
Madeline tidak menghampiri Pierre, ia hanya memotretnya dari jauh untuk di jadikan bukti jika sewaktu-waktu Pierre berusaha menyangkal semuanya.
Kecewa dan sedih sudah pasti Madeline rasakan, hanya saja dirinya masih belum sanggup bertindak apapun selain menangis dalam diam. Ia membutuhkan banyak bukti agar bisa membuat Pierre tak berkutik.
Madeline tak beranjak dari sana, hari ini ia akan mengintai Pierre. Melihat apa saja yang dilakukan oleh suaminya dengan Yara.
"Dari rumah beralasan kerja, nyatanya kau bertemu dengan mantanmu," ucap Madeline dengan retoris.
Sedangkan Pierre, saat ini sedang duduk bersama Yara. Ia menyandarkan kepala wanita itu di bahunya.
"Apa ada yang ingin kau katakan? Hingga mengajakku bertemu sepagi ini?" tanya Pierre.
Yara hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala,"Tidak, aku hanya sedang ingin bertemu denganmu."
"Apa kau sudah sarapan pagi?" tanya Yara sambil mengangkat kepalanya dari bahu Pierre dan menatap pria itu.
Pierre sendiri lupa dirinya sudah makan atau belum, mengingat ia begitu panik jika Madeline mencurigai dirinya.
__ADS_1
"Sepertinya sudah," jawabnya dengan asal.
Yara melihat wajah Pierre yang terlihat gusar dan penuh rasa gelisah,"Kau seperti orang yang sedang gelisah, Pierre. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Yara dengan penuh perhatian.
Pierre hanya menggelengkan kepala,"Tidak, aku hanya memikirkan pasien." Tanpa Pierre sadari, berbohong adalah hal yang sering ia lakukan saat dirinya menjalani perselingkuhan dengan Yara. ia seakan tak bisa membedakan mana benar maupun salah.
Yara begitu mengenal Pierre, ia tak langsung percaya dan terus mendesak Pierre untuk jujur.
"Apa sesulit itu untuk memintamu jujur, Pierre? Bukankah kita saat ini sudah menjadi sepasang kekasih. Ceritalah padaku!" pintanya namun dengan sedikit desakan.
"Kau tak perlu hal itu, aku kesini bukan untuk berdebat denganmu. Jangan membahas hal lain jika kita sedang menghabiskan waktu bersama," Pinta Pierre dengan nada dingin.
Bibir Yara sampai menganga lebar mendengar ucapan Pierre. Mungkin memang saat ini dirinya harus mengalah.
"Maafkan aku, Pierre. Bukan maksudku menekanmu," ucapnya dengan wajah bersalah yang di buat-buat.
Pierre mengangguk lalu mengelus pucuk kepala Yara,"No problem, ayo kita pergi dari sini. Aku tak ingin Madeline tahu akan hal ini." Pierre benar-benar tak sadar jika dirinya sedang di tatap tajam oleh Madeline.
__ADS_1
Madeline sebenarnya panas melihat hal itu, ingin rasanya menghampiri dan memberikan pelajaran pada kedua orang itu.
"Aku bahkan tak pernah merasakan hal seperti itu, padahal aku lebih berhak mendapatkan itu semua." gumamnya dengan lirih.
Madeline seakan mengesampingkan segala rasa kecewa dan harus berusaha terlihat baik-baik saja. Ia kembali mengikuti Pierre dan Yara yang masih belum menyadari keberadaannya.
Perlahan namun pasti, Madeline yang sedang tadi menunggu mobil milik Pierre meninggalkan taman pun seakan gak sabar menunggu orang yang tengah ia ikuti segera meninggalkan tempat tujuan.
"Apa yang mereka lakukan, kenapa harus selama ini," gumam Madeline yang mulai bosan menunggu.
Sengaja Madeline menaruh mobil yang ia kendarai
di parkiran luar agar memudahkan dirinya jika terjadi sesuatu.
Menunggu sekitar sepuluh menit lamanya, akhirnya mobil Pierre pun keluar dari parkiran taman menuju suatu tempat yang ia tidak ketahui.
"Aku harus segera mengikuti,"
__ADS_1