untukmu," kata Madeline hingga membuat Daddy Garry kembali tersenyum.


"Dad tunggu kabar baik itu,"


Madeline memasuki mobil yang di kendarai oleh Pierre, hingga mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Madeline merasa ada yang beda kali ini, ia seperti ada yang merasa tertinggal. Namun hal itu apa? Ah! Memikirkan saja sudah membuatnya sakit kepala saat ini.


Hingga Madeline langsung mengingat akan apa yang merasa kurang dengan dirinya.


"OMG! Mobilku... Masih di mansion," Madeline baru mengingat bahwa mobilnya berada di mansion Eduardo.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Pergi dengan membawa mobil sendiri, pulang justru bersama dengan Pierre dan meninggalkan mobilnya di mansion Eduardo.


Melihat Madeline yang panik membuat Pierre mengulas senyum,"Salah sendiri, siapa suruh langsung masuk ke dalam mobilku," ucap Pierre.


Memang, ada rasa senang tersendiri kala melihat Madeline yang tingkahnya begitu terburu-buru hingga melupakan mobilnya.


"Kenapa kau tidak memberitahu padaku, bahwa mobilku berada di sana, huh?"


Pierre menjawab itu semua dengan santai,"Sengaja, agar kau bisa pulang bersamaku," jawabnya dengan enteng tanpa melihat Madeline yang seakan ingin menelannya hidup-hidup.


"Pierre," kesal Madeline yang merasa di permainkan oleh Pierre.


Pierre tertawa keras, Madeline benar-benar membuat hidupnya berwarna dengan segala tingkah aneh dan ajaibnya.


"Tak perlu kesal seperti itu, kau bisa meminta orang di mansion untuk membawa mobilmu ke tempat tinggal kita," jawab Pierre.


"Tapi kau sangat menyebalkan, Pierre. Harusnya kau memberitahu padaku jika seperti ini," ketus Madeline.

__ADS_1


Namun sekali lagi, Pierre hanya menatap Madeline dengan santai seakan tanpa rasa bersalah. Memang semua itu tidak sepenuhnya salah Pierre Tapi... Ah! Benar-benar menyebabkan.


"Sifat menyebalkan adalah nama lain dari diriku di masa lalu," seloroh Pierre.


__ADS_2