
Madeline bingung harus mengatakan apa. Ia belum bisa merasakan jatuh cinta seperti apa, mengingat ini adalah kali pertama ia menjalin hubungan.
"Entahlah, aku sendiri tak bisa menyimpulkan hal itu. Tapi aku merasa tak rela jika Pierre begitu memperhatikan Yara, hatiku panas melihat hal itu." jelas Madeline dengan sejujurnya.
Mendengar jawaban dari Madeline, membuat Piero sudah bisa menyimpulkan bahwa sepupunya sudah bermain hati dengan suaminya itu.
Hal itu tidak salah, hanya Piero tak ingin Madeline di sakiti.
"Itu artinya kau sudah memiliki perasaan dengan pria itu, Maddy." jawabnya dengan mengulas senyum dari bibir pucatnya. Wajar saja, toh pria itu sama sekali tak bisa masuk makanan hingga pada akhirnya harus kena infus.
Madeline hanya mengedikkan bahu,"Bisa jadi, aku terlalu bodoh untuk hal percintaan." jawabnya dengan apa adanya.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
"Masih bingung, Piero. Beri aku sebuah saran." Madeline benar-benar kuno jika di ajak berbicara tentang percintaan.
Tak ada sahutan dari sepupunya, sepertinya pria itu tengah berpikir sekaligus meminta saran dengan istrinya.
__ADS_1
"Bisa aku tanyakan sesuatu padamu?" tanyanya.
"Tentang?" tanyanya dengan jantung yang berdebar hebat.
"Saat kau meminta Pierre untuk berpisah, bagaimana dengan hati dan Pikiranmu saat itu. Apa mengatakan hal yang sama, atau saling bertentangan?" tanyanya.
Jika di tanya hal seperti itu, Madeline sudah pasti menjawabnya dengan jujur. Tak peduli jika dirinya di bilang terlalu polos, toh ia juga manusia sempurna yang harus mengetahui segalanya.
"Pikiranku meminta untuk menyerah, namun hatiku menyangkal hal itu. Karena hal itu juga membuat aku bimbang hingga saat ini."
Piero mengangguk,"Ikuti kata hatimu, berhentilah jika ia berkata lelah dengan semua itu."
"Aku tahu kau lelah dengan semua itu, ingin mengakhirinya. Namun di sisi lain kau tak rela jika hal itu terjadi."
"Aku sarankan padamu, dengarkan kata hatimu. Karena yang merasakan itu semua adalah kau! Aku hanya memberi masukan seadanya." Piero terus mengutarakan pendapatnya pada Madeline.
Madeline mengerti, mungkin memang ia harus memberikan kesempatan sekali lagi untuk Pierre. Dan juga mengetahui tentang hatinya saat ini.
__ADS_1
Benar juga kata Piero, jika sudah tak di hargai dan selalu di buat kecewa memang mundur adalah jalan terbaik.
"Baiklah, terima kasih atas saranmu." ucapnya dengan tenang. Karena uneg-unegnya telah tersampaikan pada sepupunya.
"Ingat pesanku! Jangan di paksa jika memang sudah tak sanggup. Kau berhak bahagia dengan versimu sendiri."
Madeline mengangguk,"Baik, thank's. Maaf sudah menganggumu." ucapnya yang kemudian mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak.
Ya, madeline sudah memutuskan bahwa ia akan mencoba berjuang untuk meluluhkan hati Pierre. Meski sebenarnya ia tak yakin, namun mendengar dari Piero juga tak ada salahnya.
"Mungkin ini terkesan cepat, tapi apa aku salah jika ingin berusaha mendapatkan cinta dari suamiku." Madeline bermonolog seorang diri.
Madeline hanya seorang wanita, mahluk tuhan berhati lembut. Mungkin ia bisa bersikap biasa saja, namun tidak dengan saat ini.
Secara tak langsung Yara mulai kembali masuk di kehidupan Pierre. Menjalani biduk rumah tangga dengan Pierre selama tiga bulan ini, ada beberapa kebersamaan yang terjalin di antara keduanya.
Dan Madeline juga tidak menampik, jika dirinya juga telah ada rasa dengan Pierre.
__ADS_1