
Sejak kejadian tadi dimana Madeline Memergoki secara langsung Pierre dan Yara yang sedang bersama. Madeline memutuskan untuk kembali ke apartment, wanita itu tampak merapikan barang-barang miliknya yang ada di kamar Pierre, untuk ia pindahkan di kamar yang sebelumnya pernah ia tempati saat baru menikah dengan Pierre.
Bukan tanpa sebab, rasa sakit akan pengkhianatan seakan membunuh panca indera penglihatan Madeline. Ingin rasanya memberikan pelajaran untuk keduanya, hanya saja madeline tak ingin mengotori tangan-nya dengan perbuatan itu.
Madeline memilih untuk melampiaskan kesedihannya dengan cara menonton film sambil memakan semua cemilan yang ia beli di supermarket. Tak lupa beberapa minuman kaleng untuk melepas dahaga.
Ponsel Madeline juga terus berbunyi, namun ia tak juga menyentuhnya. Karena Madeline tahu siapa yang menghubunginya, karena kesal dan menurutnya menganggu, membuat Madeline memilih untuk mematikan ponselnya.
"Menganggu saja, bisa-bisanya mereka menipu setelah semua bukti yang aku miliki." Geram Madeline.
Jarum jam terus berputar, hingga tak sadar sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun tak ada tanda-tanda Pierre akan segera kembali.
"Benar-benar tak punya pikiran. Sudah aku tunggu tapi masih saja belum datang."
Madeline terus merutuki dirinya. Sudah jelas-jelas dikecewakan oleh Pierre, justru dengan bodohnya ia menunggu kedatangan pria itu.
"Apa jangan-jangan dia sibuk dengan Yara," Ah! untuk membayangkan saja Madeline tak sanggup.
Pintu apartment terbuka, Madeline sudah pasti tahu siapa yang datang. Wanita itu segera menatap ke arah kaca untuk melihat wajahnya yang terlihat kusut.
Madeline memolesnya sedikit agar tidak terlihat kusut, ia harus bisa bersandiwara di hadapan Pierre sampai ia tahu yang sebenarnya.
Madeline pun keluar dari kamarnya sambil membawa beberapa hadiah yang akan membuat Pierre takkan sanggup lagi berkata-kata.
"Kau sudah pulang? Apa pekerjaanmu begitu padat, hingga jam segini baru pulang?" cecar Madeline sambil membantu Pierre melepaskan jas putih yang melekat di tubuh pria itu.
__ADS_1
Pierre mengangguk lesu, ia menatap wajah Madeline yang terlihat begitu tenang. Tapi hal itu tentu membuat Pierre was-was, ia takut akan ada kejadian yang akan membuatnya tercengang.
Di tambah dengan senyuman Madeline yang terlihat mencurigakan.
"Apa kau kerasukan setan, Madeline?" tanya Pierre.
Madeline hanya menggelengkan kepala,"Tidak, aku hanya ingin tersenyum saja di depanmu. Apa aku salah?" tanya Madeline.
"Tidak, hanya saja kau terlihat berbeda."
Senyum miring tercetak jelas di wajah Madeline,"Yang berbeda siapa, kau atau aku?" tanya Madeline dengan penuh tanya, namun tatapan tajamnya terus mengarah kepada Pierre.
Pierre gelagapan, ia seperti terjebak dengan ucapannya sendiri,"Apa kau sakit? Kenapa hari ini kau tak masuk bekerja?" Ia justru mengalihkan pertanyaan Madeline, ia tak ingin Madeline mengetahui apa yang ia tutup rapat selama ini.
"Tidak, aku hanya malas bekerja." jawab Madeline dengan jujur.
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku, Madeline? Kau terlihat berbeda beberapa hari terakhir ini?" tanya Pierre.
Hah? Bukankah kebalik, harusnya yang menanyakan hal itu Madeline, bukan Pierre.
"Sembunyikan? Apa itu?" tanya Madeline yang memasang wajah heran.
"Aku tidak menyembunyikan apapun,"
"Harusnya aku yang bertanya padamu, Pierre. Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Madeline dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Sial! Pierre terjebak dengan pertanyaan sendiri. Ia seakan menyerahkan dirinya dalam bara api yang di beri percikan bensin.
"****! Kenapa harus seperti ini!" umpat Pierre.
Pierre tak kunjung menjawab hingga membuat Madeline kembali bersuara.
"Kenapa kau hanya diam? Apa tebakanku benar? Apa kau sedang menyiapkan alasan lain untuk menjawab pertanyaanku?"
Pierre menggelengkan kepala,"Kau berbicara apa, Madeline. Aku benar-benar tak mengerti." Pierre mengelak semua itu.
Mungkin bibirnya berkata lain, namun tidak dengan raut wajahnya yang terlihat begitu panik dan khawatir.
Hingga seringai tipis tercetak jelas di wajah Madeline,"Yakin tak tahu?"
Pierre mengangguk ragu, berharap apa yang ia tutupi selama ini tidak di ketahui Madeline. Ia tak bisa membayangkan seperti apa reaksi Madeline jika tahu semua ini.
"Ya, aku tak tahu." jawabnya dengan gusar.
Madeline tak menyangka Pierre masih juga menutup rapat semua yang Madeline telah ketahui. Bahkan sudah di pergoki secara langsung pun pria itu masih berusaha menyangkal.
Madeline berjalan mendekati Pierre sambil mengambil sesuatu dari saku celana hotpants yang ia kenakan.
"Baiklah aku akan memberitahu padamu." putus Madeline.
Brak!! Madeline melempar semua bukti yang sudah ia print di hadapan Pierre. Pierre tentu terkejut, namun rasa penasaran dan panik bercampur jadi satu.
__ADS_1
Dan benar saja, apa yang Pierre takutkan terjadi. Madeline memiliki bukti perselingkuhan dengan Yara.
"Ka-kau...,"