
Setiap harinya, Madeline selalu melakukan hal yang sama untuk Pierre. Membawakan bekal untuk pria itu, Pierre menerima saja dan tak banyak berkomentar. Dan yang lebih membahagiakan lagua, makanan yang di buat oleh Madeline selalu habis tak bersisa. Hal itu tentu membuat Madeline senang, karena secara tak langsung Pierre menghargai usahanya.
Madeline seakan tak kenal lelah untuk selalu membuatkan bekal untuk Pierre, seperti siang ini. Kebetulan Madeline ada shift siang. Sebelum berangkat kerja, Madeline mempersiapkan bekal untuk dirinya dan Pierre terlebih dahulu.
"Ternyata seperti ini rasanya menjadi istri." gumam Madeline sambil memotong bawang.
Wanita itu tidak pernah mengeluh kelelahan ataupun kecapekan, Madeline menikmati peran nya sebagai seorang istri yang melayani suaminya dengan baik.
Hal serupa juga dilakukan oleh Pierre, bedanya pria itu lebih irit bicara dan tak banyak bersuara.
"Apa Pierre masih tertidur?" Madeline kembali bergumam sambil memasak sup brokoli untuk dirinya dan Pierre.
"Pierre," panggil Madeline dengan suara keras, mengingat saat ini dirinya berada di dapur untuk memasak.
Namun Pierre tak kunjung menghampiri Madeline, hingga mau tak mau membuat Madeline datang menghampiri kamar pria itu.
Meski mereka telah sepakat untuk membuka hati, namun keduanya masih tidur di kamar terpisah. Sambil meyakinkan perasaan mereka sudah sama-sama saling bertautan.
Madeline terlebih dahulu mematikan kompor, setelah itu ia berjalan menuju kamar Pierre. Kamar pria itu masih tertutup, hingga membuatnya mau tak mau mengetuknya terlebih dahulu. Lagi dan lagi tak ada sahutan dari Pierre, hingga membuat Madeline langsung masuk ke dalam.
Netra Madeline menatap ranjang yang Pierre tempati. Terlihat sangat berantakan, di tambah dengan beberapa jurnal kedokteran milik pria itu yang masih ada di lantai.
"Bisa-bisanya kau tidur dengan kondisi kamar berantakan seperti ini, Pierre." gerutu Madeline sambil merapikan kamar milik pria itu. Untungnya, keduanya masih memiliki banyak waktu yang tersisa sebelum akhirnya nanti mereka berangkat bekerja.
Melihat kamar Pierre berantakan, membuat Madeline teringat dengan kamar kedua sepupunya yang selalu seperti ini. Selalu berantakan! Bedanya Raiden berantakan dengan berbagai cemilan di kamar miliknya, sedangkan Piero berantakan dengan berbagai foto-foto sahabatnya.
"Kenapa para pria selalu suka dengan suasana kamar yang berantakan," kesal Madeline sambil membuang beberapa bungkus cemilan yang berserakan di lantai.
"Oh tuhan! Bagaimana jika nantinya kau memiliki anak, Pierre. Bisa-bisa nanti anakmu bermain dengan kumpulan sampah di kamarmu," tak henti-hentinya Madeline menggerutu.
Hingga membuat dirinya tak sadar, sudah lima belas menit berlalu dirinya membereskan kamar Pierre yang berantakan. Lalu wanita itu menghampiri ranjang Pierre dan duduk di sudut ranjang untuk membangunkan pria itu.
"Pierre... Bangun, hari sudah siang." ucap Madeline sambil mengguncangkan tubuh pria itu.
__ADS_1
Namun sang pria tidak juga terbangun, hingga membuat Madeline terus melakukan hal yang sama. Tak juga bangun, akhirnya Madeline pun memiliki ide yang cukup mainstream baginya. Yaitu membangunkan dengan cara berteriak di telinga pria itu.
"Pierre!! Bangun!! Di luar ada kebakaran." teriak Madeline tepat di dekat telinga Pierre.
Mendengar suara teriakan Madeline membuat Pierre langsung terbangun, atau lebih tepatnya langsung beranjak dari atas ranjang.
"Kebakaran? Dimana?" tanya Pierre dengan panik.
Melihat Pierre yang seperti itu, membuat Madeline tertawa keras. Bagaimana tidak? pria itu keluar dari kamar tidak menggunakan kaos, hingga memperlihatkan tubuh kekarnya.
"Kebakaran nya sudah pergi, kau telat bangun." ucap Madeline sambil tertawa keras. Bisa-bisanya Madeline memiliki ide seperti itu hingga mampu membuat Pierre kesal.
Terlihat dari wajah Pria itu yang sepertinya sedang menahan kesal.
"Kau...," geram Pierre. Tidur lelapnya terganggu karena Madeline.
Madeline hanya acuh, memasang wajah tanpa rasa bersalah. Toh, lagi pula siapa suruh sudah siang seperti ini masih tidur.
"Kenapa? Mau marah? Kau lihat, itu sudah jam berapa, huh?" cecar Madeline sambil menunjuk ke arah jam dinding yang ada di kamar Pierre.
Pierre sampai menghela napas panjang,"Untung saja kau istriku, jika petugas keamanan sudah ku pastikan kau akan ku komplain," ujarnya.
Madeline tak menggubris perkataan Pierre, wanita itu justru menatap ke arah Pierre yang masih berdiri di ambang pintu.
"Apa kau ingin terus di depan pintu dengan kondisi tidak mengenakan pakaian milikmu, huh?" tanya Madeline.
Pierre baru tersadar jika dirinya tidak mengenakan kaos. Ia tidak terkejut, toh bukannya pria sering seperti ini.
"Memang kenapa? Apa mata suci mu ternodai karena hal ini?" tanya Pierre dengan enteng.
Madeline menggelengkan kepala,"Tidak! Bahkan aku memergoki sepupuku ciuman dengan istrinya juga sering," jawabnya dengan polos.
Mendengar hal itu membuat Pierre menepuk jidatnya, kakinya terus berjalan mendekati Madeline.
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku biasa saja."
Pierre mengacungkan dua jempol tangan miliknya ke arah Madeline,"Good job! Setelah ini kau harus terbiasa akan hal itu, bila perlu kita bisa berciuman setiap harinya." ujar Pierre.
Kedua netra Madeline sampai membola mendengar hal itu,"Itu memang kau yang ingin seperti itu, dasar pria saiko." cibir Madeline sambil menjulurkan lidahnya.
Seperti itulah keseharian Madeline dan Pierre. Pertengkaran kecil selalu menjadi bumbu pelengkap bagi keduanya, hal itu pasti selalu ada dan takkan terlupakan.
"Dari pada kau terus di kamarku, lebih baik kau keluar dari sini. Aku akan bersiap untuk berangkat nanti," usir Pierre.
Madeline mengangguk,"Setelah kau siap, jangan lupa ke meja makan. Aku sudah memasak hari ini," balas Madeline sebelum akhirnya ia meninggalkan kamar Pierre.
Sementara Pierre, ia menatap kepergian Madeline dengan tatapan yang sulit di baca. Madeline selalu saja seperti itu, seakan wanita itu tak mengenal lelah.
Namun jika Pierre mengingat pembicaraan terakhir kalinya dengan Daddy Garry membuat pria itu teringat satu hal. Jika Madeline tengah berusaha berdamai dengan masa lalu dan membuka hati padanya.
Dari pada memikirkan Madeline yang tak ada habisnya. Membuat Pierre memilih untuk bersiap untuk bekerja, ia melangkahkan kakinya memasuki walk in Closet dan memilih pakaian yang akan ia kenakan hari ini.
Sedangkan Madeline, wanita itu memilih untuk bercengkrama melalui sambungan telepon dengan beberapa rekan sejawatnya yang tengah berjuang di meja operasi. Madeline memberikan semangat dan dukungan.
Madeline tak perlu bersiap. Toh, saat ini dirinya sudah siap dan hanya tinggal mengganti pakaian dan tak lupa dengan jas putih kebanggaannya.
Kembali lagi ke Pierre, pria itu saat ini sudah selesai membersihkan diri di kamar mandi setelah menghabis waktu satu jam lamanya. Handuk melingkar di pinggang Pierre, pria itu berjalan memasuki walk in closet.
Saat Pierre tengah memakai baju, suara dering dari ponsel miliknya membuat pria itu menghentikan aktivitasnya dan mengambil ponsel milikinya di atas meja miliknya.
*1 pesan tak terbaca.
From : Nayara Eliza Ludwig
To : Pierre.
__ADS_1
Pierre, apa kabar? Apa kau hari ini sibuk? Bisa kita ketemu, ada hal yang ingin aku sampaikan*.