
"Berikan Dad seorang cucu, maka kau akan dapatkan posisi itu," syarat yang diberikan Tuan Spencer nyatanya mampu membuat Pierre bungkam.
"Tak bisa, Dad. kau tahu sendiri aku menikah dengannya karena aku menjebaknya, aku yang menyeret Madeline dalam masalahku," tolak Pierre.
Tuan Spencer menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan,"Kau memperlakukan Madeline layaknya seorang wanita bayaran, bedanya kau menekan dan memaksa Madeline tanpa mendapatkan apapun. Betapa malangnya nasib wanita itu," tukas Tuan Spencer.
"Keputusan Dad tetap sama, kau akan mendapatkan jabatan ini jika kau bisa memberi cucu untuk keluarga Spencer," ucap Tuan Spencer dengan final.
Pierre menghela napas dengan panjang, begitu sulit menarik tawaran yang pernah ia dapatkan. Andai ia tahu kejadiannya akan seperti ini, ia lebih baik menerima tawaran itu dari awal.
"Aku tetap pada pendirianku, Dad. Takkan menyatu dengan Madeline, karena yang aku inginkan hanyalah Nayara Eliza Ludwig, bukan Madeline Elana Marshall," tekan Pierre.
Pierre adalah orang yang begitu sulit untuk bangkit dari masa lalu, termasuk dengan hubungannya dengan Yara. terlalu banyak kenangan yang keduanya lalui membuat Pierre sulit untuk tidak menengok ke masa lalu yang begitu indah ia lalui bersama Yara.
"Jika tak ada yang kau bicarakan lagi, lebih baik keluar dari sini. Dad takkan memberikan hak istimewamu sebelum kau menuruti persyaratan yang Dad berikan," ingat Tuan Spencer.
Netra tajam Pierre menatap Daddy-nya, ia tahu Tuan Spencer lebih menyukai Madeline yang jadi nyonya muda Spencer daripada Yara. Namun namanya hati, tak bisa di paksakan,bukan?
"Minggu depan, ajak istrimu ke mansion. Dad akan mengadakan jamuan makan malam, sekaligus memperkenalkan Madeline sebagai menantu dari keluarga Spencer," pinta Tuan Spencer.
"Akan aku usahakan," jawab Pierre. Lalu pria rupawan itu meninggalkan ruangan tuan Spencer dengan suasana hati yang begitu buruk.
Jika Daddy-nya ingin mengadakan makan, itu artinya akan ada Alois datang ke mansion. Pasti Alois akan mengajak Yara. Ya, Pierre takkan melewatkan kesempatan itu. Ia merindukan mantan kekasihnya yang kini telah menjadi aunty-nya.
Pierre berjalan menuju ruangan radiologi untuk memantau pasien yang saat ini tengah ada jadwal terapi dengannya. Sebelum ia memutuskan untuk ke ruangan direktur Spencer, Pierre terlebih dahulu mengecek jadwal terapi pasiennya. Dan sekarang, adalah waktunya.
...****************...
Madeline telah usai dengan tugasnya hari ini, berjibaku dengan alat bedah selama 3 jam lamanya membuatnya lelah. Namun itu semua adalah resiko dari pekerjaan Madeline sebagai Dokter bedah onkologi, Madeline menikmati itu semua.
Hingga dirinya merebahkan diri sejenak di sofa panjang yang ada di dalam ruangan miliknya. Ruangan yang di dominasi dengan warna kesukaan Madeline yaitu biru langit. Membuat suasana terlihat begitu segar dan enak di pandang.
Madeline memilih beristirahat sejenak, sebelum akhirnya ia pulang ke apartement yang ia tinggali sekarang. Karena setelah ini, ia harus bersiap untuk mengunjungi mansion Eduardo.
__ADS_1
Seperti yang sudah di informasikan sebelumnya, keluarga Eduardo akan memiliki seorang cucu dari putra bungsu mereka yang dua bulan lalu menikah, Madeline tentu senang mendengar kabar itu. Artinya, sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang aunty.
Jika mengingat tentang anak, tentu saja Madeline ingin memiliki seorang anak. Hanya saja dengan pria yang nantinya akan mencintai dirinya begitupun sebaliknya. Jika berbicara tentang Pierre, untuk saat ini Madeline masih belum bisa banyak berbicara akan tentang pria itu. Bagi Madeline, semua masih terlalu dini.
"Lebih baik aku pejamkan mata sejenak, sambil menunggu Pierre," ucap Madeline yang kini mulai memejamkan mata. Karena tubuhnya yang lelah, membuat Madeline langsung tertidur.
Berbeda dengan Pierre, sejak tadi pria itu mencari Madeline sampai ke ruang operasi. Namun nihil, Madeline tak ada disana. Hingga Pierre teringat sebuah tempat yang belum ia kunjungi, yaitu ruangan Madeline.
"Pasti dia ada di ruangan miliknya," tebak Pierre. Lalu Pierre berjalan menuju ruangan Madeline yang berada di arah timur rumah sakit milik keluarganya itu.
Pierre mengetuk pintu ruangan Madeline, namun tak ada sahutan dari wanita itu. Hingga mau tak mau Pierre langsung membuka pintu ruangan dan memasukinya. Terlihat, Madeline tengah meringkuk di sofa panjang.
"Bisa-bisanya dia terlelap dengan kondisi ruangan tak terkunci," gerutu Pierre. Pria itu lantas langsung membangunkan Madeline, mengingat keduanya harus segera bersiap.
Namun melihat wajah Madeline yang terlihat lelah, membuat Pierre mengurungkan niatnya.
"Aku ingin membangunkan, tetapi tak tega."
"Jika sedang membuka mata kau terlihat polos namun jutek, tetapi jika sedang terlelap seperti ini, kau begitu tenang,"
"Pierre, kau disini?" tanya Madeline sambil mengucek matanya.
Pierre langsung menoleh, benar saja, Madeline saat ini sedang mengikat rambutnya dengan di cepol.
"Sudah tiga puluh menit yang lalu aku disini," jawab Pierre sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" gumam Madeline.
Pierre menggelengkan kepala,"Kau terlihat lelah, jadi ku biarkan saja. Selagi tidak seharian penuh kau tertidur," jawabnya.
Benar juga dengan apa yang dikatakan oleh Pierre. Madeline langsung bergegas menuju kamar mandi, mencuci muka agar terlihat lebih segar.
"Wait, aku cuci muka terlebih dahulu," pinta Madeline.
__ADS_1
Pierre mengangguk, sambil menunggu Madeline yang berada di toilet. Pierre memilih menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel, mempelajari tentang jurnal kedokteran miliknya. Meski ia telah menjadi dokter hebat, Pierre masih terus mengasah kemampuannya.
Hingga Madeline pun keluar dari toilet, terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Ayo," ajak Madeline yang sedang memakai tas miliknya, tak lupa jas kebanggaan miliknya yang ia sampirkan di pundaknya.
Pierre langsung menaruh ponselnya di dalam saku, bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan bersama Madeline.
"Kita ingin ke apartment dulu atau langsung ke mansion keluargamu?" tanya Pierre.
Madeline tampak berpikir, pasalnya ia tak membawa baju cadangan yang selalu ia sediakan di tas miliknya. Hingga Madeline memutuskan untuk pulang ke apartement terlebih dahulu.
"Kita pulang saja, aku tak membawa pakaian ganti," jawab Madeline.
Pierre langsung mengendarai mobilnya, keluar dari halaman rumah sakit menuju apartment miliknya yang tak jauh dari rumah sakit.
...****************...
"Apa Maddy masih lama, Raiden?" tanya Mommy Audy yang tak lain adalah aunty dari Madeline.
Raiden langsung mengambil ponsel miliknya dari atas meja, mencoba menghubungi sepupunya yang sejak tadi mereka tunggu.
Hingga terdengar suara berisik dari Madeline memasuki mansion Eduardo.
"Aku datang," sapa Madeline dengan suara riangnya.
Sementara Pierre, pria itu hanya berdecak melihat kelakuan aneh Madeline. Image Madeline yang terkenal tegas luntur sudah jika kembali ke tempat ia berasal.
"Sifat aslinya mulai keluar juga," decak Pierre.
Madeline yang mendengar ucapan Pierre langsung menghentikan langkah kakinya, menoleh ke arah Pierre.
"Beginilah aku, kaget bukan?" tanya Madeline dengan santai.
__ADS_1
"Biasa saja," jawab Pierre dengan acuh.
Sementara keluarga Eduardo yang melihat perdebatan suami-istri itu hanya menggelengkan kepala, keduanya tak jauh berbeda dengan Abella dan Saviero yang saat ini tinggal di Milan.