My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 96 | Meninggalkan Los Angeles


__ADS_3

Hari sudah mulai menjelang pagi, Madeline baru saja selesai lari pagi di dekat mansion Eduardo yang terbilang luas. Pasalnya, mansion itu langsung mengarah ke jalan raya.


Semenjak dirinya menjadi Dokter, jarang sekali ia meluangkan waktu untuk lari pagi. Ia hanya menghabiskan waktu dengan yoga maupun gym. Itupun jika sedang ingin saja.


"Kapan lagi aku bisa menikmati pagi sehangat ini setelah beberapa tahun sibuk berkarier," gumam Madeline sambil menyeka keringatnya dengan handuk yang melingkar di lehernya.


Madeline kali ini tak sendiri, ada Raiden yang menemaninya saat ini. Pria itu saat ini sedang membeli roti untuk mengganjal perut keduanya yang mulai keroncongan.


"Maddy." Raiden berlari menghampiri Madeline yang setia menunggunya.


Madeline menoleh, melihat pria yang berlari kearah sambil mengulas senyum. Oh damn! Raiden jika tersenyum membuat kadar ketampanan naik berkali-kali lipat, bahkan di banding dengan Piero. Raiden juga tak kalah tampan, hanya saja Raiden sedingin antartika dan tak tersentuh.


Andai saja Raiden bukanlah saudara sedarah, mungkin Madeline memilih Raiden untuk menjadi pasangannya. Terbukti, Raiden memperlakukan seorang wanita layaknya seorang ratu. Tak hanya pada dirinya, kadang Abella pun juga di perlakukan dengan baik oleh Raiden.


"Untukmu," Raiden menyerahkan roti dengan topping cinnamon kepadanya.


Madeline mengulas senyum, selain baik. Raiden juga begitu mengenal selera Madeline.


"Thank's, kau tetap yang terbaik," ucap Madeline.


Raiden hanya membalas dengan seulas senyum. Ia tak mampu mengatakan hal apapun pada wanita yang tak lain sepupunya itu.


"Nanti siang kita bisa langsung berangkat ke airport," Raiden memberitahu kepada Madeline tentang keberangkatan ke Milan.


Madeline mengangguk,"Piero barusan juga menghubungiku, dia juga mengatakan hal yang sama denganmu."


"Tapi sebelum ke airport aku ingin menemui pengacara dulu, bagaimana?" Kemarin memang pengacara yang Madeline pilih untuk menangani perceraiannya dengan Pierre sudah datang ke mansion, hanya saja kemarin ia lupa menyampaikan point penting kepada pengacaranya itu.


Raiden mengangguk,"Boleh, nanti aku yang akan menemanimu." jawabnya.

__ADS_1


"Apa kau tak sibuk? Dari kemarin kau tidak bekerja dan selalu ada di mansion, ada apa?" tanya Madeline yang merasa keheranan dengan sepupunya itu.


"Tidak, aku sedang ambil cuti. Libur tidak membuatku miskin, bukan?"


Madeline terkekeh mendengarnya,"Benar juga, kalau begitu ayo kita pulang. Aku harus segera bersiap." ajak Madeline.


Raiden menganggukkan, pria itu menggandeng tangan Madeline. Ia memang biasa melakukan hal itu sejak dulu, dan tentunya Madeline tak keberatan akan hal itu.


Sementara di sudut jalan, seseorang di dalam mobil menatap dengan tajam ke arah Madeline yang terlihat begitu bahagia bersama seorang pria. Siapa lagi jika bukan Pierre, maksud hati ingin membeli sarapan, justru ia harus di hadapkan dengan sesuatu yang membuat panas mata dan hatinya.


"Pantas saja kau meminta cerai, ternyata kau memiliki hubungan dengan pria lain," geram Pierre. Nafsu makan Pierre mendadak hilang, pria itu melajukan mobilnya meninggalkan kawasan dimana Madeline lari pagi bersama Raiden.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Aku buktikan bahwa aku bisa bahagia dengan pilihanku," Pierre meluapkan emosinya dengan mengendarai mobil dengan kebut-kebutan. Persetan jika dirinya harus kena tilang nantinya. Yang jelas, hatinya sedang panas, pikirannya tengah kalut saat ini.


Siang hari pun tiba, Madeline menuruni anak tangga sambil membawa koper yang ada di kanan kirinya. Wanita itu akan segera bergegas menuju airport untuk berangkat ke Milan.


Semua urusan di Los Angeles sudah selesai, untuk masalah perceraiannya Madeline serahkan kepada keluarganya. Ia hanya ingin terima beres saja tanpa perlu bertemu dengan Pierre.


Madeline mengangguk,"Sudah."


"Ayo berangkat, aku tunggu di mobil," Raiden berjalan lebih dulu meninggalkan Madeline, pria itu menuju ke parkiran untuk menaruh koper Madeline di dalam mobil.


Raiden hanya mengantar sampai airport saja, tidak sampai ke Milan. Karena ada urusan mendadak yang tak bisa di tunda sama sekali.


Madeline menatap sekeliling mansion Eduardo,"Semoga aku bisa kembali ke mansion ini lagi dengan lembaran hidup yang baru," gumam Madeline.


Madeline menatap ke arah Daddy-nya yang baru saja datang dari arah taman mansion Eduardo. Pria paruh baya itu terlihat rapi, hanya saja saat ini ia mengenakan pakaian santai yang membalut tubuhnya.


"Dad," panggil Madeline dengan suara yang terdengar lirih.

__ADS_1


Madeline memeluk pria yang telah merawatnya sejak terlahir ke dunia itu dengan erat.


"Aku akan pergi, Dad. Aku akan selalu merindukanmu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Pria paruh baya itu hanya mengulas senyum tipis,"Kau ini bicara apa, tak perlu bersedih. Dad akan selalu meluangkan waktu untuk menjengukmu nanti,"


"Tapi jauh, Dad. Aku tak ingin kau kelelahan nantinya," tersirat sebuah kekhawatiran dari suara Madeline saat berbicara. Ia hanya tak ingin selalu merepotkan Daddy-nya.


"Aku sudah terbiasa perjalanan jauh, putriku. Ayo, kali ini Dad yang akan mengantarmu sampai ke Milan."


Madeline yang mendengarnya pun langsung berbinar matanya,"Seriously?"


Daddy Garry mengangguk,"Yes."


Madeline dengan gembira menggandeng tangan Daddy-nya dan membawanya keluar dari mansion Eduardo untuk segera berangkat ke airport.


Membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk sampai di airport, hingga mobil yang di kendarai Raiden sampai di tempat tujuan.


Raiden menurunkan koper Madeline, lalu membawanya sampai ke dalam airport.


"Jaga dirimu baik-baik, selalu beri kabar dan jangan banyak sedih. Mukamu seram sekali jika kebanyakan menangis," canda Raiden.


Madeline menganggukan kepala,"Tentu, thank's untuk afirmasi positifnya, Raiden." Madeline pun memeluk Raiden sebagai tanda perpisahan buat keduanya.


Daddy Garry menatap ke arah Raiden,"Kami berangkat dulu, Raiden. Sampaikan salamku pada Daddymu." Pamitnya.


Raiden mengangguk, lalu melambaikan tangan ke Madeline yang mulai menjauh.


Madeline pun juga melakukan hal yang sama, wanita itu melambaikan tangan sambil menatap ke arah sekelilingnya.

__ADS_1


"Selamat tinggal Los Angeles, semoga ketika aku kembali kesini lukaku sudah sepenuhnya pulih," gumam Madeline sambil memasuki gate.


__ADS_2