My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 24 | Kejadian di mansion


__ADS_3

Nayara Eliza Ludwig, wanita yang duduk di samping Alois dengan mengenakan gaun selutut berwarna soft peach. Pierre tahu, warna itu adalah warna kesukaan mantan kekasihnya.


Netra Pierre terus menatap ke arah Yara, hingga suara dehaman dari Alois membuatnya tersadar.


"Sudah puas kau menatap istriku, Pierre?" tanya Alois dengan seringai puas yang tercetak jelas di wajahnya.


Melihat wajah Uncle-nya yang seakan mengejek dirinya, membuat Pierre langsung mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan Alois.


Semuanya kini memulai makan malam dengan khidmat, sesekali baik Yara atau Pierre saling curi pandang. Hal itu tak luput dari Madeline.


"Hasil merebut kekasih keponakan sendiri saja, Bangga," cibir Pierre hingga membuat suasana ruangan yang menjadi tempat makan malam memanas.


Alois memang sedang menunggu hal seperti ini, ia akan menunjukkan sesuatu pada Pierre. Sebuah kebenaran yang tak bisa lagi ia tutupi kini.


"Merebut? Boleh juga kau sematkan itu padaku. Namun yang harus kau tahu, bahwa kini istriku telah mengandung anakku." ucapnya dengan bangga, lalu ia mengajak istrinya yang tak lain Yara untuk berjalan mendekati Pierre.


Yara berdiri dengan anggun, mengikuti langkah suaminya. Terlihat ada yang berbeda dengan penampilan Yara kali ini.


Ya, perutnya yang tampak membuncit. Hal itu bisa Madeline lihat, sepertinya kalau Madeline bisa tebak. Usia kehamilannya sekitar 12 minggu atau kurang lebih 3 bulan.


"Kau hamil?" tanya Madeline. Sementara Pierre mematung, menatap semua tak percaya.


Saat Yara ingin menjawab pertanyaan Madeline, ia langsung di bungkam oleh suara Alois yang berbicara.


"Ya, seperti yang kalian lihat. Istriku tengah mengandung benihku,"


"Dan kau tahu, kurang lebih enam bulan lagi aku akan menjadi seorang ayah," seloroh Alois dengan bangga. Seperti orang tak tahu malu, Madeline tentu mengamatinya. Jika kehamilan Yara tinggal 6 lagi, itu artinya kandungannya berusia 3 bulan, dan artinya Yara berselingkuh dengan Alois saat tengah berhubungan dengan Pierre.


"Berarti usia kandunganmu adalah 3 bulan, begitu?" tanya Madeline.


Yara mengangguk,"Ya," jawabnya.


"Dan itu artinya kalian berselingkuh? Kalian menjalin hubungan di belakang Pierre," jelas Madeline dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


Melihat tatapan tajam Madeline, membuat Yara tak berani mengangkat wajahnya. Ia terlalu malu mengungkapkan ini semua, secara tak langsung dirinya permalukan di tempat tuan rumah.


"Anggap saja seperti itu," jawab Alois. Di setiap pertanyaan yang di sodorkan Madeline untuk Yara selalu di jawab oleh Madeline.


Madeline kini menatap ke arah Alois,"Aku tidak bertanya padamu, Alois Jordan," gumam Madeline.


Alois menatap tajam ke arah Madeline, umur keduanya memang tidak terlalu jauh. Alois hanya berbeda kurang lebih 10 tahun dengan Madeline.


"Aku dan istriku satu paket. Jika kau bertanya padanya, aku yang menjawabnya," jelas Alois sambil menatap Madeline dengan mata elangnya.


Madeline tentu tak takut, ia kembali menatap Alois dengan sangat tajam. Bola matanya memancarkan aura berbeda kali ini, hingga Alois hanya bisa menelan saliva.


"Benar kata orang, jika jodoh adalah cerminan dari diri sendiri. Kalian berdua sama-sama cocok," tukas Madeline.


"Aku jika menjadimu, lebih baik aku pergi jauh darinya. Apa kau tak sadar, Yara. Dengan bangganya suamimu mempublikasikan hubungan gelap kalian di hadapan kami itu sama saja menghancurkan harga dirimu?"


"Dan kau, harusnya kau bersyukur mendapat pria sebaik Pierre. Bukan bermain api dengan pria bejat sepertinya," desis Madeline.


Pierre yang sejak tadi hanya menjadi pendengar pun angkat suara.


Pierre dapat melihat, jika Yara kini tengah menatapnya dengan berkaca-kaca. Menyampaikan maaf karena telah mengecewakan dirinya melalui raut wajahnya.


"Silahkan berasumsi sebebasmu, nona Madeline. Satu yang harus kau tahu, aku dan istriku menjalin hubungan gelap ini sudah satu tahun lamanya," ucap Alois yang berhasil memancing emosi Pierre.


Sementara, Tuan dan Nyonya Spencer hanya menjadi pendengar saja. Mereka belum menimpali, mengingat semua yang ingin ia bicarakan sudah tersampaikan melalui Madeline.


Pierre yang tak bisa lagi menahan rasa panas langsung berdiri dari kursi, menghampiri Alois yang kini menatap ke arahnya dengan puas.


"Kau benar-benar br*ng**k, Alois." maki Pierre yang melangkahkan kakinya mendekati Alois.


"Setelah merebut semua yang ku miliki, kau juga mengambil kekasihku, s****n!" raung Pierre, pria itu langsung menghadiahkan pria yang ia sebut uncle itu dengan bogem mentah.


Alois sampai terhuyung, melihat hal itu membuat Yara terpekik,"Sayang," panggilnya.

__ADS_1


Mendengar suara Yara yang memanggil Alois dengan sebutan sayang, membuat Pierre menghentikan pukulan yang ia layangkan pada Alois.


Ia menoleh ke arah Yara yang kini berada di hadapannya.


"Awalnya aku pikir kau melakukan ini semua karena terpaksa, namun nyata kalian telah menghadiahkan aku dengan sebuah bom waktu yang berisi kenyataan yang sulit aku terima saat ini. Selamat, kau berhasil menghancurkan segalanya," ucap Pierre sambil bertepuk tangan di hadapan Yara.


Yara menggelengkan kepala,"Pierre... Ini semua tidak seperti itu," jelas Yara.


"Tak ada yang perlu di perjelas, aku membenci semua ini. Termasuk kau," jelas Pierre.


Tentu apa yang ia ucapkan ini bertentangan dengan kata hatinya yang masih terukir nama Yara di dalamnya. Sebelum pergi dari hadapan Yara, Pierre kembali memukul Alois. Melampiaskan hatinya yang begitu sakit.


Saat tangan Pierre tengah mengudara, Madeline datang dan langsung membawa Pierre menjauh dari mereka.


Madeline mendorong tubuh Pierre hingga berbenturan dengan pilar mansion.


"Apa yang kau lakukan? Jangan mengedepankan emosimu jika semua masih bisa di bicarakan," tukas Madeline sambil menahan tubuh Pierre yang ingin menghampiri Alois yang tengah berusaha untuk bangkit.


"Dia pantas mendapatkan itu semua, Madeline!" teriak Pierre tepat di hadapan Madeline.


Madeline tersentak mendengar teriakan Pierre yang tepat di hadapannya. Namun yang terpenting saat ini, ia bisa menenangkan Pierre yang kini tengah di kuasai oleh emosi.


Madeline sampai memejamkan mata, menetralkan dirinya yang hampir terpancing emosi.


"Jika kau melakukan hal yang sama atau lebih, bukankah kau tak jauh berbeda dengan mereka?" tanya Madeline.


"Jika memang mereka berdua saling mencintai satu sama lain. Lepaskan dengan ikhlas, kau bisa mencari wanita seperti yang kau mau," saran Madeline. Madeline seakan mengesampingkan statusnya sebagai istri Pierre saat ini demi menenangkan pria itu.


"Kau berhak bahagia, jangan terlalu terpaku di masa lalu. Bangkitlah! Jangan hanya karena ucapan Alois yang begitu memprovokasi dirimu, membuatmu menjadi tak terkendali," imbuh Madeline.


Madeline memberanikan diri untuk menangkup wajah Pierre yang saat ini terlihat masih di kuasai emosi, sebelah tangan Madeline mengelus pipi Pierre.


"Jangan terlalu pusing untuk memikirkan gimana caranya balas mereka, hal yang perlu kau lakukan adalah terus menjalani hidup versi terbaikmu. Percayalah! Ada hukum tabur tuai yang akan bekerja," jelas Madeline. Ucapan Wanita itu membuat Pierre memejamkan mata, menetralkan emosinya.

__ADS_1


Benar kata Madeline, hukuman tidak hanya Di akhirat. Di dunia pun juga akan dapat balasan atau yang biasa di sebut karma.


__ADS_2