My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 66 | Pukulan


__ADS_3

Pierre memilih untuk menyudahi pertemuannya dengan Yara, ia tak mungkin membantah setiap ucapan Daddy-nya dan hal itu terbukti dari permintaan pria itu yang memintanya untuk menikahi Madeline saat itu.


"Kita sudahi pertemuan ini, Yara. Daddy memintaku untuk segera menemuinya," Pierre menggandeng tangan Yara untuk segera meninggalkan taman.


Mendengar ucapan Pierre membuat Yara mendesah kecewa, baru saja ia menghabiskan waktu dengan prianya namun hal itu harus di ganggu dengan permintaan tuan Spencer.


"Apa tak bisa kita menghabiskan waktu lebih lama lagi, Pierre?" tanya Yara dengan wajah penuh harap.


"Tidak bisa, kau tahu sendiri seperti apa orang tuaku, Yara. Ku harap kau mengerti posisi kita saat ini," Pierre harus membuat Yara mengerti akan posisinya saat ini. Pierre memiliki istri, begitupun dengan Yara yang belum resmi bercerai dari Alois.


Pierre tak ingin hubungan keduanya sampai di ketahui banyak orang sebelum akhirnya ia akan memutuskan siapa yang akan di pilihnya. Begitupun dengan Yara, mau tak mau harus menuruti permintaan Pierre, meskipun sebenarnya ia ingin sekali menghabiskan waktu lebih lama bersama Pierre.


"Baiklah, apa setelah ini kita masih bisa bertemu?" tanya Yara.


Pierre mengangguk, ia sebenarnya juga tak ingin pergi. Hanya saja ancaman Tuan Spencer begitu mengerikan baginya,"Akan aku usahakan setelah ini, Yara."


"Terus aktifkan ponselmu, Pierre. Kita akan sering bertukar kabar setelah ini." ucap Yara.


"Ya, akan aku usahakan."

__ADS_1


Pierre dan Yara pun mulai berjalan meninggalkan taman, sebelum ke mansion Spencer, Pierre terlebih dahulu mengantar Yara ke tempat tinggalnya terlebih dahulu, mengingat wanita itu tidak membawa kendaraan sendiri.


"Hati-hati di jalan, Pierre." Pesan Yara sebelum turun dari mobil.


"Tentu, setelah ini beristirahatlah, aku akan menghubungimu setelah dari mansion Daddy."


Sebelum Yara turun dari mobil, wanita itu mengecup pipi kanan Pierre terlebih dahulu.


"See you,"


Pierre membeku, ia benar-benar tak bisa menjabarkan semuanya saat ini. Antara terkejut, bahagia dan rasa bersalah menyatu dalam dirinya.


"Apa yang aku lakukan ini semua adalah kesalahan? Tapi aku masih ingin berhubungan dengan Yara." gumamnya sambil menatap Yara yang sudah mulai memasuki tempat tinggalnya.


"Oh god! Bisa-bisanya aku melupakan janjiku." sebenarnya tak ada hal yang di bicarakan pagi tadi bersama Madeline, hanya saja saat mereka sepakat untuk menjalani hubungan baru, Pierre sendiri yang berinisiatif untuk itu.


Pierre melirik jam yang melingkar di tangannya,"Sudah malam, itu artinya Madeline sudah pulang sejak tadi."


"Baiklah, untuk saat ini mungkin aku harus ke mansion Daddy terlebih dahulu."

__ADS_1


"Tapi apa aku harus memberitahukan kepada Madeline? Tidak! Pasti wanita itu akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan dan itu membuatnya tertekan." Setelah Pierre berperang dengan pikirannya sendiri, ia memutuskan untuk segera ke mansion Spencer tanpa memberitahu Madeline terlebih dahulu.


Toh, setelah ini ia bisa menggunakan alasan itu jika Madeline menanyakan dirinya.


Mobil yang di kendarai Pierre melaju dengan kencang menuju mansion Spencer, ponselnya terus berbunyi hingga membuatnya menepi terlebih dahulu.


"Aku sedang di perjalanan, Dad. Tunggu sebentar." Pierre langsung mematikan sambungan teleponnya dan kembali melanjutkan perjalanan.


Membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai ke mansion Spencer dari tempat tinggal Yara. Memang tak jauh, hanya saja ia harus mencari jalan yang tak membuatnya di curigai jika habis mengantar wanita itu.


Pierre segera memarkirkan mobilnya di halaman mansion, ia langsung keluar dari mobil dan berjalan memasuki mansion.


"Dimana Daddy?" tanya Pierre pada salah satu maid yang menyambut kedatangannya.


"Ada di ruang kerja, tuan. Anda bisa langsung menghadap kepadanya." jawab Maid yang ada di mansion Spencer.


Pierre tak menjawab apapun, pria itu langsung bergegas menuju ruang kerja milik Daddy-nya yang letaknya tak jauh dari kamar miliknya.


Ia tidak menaiki tangga atau lift, mengingat kamar yang di tempati oleh Pierre berada di lantai satu.

__ADS_1


Pierre mengetuk pintu ruangan terlebih dahulu, hingga terdengar suara Tuan Spencer yang memintanya untuk masuk. Pierre membuka handle pintu dan mendorongnya perlahan, baru saja Pierre melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tuan Spencer, sebuah pukulan mendarat di wajahnya.


BUGH!


__ADS_2