
Sejak Dinner malam itu, hubungan Madeline dan Pierre mengalami perkembangan pesat. Keduanya jadi sering berbagi kamar dan tidur bersama. Meski tak ada hal yang lebih dilakukan oleh keduanya, tapi itu adalah perkembangan yang luar biasa untuk hubungan suami-istri itu.
Seperti saat ini, Madeline tengah mempelajari ilmu baru di dunia onkologi. Membuat Madeline harus berada di dalam kamar Pierre.
"Banyak sekali ilmu yang harus aku pelajari." keluh Madeline sambil mengucek matanya yang kini terus menatap layar komputer.
Pierre berjalan mendekati madeline, ia tahu wanita itu mulai mengalami kesulitan.
"Apa yang ada sulit?" tanya Pierre.
Madeline mendongak menatap wajah Pierre yang berada di belakangnya.
"Aku hanya bingung dengan yang ini." tunjuk Madeline ke arah layar komputer.
Pierre pun mengangguk,"Biar aku yang jelaskan semuanya." ia menjelaskan satu persatu pada Madeline, dengan sabar pria itu menjawab semua pertanyaan Madeline.
__ADS_1
Netra wanita itu terus menatap layar komputer milik Pierre, sesekali menguap karena kantuk yang mulai menyerang.
"Kalau ngantuk bisa kau lanjut besok lagi, jangan di paksa." tegur Pierre saat berkali-kali melihat Madeline yang berusaha membuka matanya.
"Sebentar lagi selesai, tanggung!" seru Madeline sambil memeluk boneka yang ada di pangkuannya itu.
Pierre berdecak saat melihat sisi madeline yang keras kepala,"Ck, masih ada hari esok. Ilmu takkan basi jika kau tinggal beristirahat."
"Lagipula percuma, karena takkan nyangkut ke otakmu." imbuh Madeline. Di saat otak memberi perintah untuk beristirahat, maka hal terbaik yang dilakukan ada tertidur.
"Sudah tahu mengantuk, masih saja di paksakan." gerutu Pierre sambil berjalan mendekati ranjang miliknya. Ia melepas sendal yang masih ada di kaki Madeline dan juga menyelimuti tubuh wanita agar tidurnya lebih nyenyak.
Sementara Pierre, ia memilih untuk membereskan semuanya terlebih dahulu, lalu mengecek jadwalnya besok hari.
"Ternyata besok adalah hari liburku." gumam Pierre sambil mematikan ponselnya itu.
__ADS_1
Malam adalah waktu tenang menurut Pierre, pria itu bisa mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian di sibukkan dengan berbagai pekerjaannya.
Sudah satu bulan hubungannya dengan Madeline sedekat ini, di tambah dengan segala perhatian yang di berikan oleh wanita. Namun tetap saja, kenapa dirinya tidak dapat melupakan Yara yang terus memenuhi hati dan pikirannya itu.
Di tambah, wanita itu semakin terang-terangan untuk mendekati dirinya. Penolakan yang dirinya berikan seakan tak membuat wanita itu menyerah, namun wanita itu semakin menjadi dan semakin intens mendekati dirinya..
Pierre menatap wajah damai Madeline, wanita itu tidur dengan lelap sambil memeluk boneka yang katanya adalah pemberian dari Daddy-nya saat itu.
"Jika sedang terlelap seperti ini kau terlihat menggemaskan, tapi lain cerita jika sudah membuka mata. Rasanya ingin sekali aku menelanmu hidup-hidup saat itu juga." gumam Pierre sambil merapikan anak rambut Madeline yang terlihat berantakan.
Lalu pria itu merebahkan tubuhnya di samping Madeline sambil menatap langit-langit kamar, Pierre banyak berpikir akan kejadian akhir-akhir ini yang seakan memporak-porandakan hidupnya saat ini.
Bukan cuma tentang Yara saja, namun tentang Madeline yang terlihat memiliki ketertarikan padanya itu. Sungguh! Ini bukan mau Pierre, hanya saja dirinya terlalu egois dan termakan gengsi hingga harus berakhir seperti ini.
"Tak ada habisnya aku memikirkan ini semua. Sudahlah! Lebih baik aku beristirahat saja." Pierre mencoba memejamkan mata agar segera terlelap.
__ADS_1