
Setelah pertengkaran beberapa waktu lalu, baik Madeline maupun Pierre tidak saling bertegur sapa. Keduanya saling acuh satu sama lain.
Jika Madeline saat ini sedang memikirkan matang-matang tentang keputusan yang akan ia ambil nantinya. Hal berbeda dilakukan oleh Pierre. Seperti orang tak tahu akan letak kesalahannya, Pierre justru saat ini sedang bertukar kabar dengan Yara melalui sambungan telepon.
Kata-kata manis dan penuh perhatian Pierre lontarkan kepada Yara, seakan dunia hanya milik mereka berdua. Predikat sebagai pria jahat yang tak punya hati dan pikiran karena telah menyakiti Madeline pantas di sematkan kepada Pierre Cardin Spencer.
Secara tak sadar, Pierre sedang membuat kehancuran untuk hidupnya di masa mendatang. Kehancuran yang tak pernah Pierre bayangkan sebelumnya.
Pagi hari ini Madeline masih setia di dalam kamarnya, mengabaikan Pierre yang saat ini sedang menikmati kopi yang ia buat sendiri. Ia sudah mulai bisa memutuskan akan apa yang ia lakukan saat ini.
Rasa sakit karena pengkhianatan Pierre serta janji-janji manis Pierre membuat Madeline kecewa dan enggan untuk bersitatap dengan Pierre.
Ya, Madeline memilih untuk mengakhiri semua. Berada di dalam hubungan seperti ini membuat Madeline hampir kehilangan kewarasan. Perselingkuhan adalah hal yang tak bisa di untuk di maklumi bagi Madeline, rasa sakitnya masih terasa. Ia sebagai pasangan Pierre merasa tak di hargai.
"Mungkin dengan berpisah kita bisa menemui jalan kita masing-masing, Pierre." gumam Madeline yang sudah bertekad ingin mengakhiri pernikahan ini.
__ADS_1
Perceraian adalah jalan yang harus ia tempuh kali ini, meskipun ia sendiri tak yakin jika hal ini harus terjadi. Tapi Madeline akan lebih menderita jika harus bertahan di pernikahan ini dan menyaksikan Pierre yang berselingkuh dengan mantan kekasihnya.
Madeline kembali mengajukan cuti untuk beberapa hari. Ia akan mengajukan permohonan perceraian di pengadilan.
"Tak ada yang bisa lagi aku pertahankan untuk hubungan yang sudah dari awal tak di harapkan ini." Madeline merutuki kebodohannya kali ini. Harusnya saat ia bisa melawan dan meminta bantuan para sepupunya agar bisa terlepas dari rencana yang Pierre buat.
Tapi dengan polosnya Madeline memilih untuk masuk ke dalam rencana yang Pierre buat, hingga akhirnya ia sendiri terjebak seperti ini.
"Mungkin dengan bercerai akan membuat kita bisa menemukan bahagia masing-masing, Pierre." ucap Madeline sambil menyisir rambut lurusnya. Matanya tampak berkaca-kaca dan sedikit bengkak karena semalam suntuk ia habiskan hanya untuk menangisi pria tak berperasaan seperti Pierre.
Madeline membuka pintu kamar yang ia tempati di apartment milik Pierre, menengok dan memastikan bahwa Pierre sudah berangkat bekerja.
Madeline mengendarai mobil miliknya yang ada di blok parkiran apartment, ia melajukan mobilnya menuju pengadilan untuk mengajukan gugatan cerai. Ia sebenarnya ragu melakukan hal ini, tapi ini adalah sebuah keputusan yang harus Madeline ambil daripada ia harus merasakan sakit karena pernikahan ini.
Tangan Madeline langsung berkeringat, degup jantungnya terus berdetak tak karuan.
__ADS_1
"Kau pasti bisa, Madeline. Lawan rasa takutmu," Madeline terus memberikan afirmasi pada dirinya sendiri.
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam untuk mendaftarkan gugatan, Madeline pun keluar dengan membawa berkas yang akan ia dan Pierre tanda tangani sebelum nantinya ia serahkan kepada pengacara yang akan mengurus perceraian keduanya.
"Aku harus ke rumah sakit untuk membicarakan hal ini pada Tuan Spencer." Madeline memasuki mobilnya, memilih untuk mendatangi rumah sakit terlebih dahulu untuk berbicara kepada Tuan Spencer yang tak lain ayah mertuanya.
Mengenai keputusan yang Madeline ambil saat ini. Daddy Garry belum mengetahuinya sama sekali. Toh, Madeline sudah bisa pastikan pria paruh baya itu akan mengetahui dengan sendirinya. Mengingat begitu luasnya koneksi yang di miliki Daddy-nya itu.
Sebelum Madeline ke pengadilan, ia sendiri sudah menghubungi pengacara yang akan mengurus perceraian dengan Pierre. Sebelumnya Madeline sudah mengutarakan niatnya itu melalui panggilan telepon sebelum keluar dari apartement.
Mobil yang di kendarai Madeline pun sampai di parkiran rumah sakit. Sengaja Madeline menutupi wajahnya yang sembab karena menangis sejak malam tadi, ia melangkahkan kakinya melewati lorong rumah sakit.
Tak lupa juga Madeline menyapa rekan kerjanya yang berpapasan dengan dirinya. Hingga dirinya bertemu dengan Pierre, namun Madeline cuek saja dan memilih untuk berlalu meninggalkan pria yang sejak tadi menatapnya itu.
"Bisa-bisanya dia mengabaikan aku," Pierre merasa kesal sekali dengan Madeline yang begitu acuh padanya.
__ADS_1
Pierre yang acuh dan egois tak sadar dengan perbuatannya yang cukup menyakiti Madeline begitu dalam.
"Mungkin dia masih terkejut mengetahui aku yang masih menjalin hubungan dengan Yara," pikir Pierre. Ia langsung kembali ke ruangan hematologi untuk menangani pasien penderita hemofilia yang ia tangani langsung.